Bupati Menulis

CPNS (Pegawai Negeri)

BILA kita berbicara tentang pegawai negeri di Indonesia, pasti ingat buku Clifford Geertz. Lewat karya monumentalnya berjudul The Religion of Jawa, yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Ketiganya mewakili kebudayaan yang berbeda, menurut Geertz.

Priyayi menurut Geertz adalah elite pegawai negeri yang ujung akarnya di keraton. Pada pemerintahan masa lampau, priyayi adalah lapisan sosial yang meliputi raja dan kerabat. Namun, lambat laun penggawa raja serta yang duduk dalam dinas kerajaan juga disebut priyayi.

Ketika Inggris berkuasa dan Raffles menjadi gubernur jenderal (1811-1816), kebijakan landrent-system diterapkan. Bupati tak lagi sebagai penguasa tunggal otonom, melainkan sebagai pegawai yang digaji. Demikian juga pegawai kabupaten yang dulunya digaji oleh bupati kemudian menjadi pegawai pemerintah.

Sejak saat itu masyarakat punya peluang menjadi priyayi bila terpilih sebagai pegawai pemerintah. Sebelumnya pegawai merupakan jabatan turun-temurun. Basisnya bukan lagi darah bangsawan, melainkan lebih karena pendidikan. Dan, pemerintah kolonial menyiapkan pendidikan untuk mengisi jabatan-jabatan negeri. Meski awalnya yang bisa sekolah baru darah bangsawan.

Dengan semakin banyaknya lembaga pendidikan, peluang semakin terbuka untuk mengisi jabatan negeri. Tugas-tugas teknis dapat diisi siapa saja yang mampu. Seperti jabatan dokter, guru, mantri hewan, mantri kesehatan, dan lainnya.

Golongan priyayi sebagai kelompok sosial mempunyai ciri tertentu yang membedakan dengan rakyat kebanyakan. Ciri yang membedakan tidak hanya sopan santun dan bahasa, namun juga pakaian, bentuk rumah, kendaraan, dan sebagainya. Malah, saat itu oleh pemerintah kolonial diatur dalam undang-unadang.

Ketika Indonesia merdeka dari penjajahan, peluang jadi pegawai negeri semakin terbuka. Jabatan rendah sampai tinggi diisi warga pribumi. Yang dulunya tidak terbayangkan. Jabatan pemerintahan mulai tingkat daerah sampai pusat. Sayangnya, budaya priyayi masih melekat. Pegawai bukan melayani, tapi minta dilayani. Rekrutmen dan promosi pegawai melalui KKN begitu kental. Simbol jabatan masih dibawa sesuai tingkat jabatan. Seperti rumah dinas, kendaraan, dan tunjangan. Mulai jabatan terendah sampai tertinggi.

Berbagai program digulirkan untuk mengubah mental pegawai jadi melayani. Namun sulit. Budaya ingin dilayani telanjur kental. Didukung sistem pemerintahan sentralistik dan kebebasan yang dibelenggu. Program kampanye birokrasi melayani, seperti hanya hangat-hangat tahi ayam.

Jabatan pegawai negeri dianggap menarik sampai saat ini. Setiap pemerintah mengumumkan formasi baru, selalu diserbu peminat. Tahun ini saja, total kebutuhan sebanyak 676.733 formasi. Terdiri dari formasi CPNS 128.016 lowongan dan formasi PPPK 548.717 lowongan.

Total pelamar CPNS 2021 yakni 3.482.989 orang. Dan, yang menyelesaikan proses pendaftaran sebanyak 3.033.392. Sedangkan pelamar PPPK non-guru sebanyak 102.172 orang, dan peserta yang submit data 75.337 pendaftar.

Boleh jadi, semakin antusiasnya pendaftar di tengah pandemi Covid-19 itu karena melihat besarnya risiko bekerja di sektor swasta. Ketika pandemi, banyak yang kehilangan pekerjaan. Kalaupun masih bekerja, gaji rawan dipotong atau bahkan tidak menerima gaji.

Bandingkan dengan pegawai negeri. Tetap digaji penuh. Bekerja dari rumah. Dianggap lebih santai. Tidak mengandung risiko apa pun. Berprestasi atau tidak, bukan tuntutan utama bekerja. Namun, status sosial naik kelas menjadi mapan (kalau tidak boleh disebut priyayi).

Saya jadi ingat pertanyaan menteri saya Sofyan A. Djalil pada 2005. ‘’Pak Prawoto, mengapa seorang pegawai negeri itu bekerja santai?” Ditanya begitu, saya hanya diam membisu, karena bingung juga. Beliau kemudian menjawab sendiri.

‘’Begini. Seseorang itu kalau bekerja di swasta, kalau tidak sungguh-sungguh, dan suatu ketika kinerja perusahaan buruk atau bangkrut, maka akan kehilangan pekerjaan. Beda dengan pegawai negeri. Pegawai yang bekerja di sebuah lembaga, walau kinerjanya buruk, lembaga itu tidak akan bangkrut. Dan, tidak pernah dibubarkan. Biasa saja. Makanya pegawai negeri itu kerjanya santai.’’

Mudah-mudahan itu tidak berlaku bagi pendaftar CPNS saat ini. Jika masih ada sesi wawancara, dan bila ditanya motivasi menjadi pegawai negeri, jawaban mainstream-nya pasti ’’ingin mengabdi kepada nusa dan bangsa’’. Jawaban itu mudah-mudahan menjadi kenyataan di hari kemudian. (*/naz/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button