Bupati Menulis

Covid-19 Merajalela

KETIKA pemerintah melarang mudik, banyak yang protes. Pembatasan itu sampai saat ini dimaknai diskriminatif. Ditambah berita hoaks bertebaran, keputusan pemerintah menjadi makanan empuk kritik. Bahkan sumpah serapah. Kesempatan bagi yang berseberangan dengan pemerintah melancarkan kampanye menolak larangan mudik.

Tidak bisa dibayangkan jadinya bila tanpa larangan. Lha dilarang saja persebaran Covid-19 menggila luar biasa. Baik daerah asal maupun tujuan mudik. Pengalaman mengajarkan bahwa setiap liburan panjang peningkatan paparan sangat tinggi. Idul Fitri menyisakan duka. Penambahan dari minggu ke minggu terus naik. Di Magetan, puncaknya 14–20 Juni 2021 dengan penambahan mencapai 244 orang.

Semua dibuat kewalahan. Terutama tenaga kesehatan. Banting tulang menyelamatkan warga sakit. Varian Covid-19 Delta sangat ganas. Persebarannya sangat cepat hingga dua kali lipat. Juga, sangat mematikan. Bahkan menyerang balita. Kasus yang dulu jarang ditemui.
Di Magetan, ada tambahan 47 kasus baru pada 28 Juni. Di hari yang sama, sembilan pasien sembuh dan tiga meninggal. Total kumulatif 4.438 kasus. Sebanyak 337 pasien meninggal dan 248 masih isolasi. Tingginya kasus aktif dan kematian menjadi pekerjaan rumah.

Tindakan kuratif berupa penyediaan ranjang perawatan menjadi persoalan. Ada dua rumah sakit rujukan. Lalu, satu puskesmas disulap menjadi rumah sakit perawatan gejala ringan. Karena tingginya kasus terpapar, bed occupancy ratio (BOR) mencapai 80 persen. Dari 99 bed terisi 92. Di unit gawat darurat (UGD), delapan dari 12 bed telah terisi.

Pemerintah pusat memberi atensi terhadap tingginya angka persebaran dan kematian Covid-19. Pada 18 Juni, Panglima TNI, Kapolri, Menkes, dan kepala BNPB berkunjung ke Madiun. Saya ikut menjemput di Lanud Iswahjudi. Sebelum meninjau lapangan, rapat terbatas digelar. Semua memberikan arahan. Menkes menekankan disiplin protokol kesehatan. Juga mengingatkan penularan varian baru dua kali lipat yang perlu diwaspadai.

Covid-19 merajalela di Madiun Raya. Termasuk di Magetan. Lonjakan luar biasa terjadi di Kecamatan Lembeyan, Maospati, dan Sukomoro. Pemicunya kerumunan dan klaster hajatan. Ada 43 orang asal Kecamatan Lembeyan terinfeksi Covid-19 dari acara selamatan. Penularan terbesar dalam satu kegiatan di Magetan. Ini bukti betapa cepatnya penularan virus saat ini.

Warga yang tertular mengalami pergeseran. Di awal Covid-19 menyebar, kalangan pria yang banyak terpapar. Itu bisa dipahami karena mobilitasnya lebih besar. Namun, saat ini perempuan yang lebih banyak terpapar. Persentasenya 54 persen dibanding 46 persen. Bisa ditebak penularannya dari klaster keluarga.

Berbanding terbalik dengan yang meninggal. Pria 56 persen dan perempuan 44 persen. Didominasi usia 51–70 tahun. Mengapa perempuan lebih survive? Tentu perlu pembahasan, bahkan penelitian tersendiri.

Kepadatan penduduk menunjukkan mudahnya penularan. Kecamatan Magetan menjadi yang tertinggi. Kemungkinannya 17 dari 1.000 penduduk. Namun, kebalikan untuk angka kematian sebesar tujuh persen. Penduduk perkotaan relatif lebih terdidik dan dekat dengan fasilitas kesehatan. Sehingga, ketika kondisi kesehatan menurun, segera berobat ke rumah sakit.

Kalau ada pertanyaan, apa langkah yang perlu diambil? Jawabannya sederhana, yakni disiplin menerapkan prokes. Kita sering abai. Malah cenderung meremehkan. Tidak kalah pentingnya vaksinasi. Di Magetan, nakes yang divaksin 112,86 persen, pelayanan publik 103 persen, dan lansia 32 persen dari target masing-masing. Mengingat korban meninggal banyak dari lansia, vaksinasinya harus dipercepat. Sayangnya, daerah sangat tergantung pasokan pemerintah pusat.

Saat ini sedang demam Piala Euro 2020. Kalau melihat pertandingan di Hungaria, penontonnya penuh. Orang awam bisa jadi meragukan langkah dalam menangani Covid-19. Kondisi di Hungaria tidak terlalu jauh berbeda dengan di Indonesia. Tapi, mengapa penonton tidak pakai masker? Jangan salah. Lebih dari 50 persen penduduk Hungaria sudah divaksin. Penonton wajib menunjukkan bukti sudah vaksin dan tes PCR. Sehingga telah terjadi herd immunity.

Bandingkan dengan Magetan. Baru sekitar 10 persen dari jumlah penduduk 670.810 jiwa yang divaksin. Jauh dari tercapainya herd immunity. Sehingga bagi yang sudah divaksin harus tetap menerapkan prokes.

Mari menonton Piala Euro dengan menerapkan prokes. Jangan lihat jumlah penontonnya. Tapi, tonton dengan gembira. Sementara ini tidak usah nonton bareng. Jangan lagi ada pertanyaan, di Eropa boleh nonton di stadion tanpa masker, kenapa kita tidak? Kita tentunya tidak ingin Covid-19 merajalela akibat klaster baru Piala Euro dan setelah Idul Fitri. Jangan sampai terjadi. Saat ini kita sudah kewalahan. Sungguh! (*/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button