Bupati Menulis

Covid-19, Harus Menjadi Pengalaman

PANDEMI Covid-19, akhirnya giliran Indonesia yang juga kena. Dan Kabupaten Magetan sendiri, sampai tulisan ini dibuat, sudah sembilan orang yang terkena. Data terakhir penambahan satu karena meninggal dunia. Disertai penyakit penyertanya adalah jantung. Sumbernya sama. Almarhum yang meninggal terakhir, adalah mengikuti seminar di sebuah kota di Jawa Barat. Kebetulan almahum adalah warga Magetan yang bekerja di Jakarta.

Tentu di Magetan saat ini ada tiga tempat yang warganya positif Covid-19. Ketiga tempat tersebut yaitu, Dusun Panasan, Desa Mojopurno, Kecamatan Ngariboyo. Kemudian Kelurahan Kebonagung, Kecamatan Kota Magetan. Dan yang terakhir dari Desa Blaran, Kecamatan Barat. Tentu ketiga desa itu saat ini kita tetapkan sebagai physical distancing.

Wabah ini tidak hanya melanda Indonesia. Malahan virus yang berasal dari Wuhan-China ini telah menyebar hampir ke seluruh dunia. Oleh sebab itu, tentu masalah ini sudah menjadi masalah dunia. Ada berbagai cara dan variasi dalam menghadapi wabah ini. Dan setiap negara atau malahan daerah mempunyai karakteristik sendiri-sendiri. Sehingga dalam menghadapi wabah Covid-19 ini tidak salahnya kita harus belajar dari berbagai tempat agar kita bisa menarik pelajaran sekaligus melangkah dengan tepat.

Sering kita membaca cara Korsel dalam menghadapi wabah Covid-19 ini. begitu kasus positif ditemukan di Korsel pemerintah langsung mengambil langkah. Salah satu langkah yang diambil adalah memanggil semua perusahaan besar. Mereka diberikan penjelasan dan pengertian bahwa virus ini adalah masalah bersama dan harus dihadapi secara bersama. Tentu perlu uluran tangan semua pihak termasuk sektor swasta. Bukan semata-mata tugas dari pemerintah saja.

Tentu pemerintah Korsel belajar dari kasus sebelumnya. Respons cepat Korsel terhadap virus corona galur baru Covid-19 tentu merupakan hasil belajar dari bekas trauma di masa sebelumnya. Setelah terjadi wabah yang tak kalah besarnya yaitu Middle East Respiratory Syndrome (MERS) pada 2015. Kesigapan pemerintah Korsel hasilnya terlihat sampai dengan saat ini sudah terjadi penurunan yang luar biasa terhadap penyebaran virus ini. Yang juga tak kalah pentingnya peran serta masyarakat yang sangat luar biasa membantunya.

Ketika negara lain menerapkan cara lockdown, Korsel tidak. Yang diambil adalah physical distancing. Dan ini dipatuhi betul oleh warganya. Selain karena kaptuhan dan disiplin yang sangat terkenal di Korsel, juga ada sangsi pidana juga. Demikian juga masyarakat disediakan aplikasi untuk melawan virus ini dan bisa digunakan berbagai keperluan. Keuntungan dari Korsel yang menerapkan secara ketat kepemilikan nomer selular (pernah saya bahas pada tulisan terdahulu).

Sebenarnya kita juga bisa belajar dari pengalaman atau kearifan local bangsa ini. Ketika pada tanggal 26 Desember 2004 terjadi gempa dasyat di Aceh dan diikuti gelombang tsunami yang demikian banyak menelan korban jiwa, ternyata tidak terjadi di Pulau Simeulue. Tentu ini sangat mengherankan. Sedang letak Pulau Simeulue malahan berhadapan langsung dengan samudera.

Ternyata ada kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun yang disampaikan dalam bentuk cerita kepada generasi berikutnya. Cerita tersebut berisi, bahwa pada tahun 1907 terjadi gelombang pasang disertai ombak. Akibatnya sebagian besar kampung ditelan ombak. Namun sebelum peritiwa gelombang pasang yang menelan demikian cukup banyak koraban itu dimulai sebuah peristiwa..

Peristiwa tersebut adalah ketika terjadi gempa, air laut tiba-tiba surut. Tanpa disadari kemudian masyarakat berbondong-bondong mengambil ikan yang banyak menggelepar-gelepar di seluruh pantai. Namun ternyata dalam hitungan menit, air yang surut kembali dalam wujud gelombang besar dan kokoh dan menghancurkan apa saja yang ada di hadapannya. Tentu tak terelakkan  jatuhnya korban. Baik nyawa maupun harta benda. Peristiwa tersebut akhirnya tidak bisa dilupakan di pulau itu. Catatan kelam tersebut akhirnya diceritakan turun temurun menjadi kearifan lokal. Dan mengapa kemudian di pulau ini kecil sekali korban dalam peristiwa tsunami Aceh.

Demikian juga cerita tentang DIY. Bagaimana DIY sering sekali dilanda gempa dan juga erupsi Gunung Merapi. Ketika semua daerah di Indonesia sibuk menghadapi virus Covid-19, DIY malahan masalahnya ditambah erupsi Gunung Merapi. Namun karena masyarakat DIY sering menghadapi peristiwa demikian, dan peristiwa itu merupakan masalah bersama cara menyelesaikannya juga sangat terasa kebersamaannya. Ambil contoh ketika Covid-19 merebak termasuk ke DIY dengan sangat cerdas beberapa desa melakukan asolasi atau physical distancing mandiri. Sungguh tidak perlu aparat turun tangan menghalau atau menghimbau dan sejenisnya.

Demikian juga tempat wisata yang biasanya sangat ramai menjadi lenggang tidak ada orang berlalu-lalang. Tentu pengalaman negara lain seperti Korsel, atau kearifan lokal dalam negeri seperti Pulau Simeulue dalam menghadapi tsunami, serta DIY yang sering terjadi beberapa kali bencana baik gempa dan erupsi Gunung Merapi memberikan pelajaran berharga bagi masyarakatnya.

Kembali ke Covid-19 ini adalah masalah bangsa Indonesia. Dan ini merupakan masalah bersama. Kita pernah mengalami dan dihebohkan dengan flu burung, SARS, flu babi. tentu semua memberikan pelajaran kepada kita semua. Baik pengalaman baik dan buruk dalam menghadapinya. Tentu sudah semestinya pengalaman buruk tidak perlu diulang. Pengalaman baik bagaimana dalam menghadapi virus sebelumnya, harus menjadi peta jalan dalam memandu guna memutus rantai virus semacam Covid-19.

Memang pada penanganan Covid-19 berbeda dengan virus sebelumnya. Pada waktu itu media sosial (medsos) belum semasif seperti sekarang ini pemakaiannya. Malahan belum ada. Sehingga informasi relatif bisa mencerdaskan. Dengan adanya semacam medsos seperti sekarang ini antara informasi yang benar dengan kurang benar atau malahan menyesatkan ada dan beterbaran bersama-sama. Ini tentu menjadi masalah tersendiri bagi pembuat kebijakan.

Yang jelas, Covid-19 ini sudah menjadi masalah dunia. Juga tentu menjadi masalah kita semua. Cara menyelesaikannya harus dilakukan secara bersama-sama. Karena memang semua saling ada ketergantungan. Tidak ada artinya sebuah kebijakan tapi tidak ditaati masyarakatnya. Oleh sebab itu belajar dari berbagai negara, semua bersatu-padu dan bahu-membahu berperan serta menyelesaikannya.

Kalau wabah ini dianggap krisis, seperti diketahui dalam setiap krisis secara teoritik pasti akan menghasilkan pahlawan baru. Tentu dalam kasus wabah Covid-19 pahlawan baru itu bukan lagi nama perseorangan atau profesi tertentu saja. Namun pahlawan baru itu adalah masyarakat Indonesia yang telah bahu-membahu melawan virus yang demikian cepat meluas ini. Pengalaman menyelesaikan masalah ini hendaknya menjadi pengalaman kita semua. Apalagi dengan sukses kita bisa melewati wabah Covid-19. Bukankah menurut hemat saya kebahagiaan itu akan lahir bila kita dapat menyelesaikan setiap masalah dengan indah?

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button