Bupati Menulis

Covid-19 dan Krisis

KETIKA Wuhan-Tiongkok dilanda korona jenis baru Covid-19, semua negara tampak berharap tidak merembet ke negara masing-masing. Namun, kita lupa bahwa di dunia ini tidak ada negara yang tidak tergantung dan warganya tidak berinteraksi dengan negara lain.

Apalagi dengan perkembangan teknologi yang demikian maju. Kita tidak bisa bayangkan sebelumnya. Arus kecepatan perpindahan manusia dan barang ditopang teknologi, mengakibatkan cepatnya interaksi ini semua. Malahan kita menganggap lambat apabila sebuah peristiwa diterima dalam hitungan hari atau jam. Saat ini tuntutan adalah sepersekian detik.

Suatu saat ada sebuah seminar yang saya ikuti. Pemateri seorang pengusaha. Sekitar tahun 1990-an bercerita di suatu seminar tentang mobilitasnya. Waktu itu saya bisa dibuat terbengong-bengong. Kata pengusaha itu, suatu pagi masih sarapan nasi rawon di kantornya Surabaya. Kemudian siang sudah pertemuan bisnis di Singapura. Dan malamnya sudah makan malam dengan keluarga di rumah Surabaya. Tentu waktu itu peserta seminar dibuat terkagum-kagum.

Maklum, namanya teknologi informasi dan komunikasi seperti telekomunikasi masih menggunakan teknologi 2G. Kalau telepon pakai seluler ke luar kota yang telepon maupun menerima masih kena roaming. Demikian yang bisa naik pesawat hanya orang-orang yang punya. Mendapat cerita seorang pengusaha seperti itu menjadikan kita semua terkesima. Demikian semakin dekatnya sebuah tempat yang dahulunya tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Apalagi saat ini teknologi komunikasi sudah masuk ke 4G. Malahan sudah mau masuk ke 5G. Kecepatan informasi dan berkomunikasi demikian cepatnya. Demikian juga perpindahan arus barang dan manusia ditopang dengan teknologi ini demikian cepatnya. Bagaimana saat ini penerbangan langsung ke Eropa sudah bukan suatu hal aneh. Sebuah kewajaran. Dan, aneh apabila masih ada sebuah perjalanan yang memerlukan waktu lama.

Tahun 2015 saya pernah mengalami. Bagaimana dalam waktu empat hari saya sudah melakukan perjalanan keliling dunia. Lama perjalanan itu bisa dibagi dua. Dua hari untuk perjalanan. Dua hari di New York untuk memimpin delegasi Indonesia pada sidang World Summit International Society (WSIS) di markas PBB. Dari Singapura naik pesawat superjumbo maskapai SQ langsung ke New York hanya transit sekali di Frankfurt, Jerman. Dua jam transit, kemudian dilanjut langsung terbang lagi ke New York.

Setelah memimpin delegasi Indonesia pada sidang WSIS, kemudian pulangnya saya sengaja lewat rute lain. Dari New York ke San Francisco naik maskapai Columbia, kemudian ganti pesawat SQ kembali dari Francisco transit menuju Hongkong. Dan dari Hongkong baru menuju ke Singapura. Kemudian baru dilanjut ganti pesawat Garuda dari Singapura ke Jakarta. Artinya, saat ini demikian mudah serta cepatnya mobilitas manusia dan barang. Hanya dalam empat hari sudah dua agenda dengan mengelilingi dunia.

Maka tidak mengherankan bila virus Covid-19 demikian cepat menyebar ke seluruh penjuru dunia saat ini. Apalagi virus ini ditularkan antarmanusia yang bisa saja saling bersinggungan maupun berbagai cara (banyak pengetahuan yang membahas penularan virus ini). Tak terbayangkan cepat sekali penyebarannya.

Negara Tiongkok sendiri asal Covid-19 ini, telah demikian berubah menjadi negara raksasa ekonomi dunia. Dalam waktu relatif singkat telah mengubah peta kekuatan ekonomi di dunia. Hampir tidak ada negara di dunia ini yang tidak ada hubungan ekonomi dengan Tiongkok. Tidak mengherankan bila arus barang dan manusia dari dan ke Tiongkok demikian tingginya.

Apalagi negara Indonesia. Yang punya hubungan historis yang erat dengan Tiongkok. Walaupun hubungan politik ada pasang surutnya. Namun, hubungan ekonomi demikian kuatnya. Saat ini demikian besarnya hubungan ekonomi dengan Tiongkok. Banyak investasi dari Tiongkok di Indonesia. Demikian juga sebaliknya.

Tak mengherankan banyak sekali penerbangan yang langsung dari kota-kota di Tiongkok ke kota di Indonesia. Jangan heran saat ini (ketika masih normal waktu itu) setiap hari ada kurang lebih 30 penerbangan dari Tiongkok baik penerbangan langsung maupun transit. Jumlah penumpang antara 4.500 hingga 6.000. Tentu ketika awal merebaknya virus ini harus diperhitungkan penanganannya.

Dan tentu juga dengan negara-negara yang mulai berkembang dan negara maju lainnya. Tiongkok demikian memegang peranan yang besar. Malahan saat ini sudah ada kereta api yang langsung dari Tiongkok ke negara-negera di Eropa. Tentu mobilitas barang semakin lancar. Selain tentunya manusia yang saya yakin lebih cepat, karena melalui penerbangan.

Tak heran sejak diketahui virus ini di Wuhan, Tiongkok, di akhir Desember 2019, sampai dengan saat ini setidaknya sudah 1,6 juta orang yang terinfeksi virus. Dari sebanyak yang terpapar, lebih dari 90.000 meninggal dunia. Dan negara yang terkena kasus Covid-19 dari 193 negara anggota PBB, hanya 15 negara yang dilaporkan belum ada kasus Covid-19 sampai saat ini. Demikian cepatnya virus ini menyebar ke seluruh dunia dalam waktu singkat, menunjukkan batapa mudahnya virus ini menular.

Seperti hukum teknologi informasi, bahwa di era digital seperti saat ini salah satu yang bakal eksis adalah kecepatan. Siapa yang cepat akan tetap eksis. Tampaknya kecepatan hukum teknologi ini juga membawa dampak. Mengingat kecepatan pergerakan apapun membawa dampak ikutannya seperti penyebaran virus ini.

Demikian cepatnya penyebarannya virus, hampir semua negara di dunia tidak siap menghadapi pandemi ini.  Semua negara terbukti kerepotan menghadapinya. Tidak ada negara yang merasa paling sukses paling berhasil menanganinya. Atau setidaknya mengklaim model yang paling berhasil menghadapi virus ini. Semua kerepotan. Tak terkecuali negara semaju Amerika Serikat sekalipun. Semua menghadapi. Sepertinya saat ini semua negara mengalami yang namanya krisis kesehatan.

Tentu tak terkecuali Indonesia. Dengan luas wilayah yang demikian luas, jumlah penduduk yang demikian besar, tentu berbagai pertimbangan untuk memakai strategi yang tepat harus ditelaah secara saksama. Tentu yang paling penting bagaimana menghadapi pandemi ini dengan sebaik-baiknya. Karena setiap negara mempunyai persoalan, kekuatan, dan kelemahan sendiri-sendiri.

Negara yang relatif kecil dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu besar, dengan tingkat pendidikan yang baik, mungkin bisa dilakukan lockdown. Namun, bagi Indonesia, pilihan itu menjadi sangat berisiko besar. Oleh sebab itu, physical distancing menjadi pilihan yang paling mungkin. Kalau dipandang sangat perlu, bisa dilakukan PSBB (pembatasan sosial berskala besar).

Betul bahwa Covid-19 telah menimbulkan krisis di bidang kesehatan. Namun, tentu krisis bidang kesehatan ini di Indonesia jangan sampai menimbulkan krisis di bidang ekonomi yang terlalu dalam. Karena dengan merebaknya virus ini, telah terasa sekali bagaimana ekonomi melambat. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. Banyak sekali perusahaan telah merumahkan karyawannya. Tak terkecuali perusahaan di Magetan yang besar, yang kebetulan perusahaan garmen yang bahan bakunya 99 persen dari Tiongkok. Otomatis bahan baku berhenti karenanya.

Pilihan lockdown tampaknya menjadi sangat tidak mungkin dilakukan di Indonesia. Oleh sebab itu, bantuan stimulus bagi pengusaha mulai diberlakukan. Demikian juga masyarakat yang menerima dampak secara langsung, menjadi sulit berusaha misalnya, akan memperoleh bantuan sosial dalam berbagai bentuknya.

Semua potensi keuangan pemerintah di-refocusing, baik APBN, APBD provinsi/kabupaten/kota, sampai APBDes difokuskan untuk penanganan Covid-19. Kemudahan untuk pengadaan barang dan jasa untuk penanganan virus ini dipermudah.

Dengan upaya ini, diharapkan krisis kesehatan tidak merembet ke krisis ekonomi. Yang bahaya lagi kalau terjadi krisis ekonomi kemudian menjadi krisis sosial. Ini akan lebih berbahaya lagi. Dan potensi itu sudah ada. Di Tangerang sudah mulai ada yang memprovokasi untuk melakukan penjarahan. Untungnya aparat keamanan segera bertindak. Mudah-mudahan tidak terjadi.

Namun, harapan kita semua tidak adanya krisis sosial. Tapi, sungguh patut disayangkan, justru yang mulai muncul krisis moral. Bagaimana mungkin, seorang petugas kesehatan yang merupakan garda terdepan karena terpapar Covid-19 dan meninggal dunia, ditolak oleh oknum warga untuk dimakamkan di wilayahnya. Ini sungguh ironi sekali.

Demikian juga anak saya yang kebetulan dokter spesialis anak yang memilih untuk menjadi relawan Covid-19 di sebuah RSUD provinsi, untuk mencari kontrakan rumah di dekat rumah sakit sangat sulit (bahasa lain tidak boleh), karena tahu yang akan mengontrak adalah dokter yang khusus menangani Covid-19. Akhirnya setiap hari harus pulang ke rumah di Jakarta yang jaraknya sangat jauh.

Virus ini masalah bersama. Harapan kita jangan sampai terjadi krisis yang parah. Baik krisis kesehatan yang mendalam, yang tidak menutup kemungkinan membawa ke arah krisis ekonomi, dan yang kita khawatirkan menjadi krisis sosial. Sekali lagi mudah-mudahan tidak. Saya yakin itu. Karena bangsa Indonesia sudah berpengalaman dan bahkan sering kali menghadapi krisis sehebat apa pun. Namun, sejarah juga mencatat, bangsa ini selalu “mrojol selaning garu.” Amin. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close
               
         
close