Opini

Covid-19 Ada dan Berbahaya

SETIAP Senin, saya diberikan ruang di Jawa Pos Radar Madiun untuk menuliskan terkait apa saja. Nama rubriknya sesuai nama kantor ruang kerja saya di Balai Kota: Ruang Satu. Di situ saya banyak menuliskan tentang pembangunan hingga rencana ke depan kota kita ini. Bisa juga terkait isu-isu terkini. Menjelang akhir pekan, tulisan itu biasanya sudah siap. Seperti edisi minggu ini yang sejatinya terkait penataan simpang empat Tugu. Ya, penataan sekaligus penambahan tetenger nol kilometer Kota Madiun itu memang tengah in saat ini. Saya ingin mengulasnya. Tetapi, tema akhirnya saya ubah setelah saya terkonfirmasi Covid-19.

Saya meminta tolong tim untuk mengubahnya. Itu karena waktunya tidak memungkinkan. Saya berikan pesan singkat terkait tema yang baru ini. Akhirnya, tema baru pun jadi. Tema sengaja saya ubah sesuai kondisi terkini. Kurang pas juga rasanya kalau membahas pembangunan, padahal saya sedang menjalani isolasi. Apalagi, banyak informasi yang simpang siur terkait kondisi saya dan istri. Tulisan ini sekaligus sebagai klarifikasi.

Seperti yang masyarakat ketahui, saya harus menjalani isolasi di rumah sakit sejak Sabtu lalu (26/6). Tepatnya di RSUD Soedono. Covid-19 itu akhirnya menjangkiti saya dan istri. Hasil swab polymerase chain reaction atau PCR kami menunjukkan hasil positif pada Sabtu itu. Alhamdulillah, kondisi saya dan istri bagus. Pun, nyaris tidak ada gejala berat. Tim yang menyarankan untuk isolasi di rumah sakit. Sebagai jaga-jaga katanya. Saya ikut saja.

Itu saya rasa perlu. Sebab, kondisi tubuh seseorang memang bisa berubah sewaktu-waktu. Bahkan, bisa berubah drastis hanya dalam hitungan menit bahkan detik. Tentu siapa saja tidak ingin menginginkan itu. Apalagi kalau saat drop jauh dari fasilitas kesehatan. Penanganan bisa cepat diberikan saat berada di fasilitas kesehatan seperti rumah sakit. Kalau sesak langsung bisa diberikan bantuan pernapasan. Kalau butuh obat, bisa segera diberikan.

Kendati saya dan istri dalam kondisi baik, menjalani isolasi seperti ini mengingatkan saya akan cerita teman-teman yang juga pernah terkonfirmasi Covid-19. Teman-teman sesama kepala daerah memang banyak yang kena. Terbaru, Bupati Ponorogo Bapak Sugiri Sancoko juga tengah isolasi saat ini. Gubernur Jawa Timur Ibu Khofifah Indar Parawansa juga terkonfirmasi lagi. Belum lagi teman-teman yang bukan pejabat pemerintah. Banyak yang juga terkonfirmasi. Saya sering bertanya tentang bagaimana dan apa yang dirasakan kepada mereka. Ceritanya beragam. Keluhannya pun bermacam. Tetapi kebanyakan mengeluh sesak. Lima menit lepas slang oksigen sudah ngos-ngosan. Yang parah, sampai tidak bisa bernapas sama sekali kalau tidak dibantu alat pernapasan. Ada yang bilang seperti dicekik.

Benar kata orang bahwa sehat itu mahal. Saat sehat, kita leluasa bernapas. Tanpa alat bantu. Tanpa harus membayar. Yang saya baca, orang dewasa rata-rata menghirup 7-8 liter udara per menitnya. Jika dikalikan 24 jam, rata-rata menghirup 11 ribu liter per harinya. Itu juga dalam aktivitas normal. Jika pada hari itu banyak melakukan aktivitas, maka semakin banyak pula udara yang dihirup. Dari jumlah itu, 20 persen yang kita hirup adalah oksigen. Artinya, seseorang menghirup sekitar 2.200 liter oksigen per harinya.

Coba lihat harga oksigen di internet. Berapa banyak uang yang harus kita keluarkan hanya untuk kebutuhan bernapas. Bisa mencapai jutaan rupiah per harinya. Itu baru oksigen. Padahal, manusia juga menghirup kandungan udara lain seperti nitrogen. Silakan hitung sendiri. Kita mungkin tidak akan sanggup membayarnya. Padahal, saat sakit seperti terkonfirmasi Covid-19 dan muncul gejala sesak, kita harus dibantu alat pernapasan. Beruntungnya, itu ditanggung negara.

Tetapi bukan berarti masalah beres. Pasien Covid-19 sedang tinggi saat ini. Banyak di antaranya harus dibantu alat pernapasan. Harus pakai oksigen. Artinya, kebutuhan tabung oksigen melonjak. Sedang, jumlahnya terbatas. Bagaimana jadinya kalau sampai kehabisan. Bagaimana jadinya pasien-pasien itu. Karenanya, kita harus banyak bersyukur diberikan kesehatan. Saya berharap masyarakat selalu menjaga kesehatannya. Jangan sampai terjangkit. Covid-19 ini ada dan berbahaya. Disiplin protokol kesehatan kuncinya.

Kita belum tahu kapan pandemi Covid-19 akan berakhir. Sebaliknya, yang terkonfirmasi semakin banyak belakangan ini. Stok tabung oksigen bisa saja habis. Itu sudah terjadi di India. Banyak yang tak tertolong karena tidak mendapatkan bantuan pernapasan. Tentu kita tidak ingin itu terjadi di tanah air. Khususnya di Kota Madiun. Bagaimana pandemi ini, tergantung dari kita sendiri. Semakin abai protokol kesehatan, tinggal menunggu meledaknya. Begitu juga sebaliknya. Semakin kita disiplin protokol kesehatan, semakin cepat pandemi ini dikendalikan.

Pemerintah terus berupaya mengendalikan pandemi ini dengan berbagai cara. Vaksinasi massal salah satunya. Tetapi perilaku kitalah yang kembali menentukan. Yang sudah vaksin masih bisa terjangkiti korona. Sudah banyak contohnya. Saya salah satunya. Karenanya, saya berharap masyarakat disiplin protokol kesehatan. Patuhi aturan dan ikuti anjuran pemerintah. Ini demi kebaikan kita semua. Demi kesehatan kita bersama. Terakhir, tak lupa saya meminta doa dari masyarakat semua. Semoga saya dan istri beserta semua masyarakat yang saat ini terkonfirmasi Covid-19 segera pulih seperti sediakala. Dan tentu saja semoga pandemi ini segera berakhir. Segera diangkat dari bumi kita tercinta. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button