Bupati Menulis

Cita-Cita Kartini

SAYA pernah berdiskusi dengan ketua Pengadilan Agama Magetan mengenai dispensasi kawin. Rata-rata jumlah pemohon menikah di usia belum 19 tahun itu 20 orang per bulannya. Kebanyakan perempuan.

Di Jawa Timur, ada 17.214 pengajuan dispensasi kawin pada Januari–awal Februari tahun ini. Persentasenya 5,79 persen dari total 302.684 perkawinan. Jumlah dispensasi di Magetan di bawah rata-rata daerah tapal kuda. Ada daerah yang pemohonnya di atas 100 per bulannya.

Kebanyakan dispensasi di Magetan karena desakan orang tua dan si anak juga bersedia. Dalam beberapa kasus, setelah ditanya hakim, anak ingin meneruskan sekolah. Hakim pun menolak memberikan dispensasi.

Orang tua ingin anak perempuannya segera dinikahkan agar ”mungkur”. Fenomena itu menimpa orang tua saya. Saat menikah, ibu saya masih sekitar 14 tahun. Ketika temanten baru, ibu pernah diajak bapak ke sebuah toko. Beliau diminta memilih barang yang disukai. Pilihannya adalah jarum peniti dan bola bekel.

Ibu menceritakan itu kepada saya sambil tertawa. Betapa masih kecilnya saat menikah. Tidak ada yang berani menolak dijodohkan. Itu dilakukan sebagai bentuk bekti kepada orang tua. Ibu merupakan anak ketujuh dari sepuluh bersaudara. Bulik saya menikahnya juga masih muda, selepas lulus SMP.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pernikahan dini berdampak buruk. Angka kematian ibu dan anak, penularan infeksi seksual, serta kekerasan dalam rumah tangga meningkat.

Kartini mengalami masa tersebut. Namun, era Kartini dulu beda dengan sekarang. Pada zaman dulu belum ada akses informasi dan pendidikan yang cukup. Namun, perempuan kelahiran 1 April 1879 itu punya pemikiran dan cita-cita luhur, melampaui usia dan zamannya.

Bayangkan, usia Kartini baru 21 tahun ketika menulis buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Penggalan surat yang ditulis 23 Agustus 1900 itu ditujukan kepada Nyonya Zeehandelaar. Bunyinya seperti ini.

“Bukankah acap kali kudengar seorang ibu berkata kepada anak laki-laki, bila dia jatuh anak laki-laki menangis tiada malu seperti anak perempuan. Anakku laki-laki maupun perempuan, akan aku ajar, supaya menghargai dan pandang-memandang sama rata. Makhluk yang sama.

Dan, didikannya akan saya samakan benar, yakni tentu saja masing-masing menurut kodrat dan kecakapannya. Misalnya, oleh karena aku hendak menjadikan anakku, jadi kaum perempuan baru, tiada aku akan menyuruh belajar, bila tiada kehendaknya, maupun tiada kecakapannya akan belajar. Tetapi mengurangi haknya, akan melebihi abangnya, sekali-kali tidak!

Lagi pula hendaklah aku menghapuskan pembatas antara laki-laki dan perempuan yang diadakan orang dengan amat telitinya, sehingga menggelikan….”

Kartini berharap, walau masih tiga generasi, persamaan hak itu akan terjadi. Saya ini termasuk generasi ketiga. Dan, anak-anak yang meminta dispensasi kawin generasi keempat. Tetapi mengapa masih terjadi? Apalagi saat ini sudah era digital. Akses informasi semakin mudah.

Suatu sore saya bertemu dua perempuan muda di alun-alun Magetan. Keduanya kuliah fakultas kedokteran dan hukum di salah satu universitas negeri ternama di Surabaya. Saya bangga walau bukan orang tua biologis. Sebab, anak Magetan juga anak saya.

Terjadi diskusi kecil antara kami mengenai apa yang kelak dilakukan. Cara berpikirnya masih mainstream. Saya memberi saran:
“Begini ya, Nak. Kalau kalian akan maju, cara berpikir dan bertindakmu harus satu langkah di depan teman-temanmu. Mulai sekarang perdalam bahasa asing. Ilmu pengetahuan ada di negara maju. Kalian harus rebut. Setelah lulus S-1 kelak, ambil master, kalau perlu PhD di luar negeri. Banyak sekali beasiswa. Baik dari negara maju maupun pemerintah Indonesia. Negeri ini sangat ramah dengan kaummu. Negeri ini memberi atmosfer kalian boleh bermimpi menjadi apa saja. Bergantung kepada kalian sendiri. Mau jadi apa. Bayangkan di beberapa negara lain baru bermimpi saja tidak boleh. Betapa beruntungnya kita hidup di negeri ini.”

Sebagai orang tua, saya pernah menghadapi sebuah dilema. Ketika anak perempuan lulus dari FKUI lalu dapat beasiswa master kesehatan di luar negeri. Ketika pulang langsung meneruskan spesialis anak di FKUI. Kalau terus kuliah, kapan menikahnya? Jawabannya membuat saya tercekat.

”Pak, untuk kali ini izinkan saya. Di Indonesia antara laki-laki dan perempuan banyak perempuan. Dari banyak perempuan tersebut, 95 persen menikah. Namun, pendidikannya tidak cukup. Izinkan saya menambah jumlah wanita yang menikah, tapi pendidikannya tinggi. Saya ingin nanti menikah ketika sudah matang mental, fisik, dan ekonomi.”

Saya ingat surat-surat Kartini. Kesadaran saya semakin membuncah. Saya teringat dua perempuan muda di alun-alun dan perempuan yang harus minta dispensasi kawin. Semua anak-anakku. Semua anak-anak kita. Yang harus kita berikan ruang seluas-luasnya meraih cita-cita. Selamat Hari Kartini 2021. (*/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button