News

Ceritakan Sejarah Grebeg Besar Di Demak

×

Ceritakan Sejarah Grebeg Besar Di Demak

Share this article

Ceritakan Sejarah Grebeg Besar Di Demak – Setiap kali Grebeg Maulud diperingati, ribuan umat memadati halaman Masjid Agung Yogyakarta. Mereka rela mendorong dan bertarung di bawah terik matahari hanya untuk memperjuangkannya.

Merupakan produk berbahan dasar hasil pertanian yang dipersembahkan pada perayaan Grebeg Maulud. Empat orang di antaranya berbaris dari Istana Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat menuju Masjid Agung Kauman dan dua orang berbaris dari Istana Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat menuju Masjid Agung Kauman.

Ceritakan Sejarah Grebeg Besar Di Demak

Grebeg Maulud diperingati untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. Atau hari lahir Nabi. Tradisi ini terbukti menjadi salah satu cara efektif penyebaran Islam di Jawa yang dilakukan Wali Sanga sejak abad ke-15 M, berkat gagasan Sunan Kalijaga.

Bupati Demak Daftarkan Tradisi Grebeg Besar Demak Ke Unesco

Berarti “berisik” atau “ramai”, yang maknanya kemudian diperluas menjadi “kerumunan” atau “perayaan”. Oleh karena itu, seluruh pelaksanaan tradisi Grebek diiringi dengan prosesi prajurit keraton dengan diiringi bunyi gamelan.

Sultan Agung (1613-1645), pemimpin Kesultanan Islam Mataram yang paling terkenal, mengajak masyarakat berkumpul di alun-alun istana (hlm. 73). Sekaten masih dilestarikan hingga saat ini sebagai sarana hiburan masyarakat.

Hal ini diterapkan oleh Wali Sanga sebagai cikal bakal proses Islam di Jawa (hlm. 19). Wali Sanga merupakan majelis keagamaan Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa, yang muncul sebelum runtuhnya kerajaan Majapahit dan berdiri selama 15 abad (1475-1554).

(2010). Sekaten bermula dari upaya Wali menyebarkan Islam ke tanah Jawa dengan menggunakan tradisi yang ada pada masa Kesultanan Demak (hlm. 96).

Tradisi Grebeg Besar Di Kabupaten Demak

Sekaten yang merupakan bagian dari perayaan Grebeg Maulud merupakan gagasan Sunan Kalijaga. Salah satu ulama Wali Sanga tertarik untuk memaksimalkan tradisi tersebut sebagai sarana mendorong masyarakat untuk memeluk Islam. Saat itu, masyarakat Jawa masih banyak yang menganut agama Hindu, Budha, dan kepercayaan lokal.

Baca Juga  Mengidentifikasi

(1997) oleh M.B. Rahimsyah yang diprakarsai oleh Sunan Kalijaga, Grebeg Maulud dilakukan dengan mengadakan tabligh atau pengajian wali di depan Masjid Demak (hlm. 165).

Perayaan Maulid Nabi juga menjadi acara musyawarah tahunan para Wali. Namun Sunan Kalijaga memahami dengan jelas bahwa konsep seperti itu belum cukup menarik perhatian masyarakat, dan mayoritas masyarakat masih memegang teguh ajaran lama datang ke masjid.

Maka Sunan Kalijaga memimpin dengan memasukkan unsur-unsur tradisional yang sudah lama dikenal masyarakat Jawa. Achmad Chodjim menulis dalam buku Sunan Kalijaga (2013) bahwa gamelan dan tari yang berkembang di lingkungan keraton mulai digunakan untuk memeriahkan penjelmaan Grebeg Maulud (hlm. 337).

Kedatuan Ki Ageng Gribig Jatinom Klaten Dalam Historiografi Penyebaran Islam (5)

Permainan gamelan pun dimainkan di halaman masjid untuk menarik perhatian warga. Komplek masjid dihiasi dengan berbagai ornamen yang memanjakan mata. Masyarakat pun penasaran dan berbondong-bondong mendatangi Masjid Kesultanan Demak.

(2010) Ditulis oleh Jhony Hady Saputra Di ajang tersebut, The Guardians silih berganti tampil di depan podium. Mereka memberikan nasehat dengan kata-kata yang menarik, sederhana dan komunikatif sehingga orang akan senang mendengarnya (hlm. 32).

Bahkan yang awalnya masih malu-malu pun diajak masuk ke dalam kompleks masjid. Tapi ada prosedurnya. Sebelum masuk, mereka harus melewati sebuah pintu gerbang dan diinstruksikan mengucapkan dua kalimat syahadat kemudian belajar bersuci atau berwudhu. Dengan mengucapkan Syahadat, orang tersebut masuk Islam.

Selain Grebeg Maulud, acara serupa juga diadakan dua kali dalam setahun: Grebeg Syawal yang merayakan Idul Fitri, dan Grebeg Besar yang berlangsung pada saat Idul Adha atau Hari Raya Kurban. Acara massal seperti ini sangat populer di kalangan masyarakat Jawa, dan misi Islamisasi Wali Sanga juga membuahkan hasil yang penting.

Baca Juga  Jelaskan Pengertian Satuan

Nilai Religius Tradisi Grebek Besar Di Demak

Strategi dakwah seperti ini terus berkembang setelah berakhirnya Kesultanan Demak dan Wali Sanga, dan berlanjut hingga masa Kesultanan Mataram Islam dengan berdirinya kerajaan-kerajaan penerus Dinasti Mataram di Surakarta dan Iogyakarta.

Berbagai perkembangan mengalami perkembangan dari masa ke masa, antara lain Grebeg Maulud, merasakan adat dan adat istiadat Jawa dalam suasana keraton, beserta segala filosofi yang dikandungnya.

Meski mayoritas memeluk agama Islam, namun masih banyak orang Jawa yang mempercayai pengaruh keraton dalam kehidupannya. Sepeninggal Wali Sanga, sultan atau raja memegang peranan penting dalam segala urusan, tidak hanya dalam urusan pemerintahan tetapi juga sebagai pemimpin agama.

Sejak zaman Mataram Islam, sudah ada tradisi Sekaten dan Gunungan yang berfungsi sebagai sarana mediasi antara Sultan, pemimpin negara, dan pelindung Tuhan serta rakyatnya.

Grebeg Besar Demak ยป Budaya Indonesia

Tradisi semacam ini telah berulang kali menimbulkan pertentangan. Sebuah artikel oleh Herman Beck berjudul “Kemurnian Islam Bertentangan dengan Identitas Jawa” diterbitkan pada bulan Januari. G. Platvoet dan Karel van der Toorn mencatat bahwa Muhammadiyah memprotes perayaan tersebut.

Muhammadiyah sendiri lahir di daerah sekitar Keraton Yogyakarta pada tahun 1912 berdasarkan gagasan K.H. Ahmad Dahlan. Berdasarkan temuan Ahmad Najib Burhani yang dikutip Ariel Subhan dalam buku Institusi Pendidikan Indonesia (2012), pada awalnya Muhammadiyah tidak mengambil sikap frontal terhadap banyak unsur budaya Jawa, termasuk ritual.

Grebeg besar demak