Bupati Menulis

Cerita Isolasi

SELAMA pandemi Covid-19, saya tidak pernah bersentuhan dengan ibu kalau pulang rumah di Maospati. Saya selalu mengambil jarak dan mengenakan masker. Bicara berjauhan sekitar empat meter. Kalau saat pulang beliau sedang tidur, saya hanya memandangnya dari pintu. Kemudian berpesan ke adik bahwa saya habis menjenguk.

Itu cara saya mencintai ibu di tengah pandemi. Beliau memang sudah sepuh. Di KTP, kelahiran tertulis 1935. Saya belum sempat menengok ibu sejak September hingga Desember 2020. Padahal, perjalanan hanya 15 menit. Alasan utamanya agar jangan sampai saya datang membawa virus.

Namun, namanya orang tua dengan ikatan emosional, seorang anak sering kali kehilangan logika berpikir yang selama ini telah dibangun. Akhir Desember, saya ditelepon adik. ”Mas, ibu takon, Mas To (Suprawoto) kok suwe ora bali? Ibu kangen, Mas. Nganti ibu yen bobok ana kamare Mas To. Ibu gerah.”

Pada 29 Desember, keesokan hari setelah menerima telepon adik, saya bersama istri menengok ibu yang sakit. Kami sengaja hanya berdua. Kebetulan ibu sedang tiduran di kamar. Dari pintu, saya mengajak ngobrol. Ketika pulang, istri saya cerita kalau sempat memijit ibu. Pijitan itu membuatnya tidur terlelap.

Besoknya, istri saya pergi ke Jakarta. Dia ingin menjemput anaknya yang pulang dari Amerika Serikat. Perjalanan dengan pesawat dari Solo, Jawa Tengah. Sebelum berangkat, swab test dan hasilnya negatif. Ketika di Jakarta, 1 Januari 2021, istri saya mengeluh demam. Dia lantas dibawa ke rumah sakit, di-swab, dan diminta rawat jalan. Namun, demam dan batuknya belum sembuh ketika saya menyusul ke Jakarta, 6 Januari.

Saya menduga istri saya kena Covid-19. Sebab, dia kontak erat dengan ibu. Belakangan, ibu diketahui positif korona hasil swab di RSUD dr Sayidiman. Dalam hal ini, bentuk bakti terhadap orang tua yang lantas melupakan protokol kesehatan (prokes) berakibat fatal.

Selesai isolasi selama lima hari dan swab dua kali dengan hasil negatif, anak saya diperbolehkan pulang ke Magetan. Memilih perjalanan darat, kami bertiga berada dalam satu mobil. Tiba pukul 22.00. Besok paginya, istri saya di-swab. Dugaan saya benar. Hasilnya, positif korona. Dia segera dirawat di RSUD dr Sayidiman.

Saya menyusul di-swab karena kontak erat. Meskipun selama itu saya dan anak saya menerapkan prokes. Semuanya jaga jarak dan mengenakan masker saat menginap semalam di Jakarta. Begitu pula saat tiba di rumah, izin istri tidur di kamar lain. Semua saling menjaga.
Hasil swab pertama negatif. Namun, sejak istri positif, saya langsung isolasi mandiri. Meski swab kedua juga negatif, karantina masih saya lakukan lima hari. Sebagai antisipasi karena masa inkubasi virus rata-rata lima hari.

Siapa yang tidak cemas ketika orang yang disayangi terkena virus yang belum ada obatnya ini. Meski sebetulnya penularan bisa dicegah dengan disiplin prokes. Secara kasatmata dan etika, penerapannya memang terlihat tidak manusiawi. Tapi, ini lah etika dan tatanan kehidupan baru yang harus dipahami dan dimaklumi bersama.

Bayangkan ketika bertamu di rumah orang. Dalam situasi normal, ketika mengeluarkan hand sanitizer saat hendak pulang, sang tuan rumah bisa tersinggung. Rumahnya dianggap penuh kuman atau virus. Contoh yang sama saat berada di dalam lift dengan posisi berdiri membelakangi orang lain. Mereka pasti tersinggung. Namun, saat ini, hal tersebut keharusan.

Sayangnya, masyarakat belum sepenuhnya memahami. Penerapan prokes belum menjadi sebuah kesadaran. Pemerintah harus setiap hari melakukan operasi penegakkan disiplin. Namun, hasilnya, korban korona terus bertambah setiap hari.

Melihat pandemi yang semakin merebak, semestinya kita tidak boleh lengah sedikitpun dan dalam kondisi apapun. Saya menyampaikan ini sesuai pengalaman dan perasaan yang saya alami. Saat ini, orang-orang yang saya cintai berjuang sekaligus menjadi korban.

Sejak Covid-19 datang Maret tahun lalu, anak saya sebagai dokter spesialis anak yang baru lulus terpanggil menjadi relawan. Dia menangani pasien anak di RSUD Banten hingga saat ini. Tawaran dan kesempatan yang lebih baik dan kecil risiko ditepikan. Semua itu demi panggilan jiwanya. Pada momen yang sama, ibu dan neneknya dirawat karena Covid-19. Bahkan, pamannya (adik saya nomor empat yang masih muda) meninggal karena korona.

Pengalaman ini untuk mengingatkan lainnya dan diri saya sendiri. Sudah semestinya kita menyayangi anak, bapak atau ibu, saudara, cucu, teman, dan masyarakat luas. Pun, tenaga kesehatan yang harus siaga setiap saat, dan terkadang menjadi tumpuan kesalahan. Wajib hukumnya disiplin menerapkan prokes. Apa kita mau menunggu keluarga kita kena Covid-19? Tentu tidak. Mari kita sayangi semuanya dengan tindakan nyata. Mulai dari diri kita. (*/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
               
         
close