Madiun

Cerita di Balik Video Pemenang Giveaway HUT Radar Madiun (2)

Hasil tidak mengkhianati usaha. Pepatah itu pantas untuk menggambarkan perjuangan Suryadi dkk menggarap video giveaway HUT ke-20 Radar Madiun. Juara II pun menjadi ganjaran setimpal upaya mereka membuat video yang menarik.

—————-

NUR WACHID, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

SEORANG pemuda tampak sedang memancing di Sungai Tempuran, Kelurahan Brotonegaran, Ponorogo. Beberapa saat berselang, pemuda berkaus oblong warna biru itu mengeluh lapar. Sembari menunggu umpan di kailnya dimangsa ikan, dia membuka smartphone-nya.

Tanpa sengaja dia menemukan video berisi pengumuman giveaway HUT ke-20 Radar Madiun di akun Instagram resmi koran terbesar di eks Karesidenan Madiun itu. Setelah beberapa saat memelototi video tersebut, kailnya bergetar seperti ada ikan yang menyambar umpan.

Seketika, pemuda itu menariknya. Namun, yang nyangkut di kailnya ternyata botol bekas. Dia lantas membuang botol tersebut. Ajaib, dari botol itu keluar jin berbusana tradisional Jawa. ‘’Lalu, si jin menawarkan tiga permintaan. Dan, si pemancing minta dibuatkan video ucapan selamat HUT ke-20 untuk Radar Madiun,’’ kata Suryadi menceritakan adegan video yang disutradarainya tersebut.

Hingga kemarin, video repost karya Suryadi itu di akun Instagram Radar Madiun telah dilihat lebih dari 2.280 kali dan mendapatkan ratusan like dari netizen.

Konsep video itu memang mirip iklan salah satu produk rokok yang menjadikan jin sebagai tokoh utama. Namun, Suryadi memodifikasinya menjadi berbahasa Jawa kromo inggil. ‘’Biar anak-anak muda zaman sekarang tidak lupa dengan bahasa daerahnya,’’ ujar Suryadi.

Video itu digarap Suryadi bersama tiga temannya. Ada Angga Eko Purnomo yang berperan sebagai pemancing, Rahman Bangun Suprayogi kameramen, dan Slimin sebagai produser sekaligus bagian artistik.

Meski hanya berdurasi satu menit, proses pengerjaan video itu terbilang panjang. Mereka melakukan persiapan selama tiga hari sebelum shooting. Mulai membuat naskah, survei lokasi, latihan, pendalaman karakter, hingga menyiapkan make-up dan kostum.

Perlengkapan yang digunakan untuk pengambilan gambar hanya berupa smartphone. Pun, adegan harus diulang hingga 40 kali. Selain beberapa kali HP macet, gemuruh angin yang kencang membuat suara aktor terdengar tidak jelas di video. ‘’Shooting-nya siang sampai magrib,’’ ungkap anggota Komunitas Film Ponorogo Indie (Kofpi) itu.

Keterbatasan alat juga membuat proses editing sempat tersendat hingga memakan waktu sampai delapan jam. Pun, Suryadi dkk rela lembur hingga pukul 02.00. ‘’Soalnya besoknya harus bekerja,’’ katanya. ***(isd/c1/bersambung)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button