Bupati Menulis

Cerita di Balik Covid-19 Magetan (1)

SAAT ini kita semua seperti sudah menjadi ahli virus Covid-19. Karena setiap hari semua media mainstream maupun media sosial tidak henti-hentinya mengulas dan penuh informasi virus baru ini. Baik informasi yang betul dan mencerahkan, bahkan yang sengaja dibuat untuk menyesatkan atau hoaks.

Kita juga menjadi tahu bahwa pada tahun 1918 pernah juga terjadi pandemik flu Spanyol yang juga menyebar dengan cepatnya. Puluhan juta orang menjadi korbannya. Tak terkecuali Indonesia yang waktu itu masih dijajah Belanda. Bahkan, menurut catatan, hampir sejuta orang meninggal karenanya. Itupun korbannya baru dihitung di Jawa. Bayangkan Pulau Jawa waktu itu penduduknya masih belum sampai hitungan lima puluh juta jiwa.

Kejadian pandemi flu Spanyol itu juga direkam oleh dr Sumarsono Sastrowardoyo dalam biografinya yang berjudul “Kembali ke Uteran.” Yang bersangkutan seorang dokter spesialis bedah yang lahir 5 Maret 1922, anak wedana Uteran yang mulai sekolah dokter sejak zaman Belanda dilanjut zaman Jepang. Karena selalu kuliah dalam masa peralihan, kemudian lulus setelah Indonesia merdeka dari FKUI.  Kemudian melanjutkan ke Amerika sehingga menjadi ahli bedah.

Dalam biografinya tersebut, yang kebetulan saya punya karena saya memang senang membeli dan mengumpulkan buku apapun, di halaman 18 ditulis begini, ”Ayah pernah menceritakan. Waktu tahun 1917 terjadi wabah influenza mengamuk di daerah Madiun. Ribuan orang jatuh sakit dan banyak yang meninggal sehingga tidak cukup ada orang sehat untuk memakamkan jenazah-jenazah. Karena itu orang-orang desa menjadi bingung. Kantor Asisten Wedana menjadi pusat pertolongan untuk membagi obat dan makanan serta untuk mengatur pemakaman korban influenza yang mati.

‘’Pada waktu itu, kakak saya perempuan, yang masih bayi meninggal juga. Menghadapi kejadi itu, Ayah seperti disambar petir dan tidak dapat berbuat apa-apa. Telepon berdering terus, sedangkan penjaga telepon jatuh sakit juga. Ibulah yang siang malam melayani telepon, walaupun putrinya baru dimakamkan.”

Kita bisa membayangkan betapa kacaunya saat itu. Ketika sarana prasarana belum semaju sekarang. Apalagi tenaga kesehatan dan alat kesehatan tentu sangat terbatas. Juga pengetahuan masyarakat bagaimana memahami tentang virus influenza ini serta mengantisipasinya tentu tidak secepat masyarakat sekarang. Wajar bila kemudian seperti digambarkan dalam biografi tersebut. Dan korbannya begitu banyak.

Virus sejenis namun galur baru Covid-19 saat ini mengguncang dunia. Tak ada satu pun negara yang siap. Tak terkecuali Indonesia. Demikian juga Jawa Timur, serta Madiun dan tak terkecuali Magetan juga terpapar virus ini. Malahan menurut catatan, Kabupaten Magetan masuk periode pertama bersama tiga daerah yaitu Surabaya, Malang yang terkena.

Yang pertama terpapar virus Covid-19 adalah seorang warga Solo dan sudah menjadi pengusaha di Solo yang kemudian sakit di rawat di Solo kemudian meninggal dunia pada tanggal 11 Maret 2020. Karena almarhum putra asli Magetan kemudian jenazah dimakamkan di tanah kelahirannya Dusun Panasan, Desa Mojorpurno, Kecamatan Ngariboyo malam harinya sekitar jam 20.00. Sebuah dusun kira-kira empat kilometer dari kota magetan.

Karena informasi tentang positif karena terpapar tersebut justru didapat dari keterangan pers Gubernur Jawa Tengah sehingga kita baru bergerak setelah pemakaman almarhum. Segera kita lakukan langkah-langkah. Diantaranya jumpa pers dan juga melakukan tracing terhadap orang dalam resiko (ODR) virus. Setelah kita tracing, mereka yang pernah berinteraksi kita minta untuk melakukan isolasi mandiri. Dan kemudian kita lakukan swab, utamanya kepada keluarga inti yang secara intens berinteraksi.

Setelah  hasilnya swab keluar, dari yang pernah berinteraksi ini hasilnya yang positif ada tujuh orang. Pertama yang keluar hasilnya adalah istri almarhum. Dan mereka semua adalah orang tanpa gejala (OTG). Semua secara fisik kelihatan sangat sehat. Namun terpapar virus. Oleh sebab itu segera kita bawa ke RSUD Soedono Madiun dengan protokol kesehatan yang ketat. Tentu penanganan di RSUD sangat baik dan profesional.

Hal diperoleh dari hasil tracing diketemukan, bahwa virus ini dari kluster Bogor. Almarhum mengikuti sebuah seminar tentang di kota itu dengan tema “Platform Bisnis Tanpa Riba” di Darmawan Park, Sentul, Kabupaten Bogor, Jabar, 25-28 Februari lalu. Yang berinteraksi secara intens dengan almarhum terbukti kemudian terpapar. Inilah awal mula Kabupaten Magetan warganya kemudian terpapar virus galur baru Covid-19.

Mengingat bahwa penularan virus ini dari interaksi antar manusia, maka dengan berbagai pertimbangan kita lakukan “physical distancing” di tingkat lokal. Di wilayah sekitar rumah yang telah dinyatakan positif dan kebetulan satu keluarga kita tutup jalannya. Semua mobilitas warga dibatasi betul-betul. Kita sebisa mungkin menekan bahwa persoalan kesehatan ini jangan membawa dampak terlalu dalam pada sektor ekonomi. Kita khawatirkan kalau berdampak pada krisis sosial.

Dimulai dari dinyatakan positif istri almarhum yang meninggal dunia. Kemudian tanggal 21 Maret 2020 bertambah lagi dua orang suami istri dari Jalan Sumatera Kota Magetan. Sehingga jumlahnya menjadi tiga orang yang terpapar. Dan suami istri ini juga mengikuti seminar yang sama di Bogor. Demikian juga langkah kami selanjutnya kemudian menutup Jln Sumatera yang memang tempat domisili pasangan suami istri ini tinggal. Panjang jalan ini tidak terlalu panjang sekitar dua ratus meter.

Kemudian, bertambah dua lagi pada hari Senin  tanggal 23 Maret 2020. Sehingga jumlah yang terpapar menjadi lima orang. Dari lima orang tersebut, keluar hasil swab lagi yang positif sehingga bertambah tiga orang lagi. Kemudian ketiganya dirujuk ke RSUD dr Soedono Madiun pada Selasa 24 Maret 2020 malam. Karena semua sebelumnya melakukan isolasi mandiri. Sehingga sampai dengan tanggal 25 Maret 2020 hingga pukul 12.00 WIB terdapat delapan orang warga Magetan positif Covid-19.

Agak reda sebentar pada tanggal 27 Maret 2020 pasien PDP warga Magetan yang dirawat di RSUD Sidoarjo meninggal dunia. Terbukti juga positif. Juga ikut kluster Bogor. Menurut informasi menjadi salah satu nasumber. Almarhum masih tergolong muda. Umurnya masih di bawah lima puluh tahun. Namun punya riwayat penyakit jantung dan liver. Dari dua yang meninggal dan positif Covid-19 ternyata mempunyai penyakit bawaan. Kedua-duanya punya riwayat penyakit jantung.

Almarhum yang meninggal terakhir adalah warga Magetan yang bekerja di Jakarta. Namun setiap minggu pulang ke rumahnya di Desa Blaran Kecamatan Barat. Tentu sesuai standart yang kita berlakukan, di lingkungan sekitar kita berlakukan “physical distancing.” Jalan di depan rumah kita tutup. Agar mengurangi interaksi dengan warga sekitar. Demikian juga yang pernah interaksi termasuk keluarganya kita lakukan isolasi. Namun kemungkinan interaksi tidak intens dengan lingkunga sekitar, karena bekerja di Jakarta sehingga setalah kita tracing yang pernah berinteraksi semua negatif.

Model penanganan virus galur baru Covid-19 sempat menjadi model. Karena kita bisa menekan jumlah yang terpapar. Ketika awal virus merebak, daerah terbanyak pertama adalah Surabaya, kemudian disusul Kabupaten Magetan. Kemudian Magetan bisa menekan pernah turun menduduki peringkat ke sebelas. Sebaliknya kabupaten lain bertambah berlipat. Dan kemudian strategi kita melakukan “physical distancing” disebut “ala Magetan” mendapat apresiasi Ibu Gubernur.

Namun, seperti terbukti juga pandemi sebelumnya, baik yang sekitar tahun 1917 maupun saat ini cara penularan lebih banyak karena interaksi langsung. Dan kemudian ada tanda-tanda khususnya di Magetan mulai kelihatan bisa menekan penyebaran, kita dikejutkan adanya yang positif di Desa Temboro yang mobilitas masyarakatnya memang demikian tinggi.  (*/bersambung)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close