Bupati Menulis

Cerita di Balik Covid-19 Magetan (2)

DENGAN ditemukannya pasien dalam pengawasan (PDP) positif dari Desa Temboro (sekarang sudah dinyatakan sembuh), sejak awal kami menduga bukan dari klaster Bogor seperti yang sebelumnya. Salah satu alasannya, yang bersangkutan setelah dilakukan tracing jarang sekali keluar rumah bepergian. Malah aktivitas kesehariannya hanya jalan-jalan sekitar rumah dan ibadah di masjid dekat rumah. Karena memang yang bersangkutan mempunyai penyakit bawaan sehingga membatasi aktivitasnya.

Rumah yang bersangkutan terletak di perkampungan. Dan kamar-kamar di lingkungan rumahnya ada beberapa orang yang ngontrak. Sehingga besar kemungkinan tertular dari lingkungan rumah di mana yang bersangkutan tinggal. Bisa dari istrinya atau kemungkinan orang yang indekos di rumahnya.

Sebagai standar protokol kesehatan yang harus dijalankan, kemudian dilakukan tracing. Ada 26 orang yang pernah berinteraksi dengan yang bersangkutan. Kemudian dilakukan rapid test. Dari situ ternyata terdapat empat orang yang dinyatakan reaktif. Termasuk ketika dilakukan tes lanjutan, swab test. Hasilnya satu orang yang indekos di rumahnya dan tiga saudara pasien yang kebetulan rumahnya berdekatan positif Covid-19.

Mereka kemudian dirawat di RSUD dr Sayidiman yang telah ditunjuk sebagai rumah sakit rujukan penanganan Covid-19. Namun sayangnya, satu orang yang indekos di rumah yang positif di awal, melarikan diri kembali ke tempat asalnya di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Tapi, kami segera berkoordinasi dengan Pemkab Mampawah. Hingga akhirnya yang bersangkutan ditemukan dan kemudian dirawat di sana.

Ketika kami sedang fokus melakukan tracing terhadap pasien positif pertama di Temboro, tiba-tiba saya dapat pesan WhatsApp (WA) dari ibu gubernur, Minggu (19/4) sekitar pukul 22.42. Pesannya berupa berita online yang menyatakan santri dari Malaysia terpapar Covid-19. Adapun judul beritanya Covid-19: Satu Lagi Kluster Baharu Dikesan Babitkan Pelajar Malaysia dari Temboro. Berita tersebut dilansir dari portal nasional Malaysia Astroawani.com.

Karena ini masalah yang peka, dan juga berita dari luar negeri, tentu saya sebagai pejabat publik harus kroscek apakah berita tersebut betul atau tidak. Walaupun berita tersebut dari salah satu portal nasional Malaysia. Namun, di era digital sekarang ini kita harus hati-hati. Karena ada kemungkinan berita tersebut kurang tepat atau sengaja dibelokkan. Karena saat ini sering terjadi semacam informasi hoaks.

Untungnya saya kenal kepala perwakilan Kantor Berita Antara Malaysia di Kuala Lumpur. Segera saya telepon yang bersangkutan. Dan untungnya lagi, langsung direspons. Yang bersangkutan sebenarnya membenarkan berita tersebut karena yang bersangkutan juga dapat press release dari Kementerian Kesehatan Malaysia. Namun, beliau juga berjanji akan menggali informasi sebanyak-banyaknya. Mengingat waktu itu Malaysia sedang melakukan lockdown sehingga tidak bisa langsung kroscek ke Kementerian Kesehatan yang terletak di Putra Jaya.

Pada 20 April sekitar pukul 05.00 saya dapat kabar dari perwakilan Kantor Berita Antara Kuala Lumpur bahwa berita tersebut ternyata benar. Dan, saya diberikan berita-berita dan bukti-bukti kebenaran informasi tersebut. Sampai dengan nama dan diisolasi di mana, semua dikirimkan kepada saya melalui WA. Terkait kebenaran berita ini, segera diambil langkah-langkah yang cepat.

Segera saya kontak teman-teman di Kementerian Luar Negeri langkah apa yang perlu diambil bila menghadapi warga asing yang mengalami kejadian seperti ini. Kemudian saya disarankan segera kontak dengan Kedutaan Besar (Kedubes) Malaysia yang ada di Jakarta. Saya langsung kontak Kedubes Malaysia di Jakarta. Langsung mendapat respons baik. Dan juga membenarkan bahwa santri asal pondok pesantren di Magetan dinyatakan positif dan telah dilakukan isolasi di Malaysia.

Kemudian saya menanyakan bagaimana dengan santri Malaysia yang masih tinggal sebanyak 164 orang tersebut. Di awal santri yang tinggal tersebut tidak ingin pulang. Tetap berkeinginan tinggal di pondok. Kemudian saya bertanya bagaimana jika dengan perkembangan Covid-19 para santri tersebut berubah pikiran ingin pulang. Jawabannya Pemerintah Malaysia akan menfasilitasi. Namun, pihak kedutaan akan koordinasi dulu dengan pemerintah di Kuala Lumpur.

Dalam pembicaraan tersebut saya juga memberi saran. Bila nantinya santri berubah pikiran akan pulang, yang boleh pulang hanya yang negatif saja setelah dilakukan rapid test. Sedang yang reaktif, apalagi yang kemudian dinyatakan positif setelah dilakukan swab, harus dirawat dulu. Dan Pemerintah Indonesia akan menfasilitasi perawatan tersebut. Pun pihak Malaysia setuju terhadap usul saya tersebut.

Senin sekitar pukul 09.00 kami melakukan rapat koordinasi dengan seluruh forkopimda dan pihak pondok pesantren (ponpes). Prinsip semua setuju santri pulang seandainya pihak Pemerintah Malaysia menghendaki. Namun, semua harus dinyatakan negatif dan sehat dulu. Dan dipastikan kapan pesawat yang akan membawa para santri tersebut kembali ke Malaysia.

Sore hari pada hari yang sama, pihak kedutaan memastikan bahwa santri yang masih tinggal akan dipulangkan setelah dilakukan prosedur atau protokol kesehatan yang ketat. Persiapan segera dilakukan. Semua santri yang masih ada di pondok harus dilakukan rapid test.

Pada Sabtu, tanggal 25 April 2020 dilakukan rapat koordinasi dengan Gugus Tugas Covid-19 Tingkat Provinsi Jawa Timur. Rapat dipimpin oleh sekda provinsi dihadiri oleh Pemda Magetan dan saya sendiri yang memimpin, pihak pondok, kedutaan Malaysia, dan Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Jawa Timur. Hasil rapat, di antaranya, santri akan dipulangkan tanggal 27 April 2020 dengan menggunakan Malaysia Air Line. Sebelum pulang, seluruh santri dilakukan rapid test dan bila rekatif harus dirawat dulu. Kepulangan santri menggunakan protokol kesehatan ketat dan aturan yang lain.

Minggu, 26 April 2020, dilakukan rapid test. Ternyata dari 164 santri yang melakukan rapid test, yang negatif jumlahnya 124 orang. Akhirnya yang dipulangkan ke Malaysia sejumlah itu. Sedangkan yang dinyatakan reaktif akan dilakukan swab dan diisolasi di pondok.

Hasil swab kemudian menunjukkan bahwa di antara reaktif tersebut ternyata yang positif berjumlah 18 orang. Dari 18 orang santri tersebut sembilan dari Malaysia, Magetan dua orang, dan masing-masing satu orang dari Thailand, Lampung, Surabaya, Temanggung, Kaltara, Lombok. Tentu yang positif ini segera diambil langkah agar tidak menyebar. Khusus untuk santri dari Malaysia, bila sudah sehat –sementara informasi dari kedutaan– bila akan pulang biaya ditanggung sendiri dan pihak kedutaan hanya akan membantu mengatur perjalanan pulangnya.

Senin, 27 April 2020, jika sebelumnya hanya sebagian kecil jalan ditutup di Desa Temboro (sekitar wilayah yang dinyatakan positif yang pertama). Mulai saat itu jalan masuk ke Desa Temboro kami jaga. Hanya dua jalan yang dibuka. Dari arah Kecamatan Karas dan dari Desa Kembangan yang dibuka. Namun, kami jaga dengan ketat. Hanya yang sangat berkepentingan yang boleh masuk, utamanya yang suplai bahan makanan. Selain itu tidak boleh masuk.

Saat ini 18 santri yang dinyatakan positif dirawat dan diisolasi di RSUD dr Sayidiman. Mereka sumua adalah OTG. Dan saat ini ada 12 lagi yang dinyatakan positif. Juga hari ini, Senin, 4 Mei 2020, juga dipindah ke RSUD untuk dilakukan perawatan. Ke-12 santri ini juga OTG. Usaha telah kami lakukan secara maksimal. Namun, terpulang kepada kedisiplinan semua warga. Karena penularan melalui interaksi. Tentu harapannya protokol kesehatan dipatuhi. Sehingga pandemi ini segera berlalu. Dan kita bisa hidup normal kembali. Amin. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close