News

Cerita Asal Muasal Wamena Berasal Dari

×

Cerita Asal Muasal Wamena Berasal Dari

Share this article

Cerita Asal Muasal Wamena Berasal Dari – Lintang: 4°13′14″S 138°45′50″BT  / 4.220421°LS 138.763962°BT  / -4.220421; 138.763962 Lintang: 4°13′14″S 138°45′50″BT  / 4.220421°LS 138.763962°BT  / -4.220421; 138.763962

Wamena adalah ibu kota Kabupaten Jayawijaya. Wamena adalah sebuah distrik di Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Pegunungan Papua. Wamena merupakan pusat perkotaan di kawasan pedesaan yang terdiri dari dataran tinggi dengan sebagian besar penduduk terkonsentrasi di Lembah Balim dan sekitarnya. Penduduk Wamena terdiri dari beberapa suku, yang paling menonjol adalah suku Dani, Lani, dan Yali. Kabupaten Wamena memiliki luas wilayah 249,31 km² dan mempunyai jumlah penduduk sekitar 41.844 jiwa pada tahun 2020 serta kepadatan penduduk 167,84 jiwa/km².

Cerita Asal Muasal Wamena Berasal Dari

Daerah lembah yang dilintasi Sungai Balim ini awalnya bernama Ahgamua. Sedangkan nama Wamena berasal dari bahasa Dani yang terdiri dari dua kata “wam” yang berarti babi dan “ena” yang berarti hewan peliharaan. Nama tersebut berasal dari kurangnya bahasa antara orang Belanda dan gadis setempat. Pasalnya saat ditanya nama tempat tersebut, gadis tersebut ingin mengatakan bahwa ia telah meninggalkan babi peliharaannya.

Sejarah Nama Pegunungan Bintang, Papua & Awal Mula Peradaban Orang Asli Pegunungan Bintang

Pada 28 Desember 2014, Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama Ibu Negara Iriana mengunjungi kota Wamena, Papua untuk membahas permasalahan di sana. Ribuan warga Wamena dan sekitarnya menyambut kedatangan Presiden Jokowi di gedung Organisasi Masyarakat Adat Provinsi Papua. Masyarakat mengadakan pesta adat untuk menyambut orang pertama republik ini. Para tokoh adat dan gubernur Papua menyambut baik pressan dan ibu negara yang langsung memberikan mahkota kepada masyarakat adat.

Sementara itu, Ibu Negara disuguhi karangan bunga khas Lembah Balim. Warga menari-nari sepanjang perjalanan Presen Jokowi dan Ibu Negara, sedangkan para tetua adat mendoakan keselamatan, kesehatan, dan kepemimpinan Presen Jokowi. Menyerukan seluruh masyarakat Papua untuk mengakhiri konflik dan kekerasan serta bekerja sama mewujudkan Papua menjadi tanah damai, baik yang masih berada di hutan maupun di pegunungan.

Pada tanggal 30 Desember 2015, Presiden Joko Widodo (Jokowi), didampingi Ibu Negara Iriana, mengunjungi kota Wamena untuk meresmikan terminal baru bandara Wamena dan Kaimana, yang ia gambarkan sebagai “pintu gerbang penghubung masyarakat Dataran Tinggi Tengah Papua”. Daerah lain di seluruh Indonesia.” Bandara Wamena memiliki terminal yang mampu melayani 282 penumpang. Dengan landasan pacu sepanjang 2.175 meter, Bandara Wamena menjadi bandara tersibuk di Provinsi Pegunungan Papua.

Berbeda dengan kota-kota besar lainnya di Papua seperti Timika, Jayapura, Sorong, dan Merauke, Wamena merupakan kawasan yang belum terjamah di pedalaman pegunungan tengah Pulau Papua. Terletak di Lembah Balim dan dialiri Sungai Balim serta dikelilingi Pegunungan Jayavijaya di sebelah selatan, kota ini berada pada ketinggian kurang lebih 1.800 meter di atas permukaan laut. Kota Wamena masih memiliki udara yang bersih dan bebas dari polusi udara seperti kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Baca Juga  Tari Saman Dari Aceh Memiliki Pola Lantai Berbentuk

Festival Budaya Lembah Baliem

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, warga Kabupaten Wamena terlihat beragam berdasarkan keyakinan agamanya. Kabupaten Wamena memiliki 84,51% agama Kristen (Protestan 69,06% dan Katolik 15,45%), Islam 15,27% dan sebagian kecil beragama Hindu yaitu 0,12% dan Lainnya 0,10%.

Sedangkan untuk tempat ibadah terdapat 59 gereja Protestan, 6 bangunan gereja Katolik, disusul 4 bangunan masjid dan 7 musala, 2 bangunan candi, dan 1 bangunan vihara.

Wamena memiliki Bandara Wamena yang menghubungkan wilayah Jayavijaya ke Jaipara dan kabupaten lain seperti Lani Jaya, Yahukimo, Tolikara dan kabupaten lainnya. Seperti kebanyakan kota di dataran tinggi Papua, kota ini berkembang dengan pola pembangunan di sekitar bandara. Kota ini sangat indah dan masih memiliki keindahan alam serta banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Apalagi saat musim festival budaya Papua di Distrik Wosilimo, kota ini ramai dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara.

Sebagai pusat perekonomian di kawasan Pegunungan Tengah, masyarakat Wamena kini terhubung dengan ruas-ruas utama Jalan Raya Trans Papua seperti Jaipara-Elilim-Wamena 590 km, Wamena-Mulia-Ilaga-Enrotali 466 km. Juga Wamena-Habema-Kenyam-Mumugu 295 km.

Tabloid Desember 2011 Alternatif.pdf By Kedung Kedung

Perkembangannya sedang berlangsung. Jalan tersebut akan memperlancar akses logistik antar wilayah, sehingga menjaga harga bahan pokok tetap murah. Dibutuhkan waktu dua hingga tiga hari dari Jayapura melalui jalur darat. Salah satu hal utama yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Wamena adalah salah satu suku terbesar di Papua. Menarik untuk mempelajari dan menyaksikan kehidupan suku Dani ketika berkunjung ke Wamena.

Sebuah taman di kota Wamena dibangun untuk menghormati kepribadian masyarakat Wamena

Lirik lagu di atas sangat tepat menggambarkan kondisi masyarakat Wamena, sebuah kota kecil yang menarik di Lembah Balim Papua. Kondisi masyarakat sebenarnya sangat berbeda dengan masyarakat perkotaan pada umumnya, sehingga mereka terkesan sebagai “mata uang”, padahal kenyataannya tidak. Pertanian dan pariwisata sebenarnya menjadi sumber pendapatan utama mereka, namun tidak banyak memberikan kontribusi terhadap program yang dirancang pemerintah. Mereka memerlukan perhatian lebih, karena kondisi alam menuntut mereka untuk hidup sangat keras.

Kota Wamena terletak di dataran tinggi tengah Papua. Kota kecil ini terletak di tengah Lembah Balim, salah satu lembah paling subur dan terkenal di Papua. Wamena pada mulanya adalah sebuah kota kecamatan, bagian dari Kabupaten Jayawijaya. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kota ini telah menjadi sebuah kabupaten dan membawahi sekitar 7 kabupaten yang tersebar di wilayah Lembah Balim, dan ada laporan mungkin masih ada lagi. Terletak di lembah besar yang dikelilingi pegunungan di ketinggian 1600 meter di atas permukaan laut, kondisi geografis Wamena sungguh menantang. Udara di sini sangat sejuk, namun panas di siang hari masih tak tertahankan.

Baca Juga  Cangkul Merupakan Alat Tradisional Yang Digunakan Dalam Bidang

Tokoh Yang Kehadirannya Hanya Sebagai Penunjang Tokoh Utama Disebut2. Tokoh Utama Dalam Cerita

Kondisi alam yang demikian menjadi tantangan tersendiri bagi warga Wamena dan sekitarnya. Hal ini terutama dirasakan dalam hal kebutuhan sehari-hari yang langka dan sulit ditemukan. Jika ada, harganya pasti terlalu mahal. Kondisi alam yang dimiliki Wamena membuat pendistribusian barang-barang tersebut memerlukan penggunaan transportasi udara. Tak heran jika harga di Wamena tergolong mahal dibandingkan kota lain di Papua.

Namun biaya Wamena bukan menjadi penghalang bagi wisatawan untuk menikmati keindahan Lembah Balim. Wamena yang dalam bahasa lokal berarti Tom Babi juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan dari dalam dan luar Indonesia. Wamena dikenal unggul dalam bidang pariwisata, tradisi, seni, dan kuliner. Keunggulan ini sangat berbeda dan berharga, apalagi dibandingkan dengan wilayah Papua lainnya.

Salah satu hal utama yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Wamena adalah salah satu suku terbesar di Papua. Menarik untuk mempelajari dan menyaksikan kehidupan suku Dani ketika berkunjung ke Wamena. Mereka mempunyai tradisi tarian dan bela diri yang sangat unik dan tidak dapat dilupakan seumur hidup. Selain itu, mumi tetua suku juga menjadi pilihan menarik untuk disimak.

Tak hanya kehidupan suku dan tradisinya saja yang unik, alam sekitar Wamena juga punya keindahan tersendiri. Keindahan sungai Balim, bukit-bukit yang mengelilingi lembah, pasir putih yang aneh dan sumber air asin, gua terpanjang di dunia serta beragamnya flora dan fauna yang tidak ditemukan di tempat lain adalah beberapa menu istimewa saat kita menikmati alam. dari lembah Balim.

Pangan Untuk Rakyat: Akankah Padi Menggantikan Ubi Di Wamena?

Lalu kalau bicara soal memasak, Wamena punya menu khas yang hanya ada di tempat ini. Udang selingkuh yang sangat populer di kalangan wisatawan ini wajib dicoba saat berkunjung ke Wamena. Sejenis udang air tawar dengan capit berbentuk kepiting, mungkin satu-satunya yang bisa kita nikmati di Wamena. Berburu bersama warga sekitar di Sungai Balim semakin istimewa.

Baca Juga  Hal-hal Yang Membuat Gambar Cerita Terlihat Menarik Adalah

Wamena mempunyai lebih banyak tempat wisata. Skenario harga yang mahal tersebut tidak layak mengingat berbagai manfaat alam dan tradisional Wamena. Persoalannya bukan pada harga yang mahal, tapi bagaimana kita mengubah cara berpikir masyarakat lokal agar tidak lagi mengandalkan uang, melainkan kualitas hidup sumber daya manusianya. Semuanya harus ditangani Wamena agar tetap menjadi donatur utama Mutiara Hitam Papua. [@fosfon/]Hangatnya matahari bulan September menyinari Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya. Sore itu, di balik tembok gedung “Venehule Habi” lantai empat ruang dinas pertanian, Marinus Kos dan Viktor Malisa sedang berdiskusi serius.

Marinus Kos mengepalai Departemen Prasarana Tanaman Pangan dan Hortikultura, sedangkan Victor Malissa adalah Sekretaris Dinas Pertanian. Marinus Kos berasal dari Wamena, Victor berasal dari Malisa Toraja, namun lahir dan besar di Wamena.

Ia membahas pengembangan program pajale (padi, jagung, dan kedelai) di Jayawijaya sebagai bagian dari Upaya Khusus Swasembada Pangan (APSUS) Kementerian Pertanian. Kebetulan Marinus Kos memimpin pengelolaan program ini di Kabupaten Jayavijaya.

Cerita Samuel Wamu Masuk Akmil, Orang Tua Sampai Jual Babi

Tantangan terbesarnya adalah bagaimana mengembangkan pertanian biji-bijian pangan di lembah Balim. Banyak yang khawatir makanan pokok tradisional seperti ubi (hiper), makanan pokok masyarakat Dani, akan hilang jika pertanian padi berkembang.

Marinus yang menyelesaikan studinya di perguruan tinggi pertanian di Jayapura ini mengaku petani belum terbiasa mengembangkan tanaman ini. Sedikit yang meragukan rencana ini.

Di sisi lain, tujuan dari program ini tidaklah sepele. Konon Presiden sendiri yang memerintahkan pengembangan komoditas Paige di Jayawijaya. Harapannya sangat besar agar warga Jayawijaya tidak lagi bergantung pada daerah lain untuk kebutuhan pangannya. Selain menekan biaya, tercipta kemandirian masyarakat.

Terlebih lagi, pemekaran kabupaten di Dataran Tinggi Tengah telah meningkatkan prioritas kebutuhan pangan masyarakat di masa depan. Kabupaten baru Lani Jaya, Tolikara dan Yalimo dinilai cocok dan belum ada lahan sawah.

Gereja Papua Menyelamatkan Pendatang: ‘setiap Orang Adalah Nayak’

Namun, beberapa orang percaya bahwa program ini akan menghancurkan pertanian kapas lokal. Archblad menyebut kata tersebut sebagai jenis makanan tradisional masyarakat yang berakar selama ribuan tahun di Lembah Balim – menghadap ke lembah Lembah Hijau (Lemba Agung).

Asal muasal plastik, asal muasal batu pandan, asal muasal, asal muasal kutu rambut, asal muasal uang, asal muasal tuyul, asal muasal agama, asal muasal hiv, asal muasal syiah, asal muasal suku karo, asal muasal kristen, asal muasal batu pirus