Madiun

Cegah Jadi Kota Plastik, Wawali Ajak Anak Ciptakan Kota Madiun Zero Waste

MADIUN – Sampah plastik menjadi momok bagi kawasan perkotaan. Dalam sehari Kota Madiun menghasilkan sedikitnya 110 ton sampah. Dari total itu, mayoritas merupakan sampah plastik. Jika tidak segera dikurangi, mungkin sepuluh tahun mendatang kota ini akan menjadi kota plastik.

Butuh komitmen dan konsisten seluruh elemen untuk mengurangi penggunaan barang yang menghasilkan sampah plastik. Mengingat dampak sampah plastik yang tidak dapat diurai mengancam kelestarian lingkungan. Pun mengancam kesehatan masyarakat.

Karena itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Madiun terus mendorong upaya menciptakan kota zero waste (bebas sampah plastik). Salah satunya mengajak masyarakat sejak usia dini untuk mengurangi produksi sampah plastik. Seperti yang dilakukan di SDN 2 Demangan. ’’Kami terus mendukung upaya seperti ini, karena memang kami concern terhadap permasalahan sampah yang mengancam kelestarian lingkungan kota,’’ kata Wakil Wali Kota (Wawali) Madiun Inda Raya saat berkunjung ke SDN 2 Demangan Senin (22/7).

Sekolah tersebut merupakan salah satu dari sepuluh sekolah yang telah menerapkan program zero waste. Sejak semester tahun ini siswa diwajibkan untuk membawa bekal atau makan bersama yang disediakan pihak sekolah. Itu dilakukan untuk mengajari siswa mengurangi penggunaan tempat makan sekali buang. ‘’Bawa bekal atau disediakan dari sekolah merupakan langkah tepat. Untuk mengurangi produksi sampah plastik,’’ ujarnya.

Inda menjelaskan bahwa gerakan tersebut mengajarkan anak tentang dampak buruk sampah plastik. Terutama bagi kelestarian lingkungan. Racun-racun dari partikel plastik dapat mencemari tanah, air, dan udara. ’’Saya senang banget dapat kegiatan bareng anak-anak di sekolah ini. Artinya, kita satu visi yaitu mengurangi produksi sampah plastik,’’ ungkapnya.

Pihaknya mendukung penuh gerakan serupa yang dilakukan sekolah lain. Kendati demikian, pihaknya berharap gerakan tersebut dapat diterapkan di seluruh sekolah. Pun pihaknya menargetkan seluruh sekolah, baik negeri maupun swasta, menerapkan gerakan zero waste. ’’Memang harus ada satu gerakan yang dilakukan di kota ini,’’ sambungnya.

Terkait larangan anak membeli jajanan di luar sekolah, Inda mengungkapkan bahwa hal tersebut menyesuaikan dengan kebijakan sekolah masing-masing. Pihaknya bersama dinas kesehatan (dinkes) juga telah melakukan peninjauan terhadap jajanan di luar sekolah. Apakah layak dan memenuhi syarat kesehatan. ’’Kami inventarisasi jajanan itu layak atau tidak,’’ tuturnya.

Terpenting, dimulai dari anak-anak untuk peduli lingkungan dan menjaga masa depan bumi. Inda juga berharap seluruh elemen masyarakat dapat ambil peran untuk menjaga kelestarian lingkungan. ‘’Sekali lagi kami terus mendukung gerakan peduli lingkungan,’’ tegasnya.

Kepala SDN 2 Demangan Ernawati mengungkapkan bahwa sekolah menerapkan aturan anak-anak dilarang membawa uang. Sekolah hanya mengizinkan siswanya membawa bekal dari rumah. Atau dapat menggunakan fasilitas yang disediakan sekolah melalui kantin. ‘’Boleh bekal dikirim orang tua atau ikut program kantin. Terpenting anak-anak tetap makan makanan sehat dan higienis,’’ ucapnya. (mg7/c1/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button