Bupati Menulis

Catatan Sejarah Pejuang Veteran Magetan

BAPAK saya berusia remaja ketika proklamasi dibacakan Soekarno-Hatta. Tak heran, seperti pemuda seusianya, bapak ikut berjuang mengangkat senjata. Sebagai prajurit, bapak ditugaskan di berbagai medan pertempuran. Mulai agresi pertama dan kedua melawan penjajah, menumpas pemberontakan Kahar Mudzakar di Sulawesi Selatan, dan terakhir mengamankan pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) Papua tahun 1969.

Ketika kecil, saya sangat bangga pada bapak. Kalau pulang dinas, bapak membawa senjata semiotomatis. Saya tidak tahu persis jenisnya. Tapi, peluru ada di samping seperti yang digunakan para pejuang kemerdekaan di medan tempur film layar lebar. Bapak juga sering menceritakan pengalamannya bertugas. Sayang, saya tidak mencatatnya.

Sebagai prajurit, hidup bapak sungguh sederhana. Bahkan, ketika 1969 terjadi kekeringan dan kekurangan pangan, Indonesia mengimpor bulgur dari Amerika Serikat. Bulgur identik dengan makanan orang miskin. Beredar kabar bahwa bulgur merupakan makanan kuda di negara asalnya. Sebagai anak prajurit, jatah beras diganti bulgur. Saya pun terbiasa makan bulgur.

Ketika pensiun sebagai bintara, dan sepuh, bapak sering lupa. Saat usianya di atas 80 tahun sudah tidak mengenali putra-putrinya. Yang membuat sedih, saat kami menjenguk dan mencium bapak, beliau sering lupa. ‘’Kowe kuwi sapa?’’ Betapa sedihnya. Kalimat itu terucap dari bapak yang saya cintai dan banggakan.

Saat rangkaian perayaan HUT Kemerdekaan RI tahun 2019, saya berkesempatan mengunjungi veteran. Selalu teringat bapak. Saat ini semua sudah sepuh, namun semangatnya ketika bercerita tentang perjuangannya selalu berapi-api. Saya tidak mau kejadian seperti bapak terulang. Saya harus mencatat dan menarasikan. Saya harus menghimpun cerita perjuangan para veteran. Dalam bentuk buku.

Segera saya memanggil kepala Bakesbangpol Magetan untuk mewawancarai semua veteran di Magetan. Saya minta mencatat dan merekam di mana berjuang. Kalau prajurit, dari kesatuan apa. Bagaimana pengalaman selama berjuang. Harapan saya, kalau semua cerita dinarasikan dalam bentuk buku, itu dapat menjadi warisan kepada anak cucu kelak.

Alhamdulillah, saat ini buku tersebut sudah jadi. Sebagai kado hadiah kepada veteran Magetan, bertepatan HUT Ke-76 Kemerdekaan RI. Dengan bantuan dua wartawan Magetan yang merekam dan menarasikan menjadi buku dengan judul Catatan Sejarah Perjuangan Veteran Magetan. Tebalnya 243 halaman.

Buku ini tentu jauh dari sempurna. Bagi saya tidak mengapa. Yang penting niatnya baik, menjaga supaya catatan perjuangan tidak hilang ketika para pelakunya kelak tiada. Ada 56 tokoh veteran di Magetan yang terekam dalam buku ini.

Seperti catatan Sri Ngestoe Padinah, seorang veteran. ‘’Masuknya kembali bala tentara Belanda ke wilayah Magetan memaksa pejuang dan penduduk pribumi melakukan perlawanan. Dengan strategi perlawanan dari luar kota. Saya sebagai seorang gadis yang pada waktu itu berusia 18 tahun terpanggil atas rasa tanggung jawab ikut berjuang. Kemudian ketika peristiwa PKI Muso, saya bergabung dengan kesatuan Detasemen KDM pimpinan Lettu Abdul Karim Soesanto yang bermarkas di Desa Pendem, Kecamatan Poncol.”

Kemudian catatan Umar, seorang veteran yang ikut pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Betapa heroiknya pengorbanan para pejuang dia ceritakan. ‘’Setelah tiga bulan ikut pendidikan sekolah calon tamtama di Magetan, meletus pertempuran 10 November 1945. Waktu perang meletus, saya bersama Batalyon 520 berada di jembatan Merah. Lokasi perang yang sangat sengit. Saat itu saya menggunakan senjata karaben peninggalan Belanda dengan peluru yang terbatas. Menggunakan senjata karaben harus sabar. Peluru harus diisi satu per satu. Setiap habis menembak, kita harus membersihkan laras senapan dengan lope yang terbuat dari lembaran kulit jagung.

Tidak tebersit rasa takut sama sekali. Karena tidak mau dijajah kembali, terlecut semangat pantang menyerah. Bahkan nyawa diserahkan. Para pejuang menghadapi tentara Belanda dan Sekutu yang menggunakan senjata modern seperti tank, pesawat tempur, dan kapal laut modern.”

Demikian juga catatan Mayor Sukarjo sebagai ketua perhimpunan veteran di Magetan yang bertugas dalam penumpasan DI/TII, PRRI Permesta, dan Operasi Timor Timur. Dalam salah satu catatannya, ‘’ketika penumpasan DI/TII, saya masuk sebagai anggota Batalyon Yonif 301 yang dipimpin Mayor Kamil. Pemberontakan gerombolan DI/TII pimpinan Kartosuwirjo dapat ditumpas dan Kartosuwirjo bisa ditangkap. Seluruh anak buahnya menyerahkan diri kepada TNI. Terima kasih Divisi Siliwangi, engkaulah yang mendewasakan, membesarkan Soekarjo sebagai prajurit sejati dalam meniti karier militer.”

Masih banyak catatan dari para veteran. Supaya buku tidak hanya dibaca warga Magetan, maka buku ini juga dibagikan ke seluruh perpusda se-Jawa Timur. Harapannya, bisa dibaca siapa saja, khusunya para generasi yang akan datang.

Akan lebih bagus apabila setiap daerah dapat membuat buku catatan perjuangan veteran. Setiap cerita yang menarik dapat dijadikan buku perjuangan veteran di tingkat provinsi. Kemudian, bisa juga menjadi bahan buku tingkat nasional. Saya yakin akan menjadi kado indah dalam perayaan HUT kemerdekaan yang akan datang. Mumpung para pelakunya masih sugeng. Betapa ruginya kalau kita tidak segera mencatat dan membukukan perjuangan mereka.*(naz/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button