Madiun

Catatan Perjalanan Umrah Ladima Keberangkatan 23 November 2019 (2)

Askar Saudi Razia Mutawifah Indonesia

Banyak tenaga kerja wanita (TKW) melarikan diri dari rumah majikannya di Jeddah.  Mereka memilih jadi mutawifah di Madinah. Askar atau Polisi Saudi pun acap merazia mereka di Raudah. Berikut catatan yang ditulis Pimpinan Ladima Tour & Travel H SOENARWOTO.

========================

MADINAH Al Munawarah, Sabtu (24/11) sekitar pukul 07.30 Waktu Arab Saudi (WAS). Pagi itu, hari pertama di Madinah. Seusai sarapan, jamaah umrah grup Barokah dan Gemuyu melakukan pengenalan sekaligus ziarah di Masjid Nabawi. Agenda utamanya, jamaah laki-laki ke Raudah dan menziarahi makam Nabi Muhammad SAW. Sedangkan jamaah perempuan hanya ke Raudah untuk salat Tahiyatul Masjid, Duha, dan berdoa sesuai hajat masing-masing.

Tapi, jamaah perempuan belum bisa ke Raudah. Pagi itu hanya bisa mendatangi Masjid Nabawi. Sesuai agenda, ibu-ibu itu diajak ke Raudah berombongan dipandu mutawifah (pembimbing doa perempuan). Berhubung mutawifahnya mendadak tidak bisa datang, rombongan ibu-ibu ke Raudah ditunda malam hari. Setelah salat Isya.

‘’Ibu-ibu jamaah, mohon maaf. Mutawifah yang biasa mengantar rombongan kita ke Raudah pagi, tiba-tiba tidak bisa menjalankan tugasnya. Dia bisa mengantar nanti malam. Jadi, pagi ini hari pertama kita di Madinah belum bisa berombongan ke Raudah. Ibu-ibu jamaah bisa iktikaf dan salat Duha dulu di Masjid Nabawi,’’ kata Hj Arie Juwariah, owner Ladima Tour & Travel.

Para jamaah perempuan pun memaklumi. Di antara mereka ada yang tetap iktikaf di Masjid Nabawi dan ada yang balik ke hotel untuk istirahat. Memulihkan tenaga setelah perjalanan jauh. Maklum, semalam baru datang di Madinah. Di mana waktu tempuh penerbangan antara Bandara Juanda-Madinah mencapai 10 jam. Itu belum lagi jalan daratnya. Melelahkan.

Para mutawifah terpaksa menunda agenda memandu jamaah ibu-ibu ke Raudah karena banyak Askar atau Polisi Arab Saudi melakukan razia. Khususnya menyasar mereka yang tidak memiliki iqamah atau surat kerja sesuai visanya. Para mutawifah yang dirazia itu utamanya TKW yang melarikan diri dari rumah majikannya dan memilih jadi mutawifah.

‘’Belakangan ini banyak pekerja pembantu rumah tangga dari Jeddah yang melarikan diri dari rumah majikannya. Mungkin kurang gajinya atau tidak betah tinggal di rumah majikannya. Lalu mereka ke Madinah jadi mutawifah. Sebenarnya, mereka inilah yang dirazia Askar Saudi. Tapi, jika tak menemukan mereka, kita-kita yang punya iqamah juga ditangkapi,’’ ungkap Ustadah Uswatun.

Beberapa pekan lalu, ada sekitar 10 mutawifah asal Indonesia yang ditangkap Askar saat memandu jamaah di Raudah. Mereka umumnya tidak memiliki iqamah atau memiliki iqamah tapi tak sesuai pekerjaan di visanya. Banyak mutawifah yang terkena razia dipulangkan ke Indonesia. Sebelum dipulangkan, sekitar satu bulan dikurung di penjara.

‘’Jika nasib baik, ketika tertangkap Askar yang butuh uang, kita cuma diperas lalu dilepas. Tapi, jika tertangkap polisi yang butuh prestasi, ingin naik pangkat, kita bisa dipulangkan. Lalu, kalau kita pulang ke Indonesia mau kerja apa?’’ tutur Uswatun.

Untuk itu, para mutawifah kini tak bisa setiap saat mengantar jamaah ke Raudah. Meski diiming-imingi honor besar pemilik travel Indonesia. Mereka bersedia mengantar rombongan jika situasi Raudah benar-benar aman. Tidak ada razia. Sedangkan jadwal razia itu pun sulit diprediksi. Apalagi, para Askar selalu menyamar jadi jamaah saat razia di Raudah.

‘’Yang relatif aman itu malam hari setelah salat Isya. Sehingga, ibu-ibu jamaah Ladima saya pandu ke Raudah malam hari. Untuk ke Raudah yang kedua bisa saya antarkan pagi hari. Tapi saya lihat dulu ada razia tidak. Meskipun punya iqamah, tapi saya tidak mau ambil risiko,’’ jelas Uswatun.*** (don/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close