Ngawi

Catatan dari Misi Perdamaian PBB Bripka Paupi Raditiya Wijaya

Bersyukur Hidup di Indonesia setelah Melihat Anak-Anak Afrika

Bersyukur anak-anak Indonesia. Khususnya di Ngawi. Sebab, serba berkecukupan. Beda dengan di Mpoko, Bangui, Afrika Tengah. Mereka hidup dalam bayang-bayang konflik dan serba kesulitan.

=====================

LATIFUL HABIBI, Ngawi, Jawa Pos Radar Ngawi

BERAGAM ekspresi ditunjukkan anak-anak Mpoko, Bangui, Afrika Tengah, ketika diajak foto. Ada yang memandang smartphone untuk mengambil gambar dengan penuh penasaran. Ada juga yang tak ragu berpose sesuai gaya layaknya anak-anak. Begitulah anak-anak dari arrondissement, semacam distrik tersebut, ketika diajak foto.

Anak-anak itu tak canggung diajak foto orang asing. Itu membuat Paupi Raditiya Wijaya selalu mengambil gambar bersama mereka. Termasuk ketika medistribusikan air bersih beberapa waktu lalu. ‘’Kebetulan saya kebagian jatah dokumentasi dalam program itu, sambil memotret saya ajak anak-anak foto bersama,’’ ujar anggota polisi berpangkat bripka ini.

Sejak lima bulan lalu, anggota Satreskrim Polres Ngawi ini memang di Afrika Tengah. Ikut misi perdamaian Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Paupi satu-satunya anggota polisi dari Ngawi di program Formed Police Units (FPU) Minusca-UN angkatan pertama 2019 ini. Paupi bertugas sebagai operator IT. Dia bertanggung jawab atas kelancaran koneksi internet, komunikasi, dan sejenisnya.

Suami Sheli Andriani ini bakal tinggal sekitar enam bulan lagi di negara itu. Banyak pengalaman baru didapat Paupi di negara berkategori zona merah tersebut. Mulai mengenal penduduk Mpoko yang baik dan ramah hingga lingkungan yang nyaris tidak beda dengan Indonesia. ‘’Hampir sama. Di Mpoko juga ada dua musim. Mungkin karena sama-sama di garis khatulistiwa,’’ terangnya.

Satu pengalaman paling berkesan bagi ayah satu anak ini. Yakni, kehidupan anak-anak Mpoko. Melihat kondisi mereka, hati Paupi selalu tersentuh. ‘’Sebenarnya mereka sama dengan di Indonesia. Mereka juga sekolah, tapi tidak ada yang pakai seragam,’’ cerita pria kelahiran Ngawi, 4 Agustus 1985, tersebut.

Warga Desa Tambakromo, Geneng, itu cukup mengenal anak-anak Mpoko. Dari semua penduduk di wilayah tersebut, hanya anak-anak yang terbuka kepada orang asing. Mereka mau bergaul tanpa rasa curiga. Juga mudah diajak bercerita. ‘’Yang paling membuat saya sedih mereka sangat bersemangat belajar, tapi fasilitas pendidikan tidak ada,’’ ungkapnya.

Pun masih banyak problem kehidupan lain. Mulai kesulitan pangan, air bersih, dan sebagainya. Belum lagi situasi di daerah konflik yang setiap saat terjadi baku tembak dan ledakan bom. Setiap patroli atau tugas lain keliling wilayah, Paupi bersama anggota FPU menyempatkan menghampiri anak-anak. Menghibur mereka. ‘’Sangat bersyukur lahir dan tinggal  di Indonesia yang serba berkecukupan. Di Afrika, makan dan minum susah, apalagi sarana belajar,’’ ucapnya.*** (sat/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button