Ngawi

Dua Pria Ini Berdandan ala Setan untuk Mendulang Rupiah

Setan dan hantu identik dengan makhluk gaib yang menakutkan. Namun, di era sekarang, tak sedikit setan-setan justru dicari dan dijadikan buruan untuk diajak selfie atau wefie. Momen tersebut turut dijadikan warga sebagai bahan adu kreativitas mendulang rupiah. Seperti yang dilakoni Taufik dan Winarno yang sengaja menyamar jadi pocong dan kuntilanak.

—————

SUGENG DWI, Ngawi,  Jawa Pos Radar Ngawi

PUTIH kain kafan tampak melilit sosok di bawah pohon beringin itu. Rambut terurai sepinggang dengan putih pucat wajah membuat bulu kuduk siapa saja berdiri. Tak sendirian, sosok makhluk berkain kafan dengan wajah tak kalah pucat dan seram. Tangan dibalut kain dengan kaki terikat membuat gerak tubuh hanya meloncat-loncat. ’’Baru sekitar satu bulan di sini,’’ kata pocong dan kuntilanak itu.

Kemunculan dua makhluk astral tersebut sontak membuat warga yang berkunjung ke Alun-Alun Merdeka Ngawi ketakutan. Sebagian yang menyadari pocong dan kuntilanak jadian-jadian itu justru penasaran dan memberanikan diri berswafoto. Dua makhluk gaib yang mangkal di depan pendapa Ngawi  itu didalangi oleh Taufik Roizal dan Winarno. ’’Sengaja dandan mirip pocong buat foto-foto,’’ ujar Taufik Roizal, pria yang berperan sebagai pocong itu.

Ide kostum setan diilhami Taufik dari bekennya kegiatan serupa di alun-alun daerah lain, seperti Malang dan Surabaya. Di kota apel itu, aksi numpang selfie dengan makhluk astral booming dan jadi viral. Tak kalah beken, aksi warga Dusun Pablengan, Kiyoten, Kasreman, itu jadi buah bibir warga Ngawi. Di akhir pekan misalnya, 50 hingga ratusan pengunjung alun-alun antre minta swafoto dengan dua setan tersebut. ’’Kadang ada yang ngasih uang seikhlasnya,’’ terangnya.

Menjadi setan bukan perkara mudah. Meski tampak sepele, ada rasa deg-degan saat mengawali karirnya. Pria yang kesehariannya menjadi petani itu sempat ragu dan takut saat berdandan. Mangkal dari pukul 19.00 hingga pukul 22.00, tak jarang permintaan aneh-aneh seperti naik pohon atau pose terbang kerap diminta para pelanggan. ”Kalau waktu pulang dilepas kostumnya, takutnya nanti kalau ada yang lihat di jalan, diamuk,” selorohnya sembari menyebut datang ke alun-alun mengendarai sepeda motor.

Selain rasa sungkan, keduanya butuh usaha ekstra untuk berdandan menjadi setan. Taufik dan Winarno biasanya mulai dandan sejak pukul 17.00. Bagian riasan jadi momen tersulit. Pun keduanya harus saling menutupi wajah dengan bedak tebal bergantian sambil memastikan dandanan tampak seram. Sementara untuk kostum dan seragam dipakainya di toilet alun-alun agar para pengguna jalan lain tak gempar. ’’Karena nggak biasa make-up walaupun cuma riasan serem, rasanya sulit juga,” ungkap pria kelahiran 26 September 1998 itu. *****(ota/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close