Magetan

Cara Karang Taruna Bulukerto Hidupkan Kembali Hutan Kota

MAGETAN – Benang kusut alih fungsi hutan kota Jelok makin berlarut-larut. Setelah pihak Karang Taruna Bulukerto merasa dikambinghitamkan atas pendirian warung di lokasi tersebut. Karena sebenarnya pendirian warung itu merupakan inisiasi dari dinas lingkungan hidup (DLH). Saat itu, alasannya untuk pengembangan hutan Jelok. Supaya kesannya ramai.

Di sisi lain, pendirian bangunan warung itu merupakan hasil swadaya masyarakat sekitar, forum komunitas hutan kota, dan komunitas panahan. ‘’Kami justru datangnya belakangan,’’ terang Ketua Karang Taruna Bulukerto, Purwanto Selasa (7/5).

Pihaknya mengklaim pendirian warung itu juga tidak permanen. Sehingga, bisa dibongkar setiap waktu. Di samping itu, pada proses pembangunan warung tersebut tidak merusak hutan. Seperti tidak ada penebangan pohon dan hanya sekadar perapian tanaman supaya terlihat rapi.

Sedangkan untuk material bangunan warung, kata Purwanto, memanfaatkan sisa bambu dan kayu. ‘’Kami tidak menebang pohon, bahkan kalau bisa menambahnya,’’ katanya.

Soal tujuan pendirian warung di hutan Jelok, Purwanto mempunyai pandangan tersendiri. Awalnya hanya memang digunakan untuk tempat berkumpul warga. Namun, lambat laun keberadaan warung tersebut dikomersilkan. Tapi, pengelolaannya tidak atas nama pribadi. Melainkan elemen masyarakat yang tergabung dalam warung huko (hutan kota). ‘’Sementara hasil dari penjualan itu digunakan kembali untuk operasional. Seperti pemeliharaan hutan dan membayar listrik,’’ ungkap Purwanto.

Sementara terkait pemanfaatan sebagian lahan hutan kota untuk kegiatan panahan, Purwanto mengungkapkan hanya sekadar memfasilitasi komunitas. Mereka butuh lapangan alternatif. Tujuan lainnya juga dijadikan sebagai tempat rekreasi bagi dua pondok pesantren (ponpes) Bulukerto. ‘’Bisa juga dijadikan untuk tempat silaturahmi,’’ ujarnya.

Terpisah, Ketua RT 02/RW 01 Bulukerto Imam Yahya mengatakan, keberadaan hutan Jelok sudah terbengkalai sejak ditetapkan sebagai hutan kota pada 2014 lalu. Bahkan, sebelumnya sempat dijadikan sebagai tempat mesum dan pembuangan sampah liar. ‘’Kami ini berusaha untuk menghidupkan kembali hutan kota. Supaya ada giat lagi,’’ jelasnya.

Di pihak lain, Ketua Forum Komunitas Hutan Kota Wahyudi menyatakan bahwa pendirian warung huko itu berangkat dari pesan bupati Suprawoto. Di mana, Magetan merupakan daerah kecil, namun masalahnya banyak. Sudah semestinya, warga tidak menjadi bagian dari masalah tersebut, tapi menjadi bagian solusi.

Karena itu, Wahyudi menyadari ada 12 hutan kota di Magetan yang semuanya tidak tersentuh pemkab. Sehingga, dia berinisiatif untuk membantu merawat dan menjaganya. ‘’Hutan Jelok ini menjadi pilot project partisipasi masyarakat dalam membangun Magetan,’’ ungkapnya. (bel/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close