featuresMadiun

Cara Irwan Budiyanto Suburkan Tanaman, Sulap Popok Jadi Pupuk

Terkenang pencemaran lingkungan saat menjadi relawan banjir 2019 silam, Irwan Budiyanto berhasil menyulap popok menjadi pupuk. Terobosan itu baru digagasnya setelah magister pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta itu dikaruniai putra pertama empat bulan lalu.

DENI KURNIAWAN, Geger, Jawa Pos Radar Caruban

KENAN Cakra Dikara Cendekia, buah pernikahan Irwan dengan Triana Ratna Wulandari, lahir Juli lalu. Di masa awal, pasangan ini menghabiskan dua sampai tiga lembar popok setiap hari untuk membalut si jabang bayi. ‘’Semula popok itu saya pendam di kebun dekat rumah,’’ kata warga Sambirejo, Geger, Kabupaten Madiun, itu.

Irwan tak ingin termasuk golongan perusak lingkungan. Dia resah melihat limbah yang sulit terurai tanah itu. Dia terkenang saat menjadi relawan banjir bandang yang melanda Kabupaten Madiun, 2019 silam. Saat itu dia mendapati banyak limbah popok bayi yang terbawa arus banjir. ‘’Setidaknya yang saya lakukan ini bisa mengurangi potensi banjir karena saluran air tersumbat,’’ ujarnya.

Berbekal disiplin ilmu yang dipelajari dan menambah referensi, dia berhasil memanfaatkan ”gel” dari popok. Untuk mengurai limbah, Irwan mengombinasikan leri (air cucian beras), tetes tebu, dan tempe dengan takaran tertentu. Jika kehabisan leri, diganti air kelapa. Tempe juga bisa diganti tapai singkong. Fermentasi larutan pengurai itu butuh waktu sepekan. ‘’Sebenarnya larutan pengurai itu bisa beli di toko pertanian. Tapi, lebih hemat kalau meracik sendiri,’’ terang magister manajemen agribisnis itu.

Irwan puas mendapati eksperimennya berhasil menyuburkan tanaman. Mulai cabai, tomat, terong, dan lainnya. Jika normalnya pemupukan sebulan sekali, pupuk popok ini cukup dua bulan sekali. ‘’Saya masih menyempurnakan temuan ini agar seluruh kotoran dari popok bisa diolah menjadi pupuk,’’ tuturnya.

Irwan total menelateni dunia agribisnisnya. Keputusan ini sampai memantapkan hatinya untuk pulang ke Madiun. Saat memutuskan resign, perusahaan pertanian di Jogjakarta tempatnya bekerja justru mengembangkan sayap di kampung halamannya. ‘’Beruntung sekali. Saya ingin berbagi ilmu kepada petani-petani di sini agar tidak ketinggalan jauh dengan petani lain seperti di Jogja,’’ pungkasnya. *** (fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button