Ponorogo

Cantik Energik Terry Nur Dyanti Agustin

Smash Keras dan Tajam Menghunjam Area Lawan

Proses tak pernah mengkhianati hasil. Kerja keras itu mengantarkan Terry Nur Dyanti Agustin berlaga di berbagai kompetisi bergengsi. Dara cantik nan energik ini menekuni bola voli sejak duduk di bangku SMP.

=======================

MIZAN AHSANI, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

TELAPAK tangan Terry Nur Dyanti Agustin, 21, berharga mahal. Dari telapak tangannya itu, tak jarang poin-poin krusial didapat tim bola voli yang dibelanya. Dara kelahiran 1998 ini dikenal sebagai salah seorang spiker muda berbakat di Bumi Reyog. Dengan gaya permainan yang keras dan tajam menghunjam area lawan. ‘’Sejak SMP saya senang voli. Tidak pernah berhenti bermain sejak saat itu,’’ katanya.

Saat ini Terry berstatus sebagai atlet di bawah binaan Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Ponorogo. Dia pun masih berkuliah di IAIN Ponorogo. Terakhir, perempuan dengan tinggi 162 sentimeter itu membawa bendera Ponorogo di Pekan Olahraga Remaja Provinsi (Porprov) VI Jatim 2019. ‘’Sebelumnya sudah pernah ikut di Porprov V Banyuwangi, 2015 lalu,’’ sebutnya.

Pukulan kerasnya membuat Terry tidak bertahan di satu tim saja. Banyak tawaran membuatnya sering berganti seragam. Misalnya, pernah bergabung dalam tim bola voli kampusnya dan bertanding di sebuah kompetisi olahraga di Aceh. Tak terhitung sudah berapa kompetisi yang diikuti. Banyaknya pengalaman bertanding membuat jam terbangnya semakin tinggi. ‘’Permainan semakin berkembang karena sering bermain di banyak kejuaraan,’’ tuturnya.

Namun, tidak semua kejuaraan dilewati dengan mudah. Banyak pertandingan yang begitu menguras tenaganya. Menghadapi berbagai tim yang kuat dengan perlawanan yang sengit sempat membuatnya cedera engkel. ‘’Dislokasi membuat saya vakum tiga bulan. Sampai kangen sekali bermain, tapi tidak dibolehkan,’’ kenang atlet dengan berat badan 61 kilogram itu.

Ketika tiada kompetisi di tingkat provinsi atau regional, Terry keliling dari satu klub amatir ke klub lainnya. Pertandingan voli antarkampung (tarkam) pun acap diikuti. Bahkan dilakoni hingga luar daerah. Tawaran terus berdatangan hingga sekarang. ‘’Sekali main di luar kota Rp 700 ribu. Kalau di Ponorogo Rp 300 ribu,’’ sebutnya.

Putri pasangan almarhum Agus Budianto dan Alma Romiyanti itu puas dengan apa yang ditekuni. Sebab, dari bermain voli, rupiah mengalir deras. Membuatnya bisa mandiri dan meringankan beban orang tua. Biaya kuliah pun ditanggung pribadi. ‘’Gara-gara voli saya bisa dapat beasiswa kuliah. Sejak awal saya yakin, kalau menekuni suatu hal dengan serius, kita bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Karena hasil tidak akan mengkhianati proses,’’ ucapnya. ***(fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button