Magetan

Camat Ingin Pembacok Pipa dan Pencuri Air Dihukum

Tindak Dua Pihak Berkonflik

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Camat Plaosan Permadi serius meminta polisi mengusut konflik pemanfaatan sumber mata air Padas Jaran. Bukan hanya menemukan pembacok sembilan titik pipa sambungan air di Dusun Gupakan, Dadi, Plaosan. Melainkan juga menghukum pengambil air secara ilegal di wilayah hulu. ‘’Karena keduanya salah dan wajib ditindak,’’ katanya Kamis (10/9).

Menurut Permadi, perusakan pipa termasuk perbuatan pidana. Terlepas peranti yang dirusak itu ilegal karena pemanfaatannya belum mengantongi izin Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR). Pasalnya, akibat yang ditimbulkan membuat sedikitnya 1.500 warga krisis air bersih. ‘’Perusakan itu tindakan anarkisme,’’ sebutnya.

Permadi enggan menduga-duga pelaku perusakan pipa. Termasuk kemungkinan pelakunya petani pemanfaat sumber mata air. Diketahui, air sumber untuk keperluan irigasi pertanian di Desa Sidomukti, Buluharjo, Bulugunung, dan Kelurahan Plaosan. Para petani kerap memprotes pengurangan debit air imbas pencurian di wilayah hulu. ‘’Kami serahkan ke aparat kepolisian,’’ ucapnya.

Menurut Permadi, protes petani kali ini demi mengantisipasi terjadinya kekeringan tahun lalu. Ratusan hektare tanaman padi gagal panen akibat kekurangan air. ‘’Karena untuk saat ini berkurangnya debit air belum terlalu berpengaruh terhadap tanaman,’’ ujar camat seraya menyebut petani dari empat wilayah sempat berdemo di UPTD Pengairan Gandong bulan lalu.  

Di sisi lain, musyawarah pimpinan kecamatan (muspika) bersama dinas pekerjaan umum dan penataan ruang (DPUPR) telah meminta warga Gupakan menghentikan aktivitas pengambilan air. Melepas pipa-pipa yang dipasang secara swadaya tersebut. ‘’Permintaan kami itu sejak pertengahan Agustus,’’ pungkasnya. (fat/c1/cor)

Mediasi Berulang Kali Gagal

PERUSAKAN sembilan titik pipa sambungan air di Dusun Gupakan, Dadi, Plaosan, Magetan, yang diduga dipicu praktik pencurian air tidak disangka dinas pekerjaan umum dan penataan ruang (DPUPR).

Organisasi perangkat daerah (OPD) itu mengklaim telah berupaya memediasi pihak pemanfaat sumber mata air Padas Jaran, kawasan hutan setempat. Yakni, warga pengambil air secara ilegal dengan petani di bawah naungannya untuk keperluan irigasi pertanian. ‘’Kami sudah berikan sosialisasi dan pemahaman terkait penggunaan air,’’ kata Kabid Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Magetan Yuli Karyawan Iswahyudi.

Petani pemanfaat sumber mata air di empat wilayah. Penyalurannya dikelola oleh UPTD Pengairan Gandong. Sebelum terjadi pembacokan pipa dalam dua pekan terakhir, petani sudah sering mengeluhkan berkurangnya debit air ke DPUPR.

Hasil penelusuran OPD itu, pengurangan akibat air diambil untuk konsumsi warga Dadi. Praktiknya belum mendapat izin Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR). Kedua kalangan itu seringkali terlibat konflik. ‘’Sudah sering memediasi, tapi tetap tidak membuahkan hasil,’’ ujarnya.  

Yuli menyebut, dalam mediasi kali terakhir menghasilkan beberapa keputusan. Salah satunya, polisi akan menindak pengambil air. Lalu, petani diminta bersabar karena akan ada penambahan debit air. Melalui injeksi ke PG Redjosarie yang prosesnya hampir selesai. ‘’Sehingga debit air untuk irigasi bisa maksimal,’’ ucapnya.

Dia menambahkan, bidang cipta karya bakal digandeng untuk memfasilitasi sumber air mandiri warga Gupakan. Yakni, membangun penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (pamsimas). ‘’Ini PR (pekerjaan rumah, Red) bersama. Karena wewenang kami (bidang SDA) untuk irigasi,’’ tuturnya. (fat/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button