Madiun

Cakupan Kerja Sama Kedaerahan Diperluas, Selingkar Wilis Ganti Lintas Selatan

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Selingkar Wilis resmi diganti Lintas Selatan. Keputusan itu ditegaskan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa setelah berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait, Kamis (10/10).

Gubernur menegaskan, Lintas Selatan merupakan resonansi dari wilayah selatan hingga Madiun dan sekitarnya. Cakupannya lebih luas dari Selingkar Wilis yang digagas sebelumnya. ‘’Lintas Selatan itu satu dari tiga prioritas pembangunan utama,’’ katanya Jumat  (11/10).

Khofifah percaya, format baru penataan kawasan terpadu itu lebih menjangkau seluruh program di daerah. Terutama kawasan selatan. ‘’Intervensi program apakah di Pacitan, apakah di Madiun, di Magetan, relatif dapat terakomodasi,’’ ujarnya.

Pergantian program, tegas Khofifah, bukan tanpa alasan. Sebagaimana diketahui, Program Selingkar Wilis hanya mencakup enam daerah di Jatim. Mulai Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Madiun, dan Ponorogo. Sementara Lintas Selatan juga mencakup Magetan, Pacitan, dan daerah sekitar lainnya. ‘’Insya Allah ini dalam proses peraturan presiden (perpres),’’ ucapnya.

Khofifah memastikan penggantian Selingkar Wilis menjadi Lintas Selatan telah final. Begitu perpresnya turun, segera ditindaklanjuti dengan penyusunan program riil. Sekaligus mengintegrasikannya dengan seluruh cakupan daerah terkait di Jatim.

Persoalan Papua

Khofifah juga menyinggung soal warga asli Jatim yang merantau ke Papua. Informasi terbaru yang diterima pukul 05.00 WIB kemarin (11/10), 519 warga berangkat dari Jayapura. Diperkirakan tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, lima hari mendatang. ‘’Kami tidak menyebut pengungsi karena mereka ke Wamena itu bekerja. Mereka itu perantau,’’ tuturnya.

Khofifah mengungkapkan, hampir setiap hari ada perantau dari Wamena yang kembali. Baik melalui Lanud Iswahjudi, Bandara Internasional Juanda, Lanud Abdul Rachman Saleh, bahkan Bandara Internasional Halim Perdanakusuma. ‘’Untuk yang lewat Halim, tiga hari lalu sudah konfirmasi dan sudah disiapkan busnya,’’ terangnya.

Khofifah menyebut, proses penerimaan perantauan sesuai standard operating procedure (SOP). Seluruhnya diterima, selanjutnya dilakukan pendataan tentang lokasi domisili. Sebelum akhirnya diantar sesuai alamat yang bersangkutan. ‘’Ada uang saku masing-masing Rp 1 juta, baju siap pakai, sembako untuk 5-7 hari. Selanjutnya berita acara (BA) dari Dinsos Jatim ke dinsos kabupaten/kota masing-masing,’’ urainya.

Khofifah menambahkan, kemarin sempat ada perantau dari Sidoarjo yang hendak kembali ke Jayapura. Kendati demikian, dia tidak menjelaskan perihal situasi terkini di Papua. ‘’Saya ingin menyampaikan bahwa ketika sudah balik ke daerah asal, ada keinginan untuk kembali lagi ke sana (Papua, Red),’’ ucapnya.

NU Jamin Pendidikan Pengungsi

Gubernur menjamin fasilitas pendidikan bagi seluruh perantau dari Jatim yang kembali ke daerah asalnya. Bagi muslim, dapat melanjutkan pendidikan di pesantren NU di seluruh Jatim. Baik tingkat MI hingga perguruan tinggi. Pihaknya telah berkoordinasi dengan PWNU Jatim. ‘’Full koordinasi dengan PWNU. Mulai rais syuriah, tanfiziah, hingga pengurus maarif,’’ sebutnya.

Seluruh sekolah dan pesantren NU siap menampung perantau yang kembali. Pun seluruh proses bakal dipermudah. Sehingga mereka dapat melanjutkan pendidikan. ‘’Semuanya sudah terkonfirmasi,’’ tegasnya.

Bagi pelajar nonmuslim dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah umum. Pihaknya memastikan seluruh proses baik penerimaan hingga pengiriman dan hak melanjutkan pendidikan berjalan dengan baik. ‘’Siap menerima anak-anak yang ingin belajar,’’ ucapnya. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close