Madiun

Cak Yudho: Beda Bobot Antara Guyon Warung dan Panggung

Susah untuk tidak terpingkal saat mengikuti Virtual Party Jawa Pos Radar Madiun. Duet Cak Yudho dan Cak Mondol benar-benar klop. Kedua komedian ini tak henti-hentinya melempar guyonan yang menghangatkan dan membangun keakraban di hari jadi ke-21 koran ini, Minggu (12/7).

ASEP SYAEFUL BACHRI, Jawa Pos Radar Madiun

MAKAN timun dicampur sabun, belinya di Jakarta. Selamat ulang tahun Radar Madiun, semoga jaya sepanjang masa.’’ Kalimat pembuka Cak Yudho langsung disambut tepuk tangan meriah. Sebelum melanjutkan ke babak-babak lawakan bersama Cak Mondol yang disambut gelak tawa terbahak-bahak.

Aksi kocak keduanya tak lepas dari seringnya duet bareng. Tak ada latihan khusus. Di atas panggung, sejatinya keduanya hanya membicarakan tentang konsep cerita sesuai tema acara. Lalu disesuaikan dengan respons penonton yang tak bosan menyimak sampai selesai. ‘’Kalau sudah di atas panggung banyak improvisasinya,’’ lanjut Cak Yudho.

Setelah pisah manajemen dengan Cak Percil, Cak Yudho sering berganti teman duet sejak 2018. Cak Yudho sangat mudah menemukan pasangan yang bisa mengimbangi peranannya. Saat masih bersama rekan duet lamanya, peran Cak Yudho sangat sentral. Dia sering menjadi otak yang bisa menciptakan tektokan lucu. Setiap berganti pasangan, Cak Yudho tak pernah kesulitan mengorek potensi lucu dari teman duetnya.  ‘’Tiap pelawak itu punya karakter beda-beda. Tektokan si A tidak akan berhasil jika diterapkan ke B. Tugas pengumpan itu harus paham karakter lawan mainnya,’’ ujar komedian 38 tahun itu.

Cak Mondol sendiri bukanlah wajah baru di pentas dagelan Jawa. Dia pun sudah sering berduet dengan nama-nama besar seperti Abah Kirun, Duo Jo, Jo Lego, dan lainnya. Dia sering memerankan orang yang teraniaya. Itu membuatnya kurang mendapat sorotan. ‘’Cak Mondol ini yang nemu saya, 2009 silam. Dulu dia tukang foto dan sound. Karena wajahnya unik, akhirnya saya didik,’’ ungkapnya.

Cak Yudho sendiri mulai mantap meniti karir sejak berguru ke Abah Kirun, lima tahun lalu. Begitu pula dengan Cak Mondol. Bertahun-tahun menggeluti dunia lawak, banyak momen kesal dan senang dilalui. ‘’Lewat lima menit penonton tak bisa tertawa, muka kami pasti pucet. Kalau sudah gitu, keluarkan jurus kedua dengan main gerak. Kalau masih tak mempan, bisa diganti dengan nari atau nyanyi. Kalau masih tetap belum berhasil langsung turun panggung. Nggak usah pamit,’’ tuturnya.

Membuat tertawa orang butuh intelegensi tinggi. Materi yang dibawakan juga harus berbobot. Pelawak harus bisa membedakan antara guyonan panggung dengan warung. Mungkin banyak yang bisa melucu di warung, tapi gagap saat berada di atas panggung.  ‘’Melawak itu butuh keseriusan dan konsep. Misalkan saya mengeluarkan tektokan ke si A, dia harus jawab B. Kalau dia tidak serius, jawabnya bisa C, malah tidak pas dan lucunya hilang,’’ ujarnya.

Selama pandemi Covid-19 ini seniman lawak sangat terdampak. Cak Yudho dan Cak Mondol sepi tanggapan selama hampir empat bulan hingga akhirnya mendapat job meramaikan Virtual Party Jawa Pos Radar Madiun. Cak Yudho juga telah merambah sebagai YouTuber, sehinga masih ada pemasukan setiap bulan. ‘’Sebenarnya bukan kangen tanggapan, tapi kangen duite,’’ selorohnya sambil berkeyakinan profesinya tetap mendapatkan tempat di hati penonton sampai kapan pun. ***(fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close