Opini

Butuh Seribu Orang

MASYARAKAT Kota Madiun adalah masyarakat yang memiliki rasa toleransi tinggi. Bukan hanya saat ini. Tapi sudah sejak orang-orang terdahulu. Ada banyak bukti terkait itu. Lihat saja, ada beragam bangunan tempat ibadah kuno yang masih terawat sampai saat ini. Ada Masjid Kuncen dari abad 15. Gereja St Cornelius sejak abad 16. Begitu juga Kelenteng Hwie Ing Kiong yang tak kalah lamanya. Bangunan-bangunan itu tetap ada. Tidak ada yang mengusik. Tidak ada yang keberatan. Itu karena semua bisa menerima. Saling menghargai dan menghormati. Inilah sikap toleran orang-orang terdahulu. Sebaliknya, bangunan-bangunan itu mungkin tidak ada saat ini kalau orang-orang dulu intoleran. Mungkin sudah ada yang hilang karena perbedaan kepercayaan.

Kita yang hidup di zaman sekarang juga harus begitu. Apa yang telah dicontohkan orang-orang dulu harus menjadi pembelajaran. Apa yang sudah diwariskan harus kita teruskan. Kita juga harus saling bertoleransi dengan sesama. Baik dengan sesama maupun yang berbeda agama. Baik dengan yang satu suku maupun yang lainnya. Kita juga harus saling menghormati dan menghargai. Perbedaan adalah hal biasa. Perbedaan harus menjadi sarana untuk menguatkan dan membesarkan. Bukan malah jadi penyulut perpecahan. Apalagi, sampai harus bertindak di luar kewajaran.

Minggu kemarin (28/3) saya menghadiri kegiatan Dharma Shanti Nyepi di Gedung Bhara Mahkota Polres Madiun Kota. Itu memang acara umat agama Hindu. Berlangsung di Gedung Bhara Mahkota Polres karena Kapolres kita beragama Hindu. Beliau dari Bali. Biarpun begitu, beliau sangat toleran. Saat pembacaan Surah Yasin sejuta kali di Rumah Dinas Wali Kota beberapa waktu lalu, beliau juga hadir. Dari awal sampai selesai. Memang seperti itu masyarakat kita. Masyarakat yang saling menghargai dan menghormati biarpun berbeda agama.

Mengapa itu penting? Karena aman itu mahal. Segala sesuatunya akan lumpuh kalau daerah kita tidak aman. Ayah akan kesulitan bekerja mencari nafkah keluarga. Ibu tak leluasa pergi untuk belanja. Anak juga tak akan nyaman belajar mengenyam pendidikan. Kita sudah diingatkan akan kondisi seperti itu dengan adanya pandemi Covid-19 saat ini. Biarpun tak mencekam seperti suasana perang, tapi cukup menyulitkan. Ada banyak yang tak bisa bekerja. Ada banyak yang tak bisa seperti biasanya. Ada juga yang tak bisa belajar secara tatap muka. Karenanya, jangan lagi ditambah dengan hal-hal yang dapat memperburuk keadaan.

Jangan ditambah lagi tindakan-tindakan yang merugikan banyak orang. Tindakan yang dapat memprovokasi dan mengancam persatuan. Saya sungguh menyesalkan kejadian bom di Gereja Katedral Makassar, Minggu kemarin. Sungguh tindakan yang tak terpuji. Apa pun alasannya tentu tidak bisa dibenarkan. Indonesia terdiri dari beragam suku bangsa tetapi tetap satu jua. Masyarakatnya juga dikenal memiliki toleransi tinggi. Karenanya, tanah air kita selalu kondusif sampai saat ini. Karenanya, mari kita jaga. Jangan ada tindakan seperti itu lagi ke depannya.

Itu hanya bisa terwujud kalau kita saling menghargai dan menghormati antar sesama tadi. Itu bisa terjadi kalau kita sadar diri. Saling menyadari bahwa kita makhluk sosial. Makhluk yang tidak bisa hidup sendiri dan membutuhkan orang lain. Kita setidaknya membutuhkan ribuan orang lain dalam kehidupan kita. Dari hal yang mendasar dan sederhana sampai yang rumit. Saat lahir kita dibantu orang lain. Saat meninggal pun juga butuh orang lain. Baju yang kita pakai merupakan buatan orang lain. Mungkin butuh peran lebih dari satu orang. Mulai yang bagian membuat kancing, membuat benang, yang menjahit, yang mendesain, sampai yang menjualnya.

Itu baru baju. Belum celana, sepatu, tas, topi, dan lainnya. Di rumah, pastinya ada banyak jenis pakaian. Coba hitung, berapa banyak kontribusi orang lain dalam urusan pakaian kita. Belum lagi soal kebutuhan pangan. Apalagi, menu kita setiap hari berbeda. Kita butuh peran petani, peternak, nelayan, dan lainnya. Kalau ditotal, mungkin ada seribu orang lain yang berperan dalam kehidupan kita. Disadari atau tidak, kita butuh peran orang lain. Karenanya, mari kita saling menghargai. Jangan merasa yang paling benar dan paling bisa. Karena sejatinya, kita tidak lepas dari peran sesama.

Penulis adalah Wali Kota Madiun Drs. H. Maidi, SH, MM, MPd

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button