Opini

Bursa kala Puasa

SETIAP kali Ramadan saya memang memperbanyak kegiatan keagamaan. Tetapi untuk Ramadan kali ini sedikit berbeda. Apalagi kalau bukan karena korona. Biasanya, minimal ada empat macam kegiatan setiap minggunya. Mulai salat Tarawih dan salat Jumat berjamaah hingga buka dan sahur bersama. Bergantian dari satu masjid ke masjid. Buka bersama dengan anak yatim piatu, alim ulama, dan lain sebagainya. Terus seperti itu hingga Ramadan usai. Memang tidak setiap hari. Tetapi paling tidak ada tiga sampai empat kali kegiatan keagamaan dalam satu pekan.

Tahun ini dan tahun lalu berbeda. Kegiatannya masih ada tetapi kita kurangi. Sementara hanya ada salat Tarawih dan salat Jumat berjamaah. Sudah tiga kali salat Tarawih dan sekali salat Jumat. Memang kurang rasanya. Tetapi memang tidak bisa dipaksakan. Saya inginnya juga seperti dulu. Tetapi kita harus menahan diri. Ini masih pandemi. Padahal ada banyak hal yang saya dapat dari kegiatan-kegiatan itu. Saya bisa bertatap muka dengan warga. Melihat kondisi dan menyerap aspirasinya. Memang kita sisipkan dialog di sela kegiatan. Sehingga ide dan masukan bisa tersampaikan.

Benar saja, selalu ada banyak masukan dari masyarakat. Mulai dari penanganan banjir, penerangan jalan, pemanfaatan aset, Lapak UMKM, hingga masalah bantuan-bantuan. Saya serap semuanya. Yang bisa ditangani segera, langsung kita putuskan. Saya memang mengajak kepala OPD dalam kegiatan. Agar bisa langsung koordinasi. Yang tidak bisa segera, ya paling tidak sudah jadi catatan saya. Sudah saya dengar. Usulan dan masukan itu pastinya akan terlaksana. Saya memang gemar belanja masalah. Bukan mencari masalah. Tetapi menemukan masalah untuk kita carikan solusinya.

Mencari dan menemukan itu berbeda. Mencari masalah bisa diartikan golek perkoro. Kalau menemukan berarti sudah ada masalah sebelumnya dan kita carikan solusinya bersama. Saya yakin ada banyak masalah di lingkungan. Sebagian mungkin sudah bisa diselesaikan oleh lingkungan masing-masing. Namun, tentu ada yang butuh penanganan khusus. Butuh ketegasan pemimpin daerah. Makanya, saya sering turun untuk itu. Belanja masalah tadi. Biarpun sedang pandemi. Meski dalam suasana bulan suci.

Saya memang terbuka terhadap masukan, ide, gagasan, bahkan kritikan. Pembangunan memang tidak bisa hanya dari seorang wali kota. Butuh banyak masukan agar pembangunan merata, cepat, tepat, dan bermanfaat. Gagasan yang masuk bukan hanya dari kegiatan saya turun ke bawah. Ada juga yang datang menemui saya. Seperti Sabtu malam kemarin (17/4). Ada sekitar 30 bos-bos menemui saya di Rumah Dinas Wali Kota. Saya panggil bos karena memang begitu adanya. Setidaknya untuk urusan jual-beli mobil. Ya, mereka adalah para bos mobil dari Kota Madiun dan sekitar.

Ada masukan menarik dari mereka. Yakni, terkait bursa mobil. Ide itu sebenarnya memang sudah ada sejak dulu. Tetapi terpaksa menahan diri karena pandemi. Namun semangat mereka tidak pernah berkurang sedikit pun. Pemerintah harus memfasilitasi. Paling tidak tempatnya. Saya berikan Dumilah Park untuk tempat bursa mobil itu. Diberikan dalam artian untuk dimanfaatkan. Sebenarnya ada tawaran menarik dari pihak lain. Bahkan, sang penawar ini siap berbagi keuntungan. Saya yang tidak mau. Lebih baik itu dimanfaatkan warga Kota Madiun. Agar keuntungannya juga untuk warga kota.

Karenanya, biar itu dikelola para bos mobil dari Kota Pendekar saja. Mereka siap bergerak segera. Targetnya, 29 April nanti mulai buka. Artinya, ada bursa mobil saat puasa ini. Saya minta buka setiap hari. Konsistensi itu perlu agar tidak gebyah uyah. Jam bukanya mulai pukul 10.00 sampai 21.00. Saya ingin itu dibuat yang besar sekalian. Setidaknya untuk Jawa Timur bagian barat. Tidak hanya jual-beli. Tapi juga ada servis dan salon mobil, cutting, hingga urusan kredit dengan penjamin atau leasing. Mereka siap. Saya pun mengizinkan. Hanya dengan satu syarat yang tidak boleh ditawar. Protokol kesehatan.

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button