Bupati Menulis

Bunda Kasih

SAYA yakin setiap negara yang didirikan pasti mempunyai cita-cita yang luhur untuk kesejahteraan rakyatnya. Tak terkecuali Indonesia. Dan salah satu cita-cita tersebut termaktub dalam pasal 34 UUD 1945. Baik sebelum amandemen maupun setelah amandemen. Malahan setelah amandemen dalam ayat-ayatnya ditambah tentunya agar cakupannya semakin luas.

Dalam ayat (1) Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Kemudian ayat (2) Negara mengembangkan sistim jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. Dan ayat (3) Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.

Namun apakah sudah dijalankan semua amanta UUD tersebut. Tentu pemerintah dan setiap rezim sudah mengupayakan dengan segala keterbatasan. Namun belum tuntas dan mencakup semuanya. Itulah sebabnya perlunya pemerintah daerah harus ikut memikirkannya Melaksanakan amanat tersebut. Bagaimana khususnya fakir miskin mendapat jaminan sosial sesuai dengan martabat kemanusiaan.

Di Magetan sendiri dari jumlah penduduk sebanyak 692.833 jiwa penduduk angka kemiskinan masih sekitar 10%. Walaupun jumlah dan prosentasenya ada kecenderungan menurun di setiap tahun, dan jumlah kemiskinan masih di bawah rata-rata provinsi Jawa Timur namun tentunya kita harus terus berupaya bagaimana terus menurunkan angka kemiskinan tersebut setiap tahunnya.

Sebagai pimpinan, menghadapi persoalan tersebut, tentu berbagai program digulirkan. Juga tak kalah pentingnya penanganan terhadap masyarakat miskin yang bekebutuhan khusus. Artinya yang tidak mungkin lagi diberikan stimulus untuk memberdayakan dirinya lepas dari kemiskinan tersebut. Seperti orang fakir miskin yang sudah tua. Dan mungkin juga sudah tidak lagi memiliki sanak saudara.

Kebetulan saya mempunyai kegemaran naik sepeda. Selain untuk olahraga dan juga menjaga kesehatan dan kebugaran, seringkali dari bersepeda tersebut kita bisa menemukan masalah atau hal-hal yang harus dipecahkan. Ketika bersepeda tersebut, saya sering menjumpai orang tua yang sedang duduk di depan rumahnya sendirian. Kemudian saya berpikir, apakah orang tua tersebut mempunyai anak dan saudara. Beruntung kalau orang tua tersebut adalah mantan PNS/ASN yang tentu mendapatkan pensiun. Namun justru sebaliknya. Tidak mempunyai anak, saudara dan bukan mantan PNS.

Oleh sebab itu, saya kemudian berpikir. Bagaimana menghadapi warga yang sudah tidak memiliki anak, dan sanak saudara. Kalau pun memiliki anak, dan kebetulan kondisi juga miskin. Tentu pemerintah, dalam hal ini pemerintah daerah harus hadir. Memikirkan warga yang kondisinya kurang beruntung tadi.

Kemudian saya memanggil kepala dinas sosial yang memang tupoksinya menangani hal-hal yang demikian tadi. Kemudian terjadi diskusi,”Mas kita ini mungkin masih ditandirkan lebih beruntung dibandingkan dengan sebagian orang yang kurang beruntung. Nanti misal panjenengan suatu saat sudah pensiun pasti dapat hak pensiun. Bagaimana kalau seandainya panjenengan buka PNS dan tidak punya anak, sudah sepuh dan kondisi miskin. Seperti mungkin orang tua yang sering saya temui. Yang jadi pikiran saya, apa yang mesti kita lakukan segera.” Kemudian kadis sosial yang saya ajak diskusi tadi menyimak apa yang saya katakana sambil menunggu pertanyaan saya selanjutnya. Kemudian saya melanjutkan pertanyaan sekaligus gagasan untuk mengatasi hal tersebut,”Bagaimana kalau seandainya kita minimal memberikan makanan rutin setiap hari kepada lanjut usia terlantar tadi. Logika saya begini. Di Maospati, rumah ibu saya, kalau kebetulan pagi menengok ibu, saya dibelikan sarapan nasi pecel. Setelah saya tanya ternyata pecel satu pincuk dengan lauk tempe Rp 4.000,00.  Seandainya mereka diberikan makanan sehari dua kali saja (salah satu pertimbangan karena mungkin tidak perlu lagi terlalu banyak makan) berarti delapan ribu. Berarti kalau sebulan sekitar Rp 240.000,00. Seandainya mereka belum dapat BPJS sebulan kalau BPJS Rp 60.000,00 menjadi Rp 300.000,00.”

Nampaknya kadis sosial tertegun sejenak setelah saya berdialog menyampaikan gagasan tersebut. Memang ketika saya memanggil, tidak memberi tahu apa yang akan saya bicarakan. “Menurut saya coba sekarang didata berapa jumlah orang miskin, tua dan terlantar di Magetan ini. Data tersebut harus akurat. Lepaskan dari setiap kepentingan. Kalau perlu dalam pendataan didampingi oleh lembaga independen. Dan data tersebut tolong memuat nama, alamat, umur, kondisi rumah, difoto dan dibukukan. Saya ingin membaca dan melihat datanya,” demikian saya menyampaikan gagasan tersebut kepada kadis sosial Magetan.

Beberapa bulan kemudian, saya diberikan data orang tua miskin dan terlantar tersebut. Jumlahnya ternyata cukup banyak. Ada sekitar 1500 orang. Dan setelah melihat data tersebut saya harus menahan untuk jangan sampai menitikan air mata. Kondisinya sungguh sangat memprihatinkan. Karena tidak mungkin untuk sekaligus memberikan jaminan makan kepada seluruhnya, maka sesuai kemampuan anggaran baru 200 orang yang diberikan untuk tahun 2019 ini. Yang diprioritaskan adalah mereka sangat mendesak. Dan mudah-mudhan tahun 2020 seluruhnya sudah dapat diberikan jaminan makan.

Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah bagaimana teknis memberikan makanan kepada mereka. Karena mereka tidak bisa lagi memasak. Ada yang sudah pikun. Malah ada yang tuna netra dan kondisi memprihatinkan lainnya. Akhirnya disepakati, uang jaminan makanan tersebut diberikan kepada tetangganya yang mau atau warung di desa tempat tinggal orang tua yang mendapatkan uang jaminan makan. Siapa tahu kalau diberikan ke warung bisa untuk menambah modal usaha. Walau pun masih relatif kecil. Sedang uangnya langsung ditransfer kepada rekening yang bersedia.

Gagasan tersebut kemudian saya sampaikan kepada teman-teman saya yang lebih beruntung. Malahan ada yang kemudian terketuk hatinya mau menanggung lima orang. Malahan ada yang bersedia sepuluh orang. Tentu saya kemudian minta untuk langsung mentransfer ke rekening masing-masih. Dinas sosial memberikan alamat dan nomer rekeningnya (yang ikut menyusul utamanya putra Magetan silahkan menghubungi dinas sosial).

Sengaja untuk mentransfer langsung agar ada keterbukaan. Dan pula menjauhkan penyimpangan yang mungkin bisa dilakukan. Apalagi  ini adalah menyangkut pekerjaan kemanusiaan.  Yang diharapkan juga menumbuhkan kesediaan para dermawan khususnya dari Magetan yang berhasil di luar Magetan ikut serta memikirkan persoalan-persoalan yang dihadapi di tanah kelahirannya.

Sengaja saya melakukan uji petik kepada calon penerima jaminan tersebut. Yang telah saya lihat, satu di desa Bangsri, kemudian Baleasri dan satu lagi salah satu desa di Kecamatan Kawedanan. Sungguh semakin yakin bahwa program ini sangat besar manfaatnya bagi penerimanya.

Insyaallah, tanggal 27 September 2019 program pemberikan makanan bagi lansia terlantar yang rata-rata berusia lebih dari 70 tahun tersebut, akan kami mulai. Dan sebagai ungkapan rasa kasih kami kepada sesama, program tersebut kami beri nama “Bunda Kasih.” Semoga rasa kasih sayang kepada sesama terus bergaung kesetiap hati kita semua. Untuk saling peduli, palagi kepada yang kurang beruntung tadi. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
               
         
close