Ponorogo

Bumi Reyog Seperti Bali, Dari Morlaix Mengejar Eksotik

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Sepekan terakhir, Bumi Reyog seperti Bali. Banyak wisatawan asing berdatangan. Orang-orang berambut pirang itu banyak terlihat di pusat perbelanjaan, taman kota, dan alun-alun.

Fenomena ini membuktikan rentetan gawe kesenian sukses mendatangkan gelombang wisatawan mancanegara. Mulai dari Kenduri Bungah Pawonku Pawonmu di Bedingin, Sambit; hingga Ponorogo International Mask and Folklore Festival (PIMFF) 2019 yang tengah berlangsung.

Salah satu yang menarik perhatian, Bernadette Eleouet, 61; dan Richard Delaveau, 60. Pasutri asal Prancis ini bukan rombongan wisatawan dengan bus yang telah dipersiapkan. ‘’Kami dari Prancis, sedang berkeliling dunia dengan bersepeda,’’ kata Bernadette Eleouet.

Pasutri lansia dari Morlaix, Prancis, ini menjadikan Indonesia negara ke-27 yang disambanginya sejak bersepeda tiga tahun lalu. Mewujudkan impian mereka menjumpai orang-orang berbeda dari berbagai belahan dunia sebelum tutup usia. ‘’Berkeliling dunia ke berbagai negara adalah impian kami,’’ ujarnya.

Justru, kata Bernadette, dia dan suaminya tidak menyambangi destinasi-destinasi mainstream di tiap negara. Mereka lebih senang mengunjungi kota-kota kecil ataupun desa-desa. Mengejar sesuatu yang mempunyai daya tarik khas yang mungkin belum banyak dikenal khalayak luas. Mengejar eksotik. Alasan itu membawa keduanya bersepeda ke Ponorogo, saat melintas sejumlah daerah di Jawa Timur. ‘’Ternyata di Ponorogo ada beberapa event menarik yang digelar. Kami terkejut karena tidak banyak tahu tentang Ponorogo,’’ sebut pensiunan pendidik itu.

Di Bumi Reyog, keduanya juga menghadiri Kenduri Bungah dan PIMFF 2019. Pasutri itu terpukau dengan kedua event tersebut. Fragmen-fragmen tari tradisional yang dipentaskan cukup menghibur. ‘’Seni Indonesia sangat kaya dan luar biasa. Kami sangat senang bisa berkunjung ke Ponorogo,’’ ucapnya.

Perjalanan panjang menggunakan sepeda membutuhkan dana yang tidak sedikit dan persiapan yang matang. Kata Bernadette, dia dan suaminya selalu siaga ban cadangan serta sejumlah komponen sepeda lainnya. Sebab, jalan yang dilalui tidak selalu mulus. ‘’Kami tidak pernah memaksakan. Kalau cuaca terlalu panas atau hujan, lebih baik beristirahat,’’ tuturnya.

Menurut Bernadette, dia dan suami masih akan tinggal di Ponorogo untuk menikmati PIMFF 2019. Seusai itu, mereka akan melanjutkan gowes ke sejumlah daerah di Jatim. Ditanya akan ke mana setelah dari Indonesia, Bernadette berkeinginan melanjutkan perjalanan impiannya itu ke negara Oseania. Dimulai dari Australia lalu Selandia Baru. ‘’Setelah itu, mungkin ke negara-negara Afrika. Seperti Madagaskar, Afrika Selatan. Mungkin kami akan kembali ke Indonesia suatu hari nanti,’’ pungkasnya. (naz/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close