Opini

Bulan Suci dan Pandemi Lagi

TAHUN lalu, suasana Ramadan diwarnai dengan pandemi. Tahun ini masih begitu. Artinya, sudah dua kali bulan suci kita lewatkan dengan adaptasi kebiasaan baru. Semua kegiatan tak terlepas dengan kebiasaan memakai masker, mencuci tangan, dan berjaga jarak. Semuanya masih sama. Ramadan tahun ini juga harus seperti itu biarpun masyarakat sudah terbiasa dengan Covid-19. Cara masyarakat menghadapi Covid-19 memang sudah tak seheboh dulu. Saya paham, mungkin sudah jenuh. Maklum, sudah satu tahun lebih pandemi ini berlangsung.

Dulu, informasi terkait penambahan Covid-19 selalu dicari biarpun hanya satu kasus. Sekarang, orang seperti sudah tidak peduli biarpun penambahannya sampai belasan dalam sehari. Itu yang saya khawatirkan. Saya khawatir masyarakat terlena. Padahal korona masih ada. Ramadan kali ini kegiatan keagamaan memang saya perbolehkan. Namun, dengan protokol kesehatan ketat. Selain itu, dengan membatasi hanya 50 persen dari kapasitas tempat ibadah. Saya harap masyarakat menjalankan aturan tersebut. Bukan berarti kalau sudah berjalan satu tahun, masyarakat kemudian abai. Covid-19 bukan hanya ganas di awal-awal dulu. Sekarang pun masih sama berbahaya.

Mari kita berkaca pada kasus yang terjadi. Kasus Covid-19 di kota kita sudah mencapai 2.056 hingga Minggu kemarin (11/4). Biarpun begitu, 1.834 di antaranya sudah sembuh. Kasus kesembuhan di kota kita memang cukup tinggi. Tetapi sekali lagi jangan terlena. Kasus meninggal akibat Covid-19 juga tidak boleh dianggap remeh. Setidaknya, sudah 134 orang meninggal sampai Minggu kemarin. Kasus terbanyak dari rentan Desember tahun lalu sampai saat ini. Dalam rentan itu, kasus konfirmasi juga cukup tinggi. Selalu ada penambahan setiap hari. Artinya, salah besar kalau kita menurunkan kewaspadaan.

Sikap kita dalam menghadapi Covid-19 harus tetap sama seperti saat awal-awal dulu. Perang ini belum usai biarpun sudah setahun berlangsung. Pemerintah pusat juga sudah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mengendalikan kasus konfirmasi. Seperti kita ketahui, pemerintah mengeluarkan kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Saat ini sudah perpanjangan yang kali ketujuh. Beberapa yang terakhir dengan berskala mikro. Kebijakan itu mengemuka tentu bukan tanpa sebab. Penambahan kasus yang signifikan tentu salah satu pertimbangannya.

Karenanya, belum saatnya kita berleha-leha. Covid-19 ada dan berbahaya. Virus ini tak kasatmata namun berdampak nyata. Pemerintah pusat juga kembali melarang mudik Lebaran. Ini juga sama dengan tahun lalu. Seluruh moda transportasi dilarang beroperasi pada rentang 6-17 Mei nanti. Namun, tentunya ada pengecualian. Transportasi urusan logistik dan BBM salah satunya. Untuk yang urusan angkutan orang tidak diperbolehkan.

Pemerintah di daerah juga mengeluarkan kebijakan masing-masing sebagai tindak lanjut dari kebijakan pusat itu. Di kota kita, sudah saya siapkan ruang isolasi khusus bagi yang nekat mudik. Seperti yang sudah diberitakan di berbagai media, kita menyiapkan Rumah Tahanan Militer (RTM) di Jalan Ahmad Yani sebagai ruang isolasi khusus itu. Masyarakat Kota Madiun tentu sudah paham bagaimana RTM. Mungkin juga sudah banyak yang mendengar kisah seramnya. Maklum, bangunan sudah berdiri sejak 1818. Sementara itu, terakhir digunakan sekitar 1990 lalu.

Pun, hanya digunakan untuk tempat pelatihan anjing khusus milik kepolisian atau yang biasa disebut K-9. Selebihnya tidak pernah dijamah sama sekali. Beberapa waktu lalu, saya melakukan sesi wawancara dengan salah satu stasiun televisi nasional di lokasi. Itu disiarkan langsung. Waktunya siang hari bolong. Di awal tak ada masalah. Semua dalam keadaan baik. Namun, masalah muncul mendekati waktu saya diwawancara dengan presenter di studio. Jaringan mendadak drop. Akhirnya pakai sumber koneksi lain. Alhamdulillah bisa. Hanya, waktunya jadi mundur. Dapat sesi yang paling akhir. Kendala teknis memang bisa terjadi di mana saja. Tetapi mengingat lokasi di tempat seperti itu, ya siapa tahu.

Karenanya, saya ingin masyarakat mematuhi anjuran dan menjalankan aturan. Kita semua memang tengah dalam keprihatinan. Tidak hanya orang dalam perantauan. Semuanya terkena dampak pandemi ini. Saya harap semuanya bersabar. Pandemi akan segera berakhir jika kita disiplin. Pemerintah tengah mengupayakan penanganan sebaik dan secepat mungkin. Pemerintah juga ingin segera mengakhiri pandemi. Hanya, upaya ini tak akan maksimal tanpa kerja sama dari kita semua.

Selamat menjalankan ibadah bulan suci Ramadan bagi yang menjalankan. Marhaban ya Ramadan. Tetap patuhi aturan dan laksanakan anjuran pemerintah. Semoga dengan ikhtiar kita semua, Allah SWT, Tuhan YME, segera mengangkat Covid-19 dari muka bumi.

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button