Opini

Buah Tangan untuk Kemajuan

BANYAK yang bertanya mengapa saya cukup mengerti bidang konstruksi dan tata kota. Padahal, saya murni orang pendidikan. Kalau mengacu akademis, saya memang seorang tenaga pendidik. Ijazah S-1 saya juga sarjana pendidikan. Saya menjadi guru selama 14 tahun. Setelahnya saya pernah menjadi kepala sekolah, kepala dinas pendidikan, sampai akhirnya Sekda Kota Madiun. Lantas di mana bagian pelajaran konstruksi dan tata kotanya?

Secara akademis saya memang tak pernah mengenyam pendidikan di bidang konstruksi dan tata kota itu. Perjalanan dalam berkarierlah yang mengajarkan saya akan dunia itu. Beruntung saya pernah menjadi pengawas sekolah dan diberikan banyak kesempatan untuk belajar hingga ke berbagai daerah dan negara. Dari situ saya banyak melihat banyak hal baru. Melihat bangunan-bangunan dan tata kota daerah yang dikunjungi adalah kewajiban. Yang baik saya bawa pulang. Yang jelek atau biasa, cukup jadi pengalaman saja.

Apa yang baik-baik itu saya terapkan di Kota Madiun. Setidaknya mulai terlihat hasilnya kini. Banyak yang bilang Kota Madiun telah banyak berubah di dua tahun terakhir. Muncul Pahlawan Street Center (PSC), Taman Sumber Umis, sentra-sentra kuliner, jalur sepeda wisata, dan lain sebagainya. Perubahan itu ternyata menarik daerah lain untuk datang. Sudah berapa banyak yang datang, sampai lupa tepatnya. Baik itu dari kepala daerahnya maupun dari unsur wakil rakyatnya. Di antaranya, wali kota Bengkulu; wali kota Bekasi; wali kota Magelang; bupati Tapin, Kalimantan Selatan; bupati terpilih Kabupaten Belu, NTT; Komisi IV DPRD Kabupaten Purworejo; Komisi III DPRD Kabupaten Pekalongan; hingga Komisi D DPRD Provinsi Jawa Tengah.

Prinsipnya mereka tertarik untuk memberikan perubahan besar untuk daerahnya masing-masing. Tentu tidak harus sama persis. Menyesuaikan dengan kearifan lokal masing-masing. Kalau hanya membangun, saya kira mudah. Yang penting ada anggarannya. Tetapi bagaimana pembangunan itu membawa beragam manfaat sekaligus. Itu yang mereka cari saat datang berkunjung ke sini. Sering saya katakan, satu pembangunan di Kota Madiun harus memberikan lima sampai tujuh manfaat sekaligus.

Orang mungkin hanya merasakan manfaat wisata di PSC. Padahal ada manfaat pencegahan banjir, penataan kabel jalur bawah, hingga manfaat ekonomi. Begitu juga pembangunan di tempat lain. Harus memberikan banyak manfaat sekaligus. Tidak ada alasan untuk tidak belajar jika menginginkan perubahan. Perubahan di Kota Madiun saat ini karena ada proses pembelajaran dari para pemimpinnya. Saya pun masih belajar. Setiap kali kunjungan kerja, pasti saya sempatkan untuk melihat konstruksi dan tata kotanya. Yang baik, saya bawa pulang untuk oleh-oleh. Yang biasa, ya cukup jadi pengalaman saja.

Jumat dan Sabtu kemarin saya bersama kepala OPD pergi ke Jogja. Kami memang ada kerja sama dengan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Kami berkunjung ke Pusat Inovasi, Inkubator Bisnis dan Hak Kekayaan Intelektual UNY. Di sana ada beragam inovasi menarik. Mulai dari sepeda listrik hingga alat-alat berbasis IT. Karena kita ada kerja sama, mereka siap membantu. Kota Madiun memang akan kita bawa menjadi daerah maju dengan berbasis teknologi. Apalagi, kita memang satu dari 100 pilot project smart city nasional. Memang smart city tak harus IT. Tetapi IT perlu untuk mendukung konsep kota cerdas itu.

Kebiasaan saya untuk melihat tata kota di sela kunjungan juga masih saya terapkan. Kami sengaja melintasi jalan-jalan kota Jogja. Saya tertarik dengan ornamen lampunya. Kota Jogja memang dikenal dengan sentuhan ornamennya yang artistik. Saya sudah meminta petugas dari dinas terkait untuk mencatat apa yang sekiranya perlu. Tidak harus sama persis. Tetap kita sandingkan dengan kearifan lokal Kota Madiun.

Sekali berkunjung harus memberikan banyak manfaat. Karenanya kami juga mampir ke Klaten. Tepatnya di Desa Padangan, Glodogan. Di sana ada budi daya lebah klanceng. Kota Madiun memang tengah saya persiapkan untuk menjadi penghasil madu. Sering saya berkunjung ke pembudi daya lebah madu lokal maupun daerah sekitar. Tak salah jika kita mencari referensi baru dari pembudi daya di daerah lain. Banyak sekali pelajaran yang dapat kita petik. Ini bisa menjadi oleh-oleh untuk Kota Madiun. Bukan gudeg maupun bakpianya. Tetapi buah tangan yang baik untuk kemajuan kota kita tercinta. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button