Ponorogo

Bripda Fredi Kusbiantoro Gugur di Gunung Ringgit

SELAMAT JALAN PATRIOT MUDA

Mendung gelap menyambut kepulangan Bripda Fredi Kusbiantoro di tanah kelahirannya. Selasa (17/12) anggota Satbrimob Polda Jatim yang gugur saat menjalani pendidikan dasar di Gunung Ringgit, Pasuruan, itu dimakamkan di TPU Desa Simo, Kecamatan Slahung. Pesan singkat meminta kiriman pulsa menjadi komunikasi terakhir antara keluarga dengan pemuda yang sebelumnya sempat ingin menjadi pekerja migran di Korea Selatan itu.

===============================

MIZAN AHSANI, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

DI bawah bendera merah putih dan guyuran hujan deras, jenazah Bripda Fredi Kusbiantoro disemayamkan sekitar pukul 13.00. Sri Suyati, sang ibu, tak kuasa menahan tangis sembari terus merapal istigfar kala menyaksikan putra bungsunya itu dikebumikan.

Fredi merupakan satu dari tiga korban tewas saat menjalani pelatihan di Gunung Ringgit, Pasuruan. Sekitar pukul 13.00 Senin lalu (16/12), petir menyambar tiga patriot muda itu. Kepergian Fredi menorehkan duka mendalam. ‘’Saya mendapat informasi dari saudara-saudara,’’ kata Lardi Wardoyo, ayah Fredi.

Wardoyo sehari-hari merupakan petani. Sedangkan istrinya membuka usaha meracang kecil-kecilan di rumah. Ninik, kakak Fredi, sudah berkeluarga. Si bungsu yang sukses menjadi anggota polisi begitu membuat bangga keluarganya. Sebab, Fredi benar-benar berangkat dari keluarga yang sederhana. Wardoyo mengenang putranya itu sebagai sosok yang baik kepada sesama dan cenderung pendiam. ‘’Kalau ketemu tidak banyak bicara,’’ ujarnya.

Jika Wardoyo tegar melepas kepergian putranya, lain dengan Suyati. Hingga pemakaman, sang ibu seolah masih tak percaya. Begitu pula dengan Dewi Zuniawati. Perempuan 24 tahun yang menangis tersedu sejak tiba hingga prosesi upacara dinas kepolisian selesai. ‘’Sudah bilang (Fredi, Red) kalau ingin menikah,’’ tutur Wardoyo.

Jatmiko, 40, kakak ipar Fredi, termasuk sosok penting dalam perjalanan karir Fredi. Usai lulus dari SMKN 1 Jenangan 2015 lalu, Fredi sempat gundah. Melihat Jatmiko yang dulunya bekerja sebagai pekerja migran, membuat Fredi sempat terpikir mengikuti jejak kakak iparnya itu. ‘’Setelah lulus, ikut les bahasa Korea. Tapi sayangnya waktu itu tidak ada penempatan,’’ kata Jatmiko.

Korea Selatan rupanya tak berjodoh dengan Fredi. Di tahun sama, Jatmiko menyarankan Fredi mendaftar sebagai anggota polisi. Ternyata gagal. Fredi juga sempat mencoba peruntungan dengan melamar sebagai prajurit TNI. Tapi gagal juga. Baru setahun kemudian, Fredi lolos menjadi anggota sabhara di Polda Jatim. Tak lama berselang, Fredi dan banyak sabhara lainnya dimutasi ke Satbrimob Polda Jatim. ‘’Sejak saat itu berdinas di brimob. Baru tahun ini mengikuti pendidikan,’’ terangnya.

Sayangnya, takdir berkata lain. Menjalani pendidikan dasar menjadi tugas terakhir Fredi. Senin siang, telepon dari bhabinkamtibmas Simo membuat Jatmiko terkejut. Menginformasikan bahwa adik iparnya terkena musibah saat menjalani pelatihan di Pasuruan. Padahal, Jatmiko masih berkomunikasi dengan Fredi pada Minggu malam (15/12). Kala itu, Fredi menghubungi lewat nomor tak dikenal, meminta pulsa senilai Rp 50 ribu. ‘’Waktu itu juga tidak ada firasat apa-apa,’’ sebut Jatmiko.

Dansatbrimob Polda Jatim Kombespol I Ketut Wijatmika yang memimpin prosesi pemakaman Fredi turut merasa kehilangan. Bersama Fredi, ada tiga anggota brimob yang juga meninggal akibat musibah tersebut. Selain mereka, ada sembilan orang yang masih dirawat di RS Bhayangkara Polda Jatim di Surabaya. ‘’Kami doakan semoga almarhum diterima di sisi Tuhan. Ini musibah, karena sedang melaksanakan tugas pendidikan dasar,’’ ucapnya.*** (fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close