Pacitan

BPBD Pacitan Makin Sibuk Dropping Air Bersih di Wilayah Terwabah

PACITAN – Armada truk tangki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan semakin sibuk. Sebab, selain melayani dropping air bersih ke sejumlah desa terdampak kekeringan, mereka juga harus mengirim ke wilayah terwabah hepatitis A. Itu dilakukan seiring penetapan status kejadian luar biasa (KLB) hepatitis A sejak pekan lalu.

Ribuan liter air dikirim ke wilayah Kecamatan Sudimoro, wilayah terwabah paling parah. Pasalnya, kuat dugaan sumber penyakit kuning itu berasal dari sumber air setempat. ‘’Hari ini (kemarin) kami kirim enam tangki air bersih ke Kecamatan Sudimoro,’’ kata Kepala Pelaksana BPBD Pacitan Didik Alih Wibowo Senin (1/7).

Sejak Jumat lalu (28/6) pihaknya mulai menggelontor air bersih kepada warga terdampak. Sekali kirim lebih dari 20 ribu liter untuk sejumlah desa di Sudimoro. Targetnya lima dari enam desa prioritas bakal mendapat bantuan air bersih. Di antaranya Sudimoro, Sukorejo, dan Pagerkidul. Dropping bakal dilakukan hingga beberapa hari ke depan. ‘’Kami belum dapat memastikan sampai kapan, tergantung kondisi,’’ ujarnya.

Didik menambahkan, proses pengiriman dilakukan melalui pihak kecamatan. Lokasi serta jumlah air menyesuaikan permintaan. Pasalnya, berbeda dengan dropping untuk dampak kekeringan, peta wilayah hepatitis bukan ranah BPBD. ‘’Kami berkomunikasi dengan camat. Kami minta pihak kecamatan mengantar petugas ke titik pengedropan karena mereka yang paham datanya,’’ jelasnya.

Pengiriman dilakukan secara periodik. Pihak kecamatan bakal berkoordinasi untuk meminta tambahan bila kurang. Biasanya warga menyimpan air di drum, tandon, hingga ember dan bak penampungan. ‘’Sebelumnya juga ke Sudimoro tapi untuk terdampak kekeringan, dengan KLB hepatitis A kami kian tingkatkan dropping,’’ paparnya.

Menurut Didik, status KLB hepatitis A kali ini turut berdampak pada dropping air bersih ke wilayah terdampak kekeringan. Pasalnya, saat ini prioritas ditujukan ke wilayah terwabah hepatitis. Sehingga beberapa desa yang mengajukan permintaan air bersih lantaran dampak musim kemarau harus sabar menunggu giliran. ‘’Kalau reguler (kekeringan, Red) kami bisa atur dan prediksi kebutuhannya, tapi untuk KLB hepatitis harus lebih gerak cepat. Instruksi bupati agar wilayah KLB diutamakan,’’ ungkapnya.

Untuk dampak kekeringan, sedikitnya sembilan desa di enam kecamatan telah mengajukan permintaan air bersih. Beberapa di antaranya telah diverifikasi BPBD dan mendapat kiriman. Sebab, sejak awal Ramadan lalu banyak sumber air mulai mengering. (gen/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button