Madiun

Boncengan Tak Pakai Helm, Tito Karnavian Ditilang

MADIUN – Bukan hal aneh jika seorang pengendara ditilang lantaran tidak mengenakan helm. Namun, akan lain cerita jika yang ditilang adalah Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Adegan ditilangnya Tito merupakan bagian dari film berjudul 22 Menit karya Eugene Panji dan Myrna Paramita.

Sontak penonton yang memenuhi studio 1 bioskop NSC Suncity tertawa menyaksikan sang jenderal ditilang. Tak terkecuali Wawali Armaya, Kapolres Madiun Kota AKBP Nasrun Pasaribu, Ketua DPRD Istono, hingga Komandan Depohar 20 Lanud Iswahjudi Kolonel Lek Tjatur Pudji. Kemarin mereka nonton bareng (nobar) film tersebut bersama masyarakat.

Di menit-menit berikutnya film berjalan, gelak tawa mereka tak lagi terlihat. Emosi penonton larut seiring alur cerita yang semakin dalam. Kapolres Madiun Kota AKBP Nasrun Pasaribu mengatakan, film 22 Menit bercerita tentang aksi pemboman dan penembakan terorisme di sejumlah lokasi di kawasan Thamrin dan Sarinah, Jakarta, 2016 lalu. ’’Cerita film ini sesuai dengan kisah nyata pemboman Thamrin. Mengapa berjudul 22 Menit, karena aksi tersebut bisa ditumpas dalam waktu 22 menit oleh kepolisian,’’ kata Nasrun.

Menurut Nasrun, film tersebut dirilis oleh kepolisian dengan tujuan memberi wawasan kepada masyarakat mengenai bahaya radikalisme. Peran serta masyarakat dibutuhkan kepolisian dalam melawan paham tersebut. Pun, film yang dibintangi Ario Bayu dan menampilkan Jenderal Tito sebagai cameo itu juga memberi pesan penting kepada masyarakat. Kewaspadaan tidak boleh luntur demi mengantisipasi aksi serupa terjadi.

’’Masyarakat tidak perlu takut dan khawatir. Yang terpenting tetap waspada dan komunikasi dengan tiga pilar (TNI, Polri, dan pemerintah). Jika menemui orang-orang yang tidak dikenal, tidak tahu seluk beluk pekerjaan, apalagi tidak pernah berkomunikasi, segera saja komunikasikan dengan tiga pilar. Itu demi menjaga kondusivitas, khususnya di Kota Madiun,’’ terangnya.

Wawali Kota Madiun Armaya sepakat dengan pesan yang terkandung dalam film tersebut. Menurutnya, film 22 Menit mengajarkan tentang betapa kejinya aksi terorisme. Melandaskan alasan apa pun, terorisme tidaklah dapat dibenarkan. Pria yang akrab disapa Yayak itu menyebut, para teroris adalah penghianat bangsa. ’’Dan masyarakatlah yang menjadi korban atas aksi keji yang mereka lakukan,’’ ujarnya. ‘’Film seperti ini positif, untuk memberi wawasan kepada masyarakat terhadap ancaman terorisme dan radikalisme,’’ imbuh Yayak.

Sementara itu, Ketua DPRD Istono mengatakan, film 22 Menit mengajarkan kepada penontonnya untuk selalu mewaspadai bahaya laten terorisme. Aksi tersebut umumnya dilakukan oleh orang-orang yang dari luar bahkan tampak biasa dan sulit dicurigai. Hal itu mengajarkan supaya masyarakat tetap kritis. ’’Aksi terorisme bisa terjadi kapan dan di mana saja. Masyarakat harus tetap waspada,’’ tegasnya. (naz/c1/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button