Ponorogo

BKSD Perketat Bahan Reyog dari Satwa Dilindungi

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo –  Dinas Pariwisata (Dispar) Ponorogo berencana mendata seluruh alat kesenian reyog dengan nomor registrasi khusus.  Terlebih, alat kesenian yang menggunakan satwa dilindungi. Seperti bulu merak dan kulit harimau.

Itu menyusul pengetatan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk penambahan baru alat-alat kesenian tersebut. ‘’Penambahan baru harus dilengkapi dokumen legal formal  dari mana asal-usulnya,’’ kata Kabid Kebudayaan Dispar Ponorogo Yudha Slamet Sarwo Edi Kamis (31/10)

Menurut Yudha, nomor registrasi itu untuk pemantauan dan pengendalian dispar. Namun,  sampai saat ini belum ditemukan formula yang pas sebagai win-win solution. Perlu duduk bersama antara dispar, BKSDA, dinas lingkungan hidup (DLH), Yayasan Reyog dan pihak terkait. ‘’Nanti akan dicari jalan tengahnya. Di satu sisi igin melestarikan reyog Ponorogo. Di sisi lain, material atau bahan alat kesenian ini juga dilindungi,’’ ujarnya.

Harimau termasuk satwa dilidungi yang diatur dalam pasal 21 ayat 2 huruf B UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. ‘’Untuk menyikapinya tentu ada beberapa kebijakan terkait dengan barang yang sudah terlanjur jadi alat kesenian ini. Apakah harus dimusnahkan atau diamankan. Bagaimana kebijakannya secara hukum masih kita koordinasikan,’’ imbuhnya.

Setelah koordinasi dan menerima surat resmi dari BKSDA, dispar melakukan sosialisasi ke seniman reyog. Agar tidak jadi kendala dalam pelaksanaan di lapangan. Sesuai aturan, binatang langka yang bisa dimanfaatkan atau dijual dan dipelihara adalah yang didapat dari penangkaran bukan diambil dari alam.

Syarat lainnya kategori F2. Artinya, binatang tersebut sudah memasuki generasi ketiga di penangkaran. Atau cucu dari indukan pertama di penangkaran. Itu pun harus ada dokumen penangkarannya di mana. Pun ada izin rekomendasi dari BKSDA. ‘’Lha ini kita meunggu koordinasi menunggu surat secara resmi dari BKSDA,’’ ungkapnya.

Tahapan juga tidak bisa serta merta dilakukan. Tapi berproses disosialisasikan ke pegiat  reyog. ‘’Sehingga nanti tidak ada sesuatu yang menjadi kendala di lapangan,’’ pungkasnya. (dil/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button