Mejayan

Bila Ganjil-Genap Diterapkan, Pedagang Galau Hilang Penghasilan

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Caruban – Sistem ganjil-genap pasar tradisional yang direncanakan Pemkab Madiun mendapat berbagai tanggapan dari pedagang. Ada yang menolak karena khawatir dagangan tidak laku, hingga pasrah mengikuti aturan pemerintah.

Ketentuan berdagang yang dibagi hari sesuai nomor urut itu rencananya diberlakukan di enam pasar. Yakni, Pasar Sambirejo dan Sukolilo (Jiwan); Pagotan (Geger); Pasar Caruban Baru (Mejayan); serta Mlilir dan Dolopo. Wacana tersebut digulirkan menyongsong tatanan baru alias new normal dan memaksimalkan jaga jarak fisik di pusat perekonomian rakyat.

Sabar, 65, pedagang Pasar Sambirejo, Jiwan, mengaku belum tahu mengenai rencana ganjil-genap. Namun, bila ketentuannya membatasi hari dalam berdagang, dia menolak. Alasannya, banyak dagangan yang membusuk. Barang dagangan tidak bisa tahan lama. ‘’Kebanyakan berjualan sayuran dan bumbu dapur. Yang tidak laku hari ini, dijual besoknya,’’ terangnya.

Warga Desa Sambirejo itu juga khawatir kehilangan penghasilan. Selama ini, para pembeli adalah pedagang sayur keliling. Transaksi berlangsung dini hari. Pukul 02.00 hingga 03.30 merupakan jam ramai. ‘’Nggak jalan kalau dibuat ganjil genap, pedagang punya langganan sendiri-sendiri,’’ katanya.

Kegalauan juga melanda Waryati, 41, pedagang lain Pasar Sambirejo. Dia menilai physical distancing sudah berjalan. Jarak antar pedagang sekitar 1,5 meter. Dengan jarak itu, barang dagangan memang saling mepet, namun tidak untuk pedagangnya. Kendati demikian, dia tidak memungkiri bila kerumunan tidak bisa dihindari ketika ramai pembeli. ‘’Kalau memang diterapkan, yang dapat jatah libur tetap berangkat (berjualan). Urusan perut,’’ kata warga Desa Tanjung, Bendo, Magetan, tersebut.

Di Pasar Caruban Baru, Ali Mustofa, 40, salah seorang pedagang, mengaku pasrah dengan rencana pemkab. Dia setuju bila tujuannya demi kesehatan dan keselamatan bersama. Sebab, kebijakan itu diyakini bisa memotong rantai penularan korona. Meski begitu, warga Desa Buduran, Wonoasri, ini memprediksi perjuangan pedagang bakal semakin berat. Terutama yang bermodal pinjaman bank dan tidak mendapatkan keringanan. ‘’Saat ini saja pasar sudah sepi, pendapatan berkurang daripada hari-hari normal,’’ ungkapnya. (den/c1/cor)

Intensifkan Sosialisasi, Lakukan Pengawasan 

KALANGAN legislatif mewanti-wanti rencana Pemkab Madiun menerapkan sistem ganjil-genap di pasar rakyat. Segala sesuatunya harus dipertimbangkan matang-matang. Mulai persiapan hingga dampak yang dapat ditimbulkan. ‘’Poin pentingnya membangun kesadaran masyarakat, khususnya pedagang,’’ kata Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Madiun Wahyu Widayat Rabu (3/6).

Wahyu memprediksi rencana ganjil-genap menimbulkan gejolak di kalangan pedagang. Sebab, pedagang tidak bisa lagi berjualan setiap hari. Hal itu tentu berbanding lurus dengan penghasilan yang diterima. Sementara, kebutuhan sehari-hari tidak bisa dimodel selang-seling layaknya kebijakan itu. Demi mencegah gejolak itu, pemberian pemahaman harus diintensifkan. ‘’Sosialisasi kepada para pedagang sangat penting,’’ tegasnya.

Terlepas adanya gejolak, Wahyu mengamini sistem ganjil-genap akan berpengaruh terhadap pencegahan Covid-19 di pasar rakyat. Sebab, secara otomatis menekan kerumunan. ‘’Jelas membantu pemkab dalam rangka pencegahan penularan Covid-19 atau menyambut new normal. Tapi, pengawasannya juga tidak boleh dikesampingkan,’’ pinta politikus Partai Kebangkitan Bangsa tersebut.

Komisi B yang merupakan mitra kerja dinas perdagangan, koperasi, dan usaha mikro (disperdakop-UM) menekankan pendataan pedagang yang valid. Terutama pedagang pendatang. Tujuannya agar tidak ada yang terlewat dalam pembagian nomor ganjil dan genap. ‘’Untuk mendapatkan data riil, perlu ada kerja sama dengan pihak yang berkompeten,’’ kata Wahyu. (den/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button