Ponorogo

Bikin Haru! Kakek Difabel Ini Jualan Keliling demi Hidupi Keluarga

Sehari dapat uang berapa, bukan pertanyaan penting bagi Miseri. Kakek yang tiga tahun lagi tujuh puluh tahun itu rela menempuh jarak enam kilometer sehari. Menjajakan es lilin dan gorengan dengan sepeda tuanya demi memenuhi nafkah keluarga.

——————–

NUR WACHID, Ponorogo

SEPAGI itu, Miseri mulai berkemas. Dari dalam rumahnya di Tugu, Mlarak, tangan kirinya yang cacat menahan bagian atas kotak seng saat lengannya mengapit dan mengangkatnya ke sepeda yang tersandar di pintu. Kotak seng itu lantas dibebat potongan karet ban hitam yang terpatri di boncengan sepeda. Dua keranjang anyaman berisikan jajajan digantungkan di setang depan.

Saat fajar belum menyingsing, Miseri sudah terlihat rapi dengan setelan pakaian batik motif kotak biru kesayangannya. Sebelum bergegas, dia sempatkan mengambil sapu dan membersihkan halaman rumah. Sepuluh menit berselang mulai menuntun sepeda tuanya dari teras menuruni halaman rumah. Mulutnya komat-kamit membaca doa sebelum menyusuri jalanan sepagi itu. ‘’Sudah pekerjaannya seperti ini,’’ kata Miseri.

Keterbatasan fisik sejak lahir tak membuatnya cengeng menghadapi kerasnya kehidupan. Bekerja baginya adalah cara mensyukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan. Tiap pagi dia setia menjajakan es lilin dan gorengan. Menyusuri tiga desa: Blondrang, Tugu, dan Ngindeng. Terkadang kayuhan sepedanya sampai ke Waduk Bendo. ‘’Seperti ini Mas caranya bersyukur,’’ ujar kakek 67 tahun itu.

Selain jarak tempuh yang cukup jauh, Miseri juga harus menempuh medan ekstrem  dengan tanjakan dan turunan terjal. Sering pula dia harus turun dan menuntun sepedanya. Dia baru kembali ke rumah dan istirahat saat hari beranjak sore. Es lilin dan gorengan yang dijajakan itu bukan buatan sendiri. Setiap hari pula dia kulakan ke tetangga dengan harga Rp 300 per biji. Dan, hanya dijualnya Rp 500 per biji. Meski tak banyak keuntungan yang diambil, tak jarang dirinya pulang dengan dagangan masih utuh karena tak laku. ‘’Disyukuri saja. Rezeki sudah ada yang mengatur,’’ lanjutnya.

Miseri paham betul betapa rezeki tak selalu diukur dari materi. Jika dagangannya masih utuh dibagikannya kepada orang yang lebih tidak mampu. Dia meyakini, berbagi dapat membuka pintu rezeki. Di rumah, Miseri tinggal bersama seorang anaknya. Anaknya yang lain telah berumah tangga dan tinggal jauh darinya. Miseri sendiri telah lama berpisah dengan istrinya. ‘’Selalu berbagi dengan warga. Karena hanya ini yang saya punya, ya ini yang bisa saya berikan,’’ ungkapnya.

Terkadang Miseri diminta warga membenahi rumah atau menggarap sawah. Tak sekalipun dirinya mengeluh, baik saat mengelilingkan jajanan atau serabutan membantu tetangga. Semua dijalani dengan hati lapang hingga membesarkan kedua anaknya. ‘’Impian saya, anak-anak bisa hidup mandiri dan bisa lebih baik hidupnya,’’ ucapnya. *** (fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button