Madiun

Besar Perjuangan Tentara Pelajar di Kota Madiun

PAHLAWAN ITU PENJAGA PERSATUAN

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Hakikat makna perjuangan semakin berat. Jika dulu menghadapi penjajah yang jelas wujudnya, pahlawan di masa kini harus mampu memerangi ego diri sendiri demi mempertahankan persatuan dan kesatuan.

‘’Ini yang menjadi pekerjaan rumah bagi pemuda saat ini. Pemuda masa kini bisa disebut pahlawan jika dapat mempertahankan persatuan dan kesatuan,’’ kata Ajar Putro Dewantoro, pengamat sejarah dari Historia van Madioen (HvM).

HvM mencatat bukti-bukti ketangguhan pelajar yang tergabung dalam Tentara Genie Pelajar (TGP) di Madiun. Saat bertempur melawan penjajah di kota setempat. Jejak itu ada tiga tempat. Yakni, Monumen TGP di Jalan TGP; SMPN 12 Kota Madiun; dan SMPN 2 Saradan, Madiun. ‘’Pahlawan muda di masa perjuangan memiliki pemikiran brilian dan tekad besar mempertahankan kemerdekaan,’’ ujarnya.

Ajar menjelaskan, TGP merupakan kesatuan berisi pelajar teknik. Saat pagi, mereka bersekolah di Sekolah Teknik (ST) yang sekarang bekas gedungnya masih lestari di SMPN 12 Kota Madiun. Di situ mereka belajar merangkai bom dan senjata. Usai sekolah,  mereka bersatu melawan penjajah. Mereka tinggal di mes sekitaran Jalan TGP. ‘’Juga, menyebar di beberapa titik lain,’’ imbuhnya.

Lahirnya TGP Kota Madiun setelah peristiwa PKI 1948, disusul Agresi Militer Belanda II. Dalam rangka mempertahankan kemerdekaan, senior TGP membuka pendaftaran bagi para pemuda untuk ikut bergerilya bergabung dalam kesatuan TGP melawan agresi tersebut. Pendaftarannya dilaksanakan di gedung ST depan Markas Mobrig Kletak yang sekarang digunakan untuk SMPN 12 Kota Madiun. ‘’Ketika itu, sedikitnya terkumpul 98 anggota. Lalu dibentuklah kompi II wilayah Madiun,’’ sambungnya.

Di masa awal kedatangan Belanda, TGP telah kehilangan dua anggotanya. Yakni, Heru Muljono dan Agus Suwarno. Mereka diberondong peluru penjajah saat bertugas meledakkan Kantor Telepon. Disusul Bagyo dan Suparno yang gugur dengan kisah mengharukan. ‘’Mereka benar-benar berjuang sampai darah penghabisan,’’ ungkapnya.

Gugurnya Bagyo dan Suparno saat menjalankan misi penghadangan pasukan Belanda. Ketika itu, penjajah melakukan patroli dari barat ke timur (dari Caruban menuju Wilangan). Ada empat pos yang telah dirancang dan diletakkan bom untuk meluluhlantakkan iringan pasukan. Bagyo dan Suparno mendapat tugas di pos ketiga. ‘’Mereka sudah memasang bom di pos tugasnya,’’ bebernya.

Di luar dugaan, bom yang dipasang gagal meledak. Saat dicek, tiba-tiba bom meledak. Tubuh keduanya hancur terkena ledakan. Karena itu,  namanya diabadikan sebagai Jalan Bagyo-Suparno di pintu masuk Saradan. Pun dituliskan di monumen di depan SMPN 12 Kota Madiun dan SMPN 2 Saradan, Madiun. ‘’Daftar pejuang lain yang gugur juga dituliskan namanya di monumen itu,’’ tambahnya.

Dalam perjuangan TGP Kompi 2 Madiun, tercatat 28 pelajar gugur di medan laga. Perjuangan itu lunas terbayar ketika kekuasaan Jepang masuk ke kota setempat. Ketika itu, Jepang menyerahkan kemerdekaan wilayah kota setempat kepada pelajar. ‘’Terlepas apakah itu TGP atau TRIP, dua kesatuan pelajar itulah yang bersatu melawan penjajah,’’ ucapnya.

Perjuangan TGP terkait erat dengan berdirinya kesatuan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Anggotanya berasal dari pelajar nonsekolah teknik. Kedua kesatuan itu bahu-membahu mempertahankan kemerdekaan di wilayah setempat. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button