Bupati Menulis

Bertemu Peter Carey

Sejarawan Indonesia dari Inggris

ADALAH sebuah kehormatan bagi saya, bisa bertemu dengan Peter Carey. Salah seorang sejarawan Indonesia dari Inggris yang sangat saya kagumi. Namun sayang, pada acara yang dihadiri beliau sebagai narasumber pada 12 Desember 2019 lalu di “Sarasehan Budaya dan Bedah Sejarah Ronggo Prawirodirjo III” saya tidak bisa hadir.  Acara sengaja dilaksanakan di gedung Eks Kantor Distrik Maospati. Yang sekarang menjadi Gedung Budaya dan kantor Dinas Parbud khusus Bidang Kebudayaan.

Oleh sebab itu, ketika panitia sarasehan menghubungi saya waktu itu, dengan antusias saya menyatakan akan datang. Namun apa daya, ketika pada hari pelaksanaan acara saya sungguh sangat padat. Oleh sebab itu, saya sengaja minta istri untuk ikut hadir pada acara tersebut. Maksud saya hanya satu, apabila acara sudah selesai ingin memperoleh cerita dari pelaksanaan acara tersebut. Khususnya ketika bertemu Peter Carey.

Tentu menarik untuk dicatat mengapa sarasehan tersebut mengambil tema bedah sejarah Ronggo Prawirodirjo III. Dan tempatnya di Eks Kantor Distrik Maospati. Sebagaimana diketahui, Ronggo Prawirodirjo III adalah menantu Sultan Hamengku Buwono II. Yang beristrikan putri sultan bernama Kanjeng Gusti Ratu Maduretno.

Pangeran Raden Ronggo Prawirodirdjo III memangku jabatan bupati Madiun ke XVI dari tahun 1797 sampai 1810. Masa baktinya sangat singkat, hanya tiga tahun. Menggantikan ayahandanya Raden Ronggo Prawirodirjo II. Sebagai bupati Mancanegara Timur, wilayahnya luas karena membawahi 14 bupati di bawah pengawasannya. Selama memerintah dan menjabat sebagai bupati mempunyai tempat kedudukan di beberapa tempat. Setidaknya ada tiga tempat, masing-masing Jogjakarta, Wonosari, dan Maospati.

Tentu ada alasan mengapa Peter Carey bersedia datang pada sarasehan yang sangat sederhana itu; kalau dilihat dari nama besar Peter Carey sebagai ahli sejarah tersebut. Seorang sejarawan Indonesia yang lahir di Yangon-Birma (Myanmar sekarang) tahun 1948, kemudian melanjutkan pendidikan sarjana di Trinity College, Oxford Inggris, dan memperoleh ranking satu dalam sejarah modern 1966-1968. Kemudian mendapat beasiswa mengambil master di Cornell University, AS, tahun 1969-1970. Kemudian tertarik pada riwayat Diponegoro dan sekitar Perang Jawa tersebut untuk mengambil disertasi program doktor di Oxford Univesity Inggris 1975. Kemudian mengajar di almamaternya. Setelah pensiun, atas sponsor Yayasan Arsari Djojohadikusumo diangkat sebagai guru besar tamu (profesor) di Fakultas Ilmu Budaya UI Jakarta sejak 2014.

Kita tahu semua Perang Jawa melibatkan para pangeran dan adipati di Brang Wetan. Salah seorang panglima Perang Diponegoro yang andal adalah Sentot Alibasya Prawirodirjo. Yang diangkat sebagai panglima perang dalam usia yang sangat muda. Baru berumur 17 tahun. Sentot Alibasya adalah putra dari Raden Ronggo Prawirodirjo III. Sentot Alibasya Panglima perang yang sangat disayang oleh Diponegoro karena keahliannya dalam ilmu perang dan keberaniannya.

Ketika sarasehan yang membahas Raden Ronggo Prawirodirjo III tersebut, tentu tidak dapat dipisahkan dari keahlian Peter Carey yang sangat menguasai Perang Jawa tersebut. Ketika diundang oleh panitia kok ya bersedia hadir. Dan kita tahu, tidak hanya Sentot Alibasya saja yang sangat benci pada penjajahan. Demikian juga Raden Ronggo Prawirodirjo III, berselisih dengan Belanda. Kemudian Raden Ronggo Prawirodirjo III memutuskan menetap di Maospati sebagai pusat pemerintahannya yang sangat singkat. Dan di Eks Distrik Maospati tersebut terletak kadipaten Mancanegara Timur atau Brang Wetan. Sehingga pada pemerintahan tersebut Maospati telah menjadi tempat yang strategis dalam pemerintahan Kasultanan Yogyakarta.

Pada waktu itulah istri Raden Ronggo Prawirodirjo III, Kanjeng Gusti Ratu Maduretno  meninggal dan dimakamkan di Gunung Bancak Desa Giripurno, Kecamatan Kawedanan. Konon, pada waktu memakamkan di puncak bukit tersebut, rakyat bergantian membopong jenazah ke atas bukit. Saya sendiri tidak bisa membayangkan waktu itu bagaimana membawa jenazah sampai di puncak bukit dengan jarak kediaman puluhan kilometer jauhnya.

Ternyata, tidak hanya pada waktu pemerintahan Raden Ronggo Prawirodirjo III Maospati menjadi pusat pemerintahan. Bahkan jauh sebelumnya, ketika jaman Kerajaan Medang setelah Pu Sindok diyakini pusat pemerintahan ada disekitar Maospati. Hal ini dibuktikan dengan adanya Prasasti Sendang Kamal. Prasasti ini merupakan prasati yang bercorak Hindu Siwaisme yang dibangun pada sekitar 70 tahun setelah masa pemerintahan Pu Sindok dari Mataram Kuno (Medang).

Pada saat itu tidak ditemukan banyak informasi tentang pemerintahan raja-raja hingga Raja Airlangga. Dan dalam prasasti inipun, tidak dapat ditemukan siapa raja dan tahun berapa dibuatnya prasasti tersebut, karena tulisan yang ada dalam prasasti sudah pudar. Sulit sekali dibaca. Yang jelas, sumber data yang lain dan mendukung adalah kitab Wirataparwa yang ditulis tahun 918 S menyebut diantara tahun tersebut kerajaan diperintah oleh Raja Dharmmawangsa Teguh. Dalam prasasti Sendang Kamal tersebut terdapat informasi, bahwa prasati tersebut berupa penetapan sima di desa Kawambang Kulwan yang berupa sima swatantra dari sri maharaja (Dharmmawangsa Teguh). Sedang pendirian bangunan suci berupa petirtaan adalah untuk dewa Siwa. Dalam prasasti tersebut juga diceritakan dalam upacara di petirtaan Sendang Kamal tersebut dihadiri oleh para samgat dari berbagai daerah di sekitar desa Kawambang Kulwan. Prasasti berhenti pada bagian pemberian hadiah, sehingga diduga banyak kemungkinan masih terdapat informasi lain yang ada di dalamnya yang belum bisa terungkap.

Memang di sekitar Maospati masih banyak sekali peninggalan termasuk prasasti selain Sendang kamal. Oleh sebab itu Sarasehan yang dilakukan para penggiat budaya bekerjasama dengan Dinas Periwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magetan tersebut diharapkan menjadi pematik akan sebuah kesadaran bahwa di daerah Magetan khususnya yang telah mencatatkan dalam sejarah sejak Kerajaan Medang.

Walaupun yang dibahas pada waktu sarasehan masih sekitar Raden Ronggo Prawirodirjo III, namun setidaknya menyadarkan kepada penggiat budaya termasuk saya sendiri. Apalagi yang hadir sebagai narasumber ahli sejarah Indonesia dari Inggris Peter Carey yang mengkhususkan diri pada Perang Jawa. Atau dalam sejarah yang kita kenal sebagai Perang Diponegoro.

Sebelumnya saya belum kenal secara pribadi. Namun karena saya penggemar buku, dan beliau sangat produktif menulis sekitaran Perang Jawa, maka nama itu akrab bagi saya. Bagaimana tidak. Buku yang beliau tulis hampir semua saya punya. Mulai dari Babad Diponegoro, Takdir-Riwayat Pangeran Diponegoro, Kuasa Ramalan-Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855, Inggris di Jawa, Perempuan-perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX. Begitu produktifnya Peter Carey menulis tentang sejarah seputar Diponegoro, tentu tidak mengherankan kalau menjadikan beliau menguasai bahasa Indonesia, Jawa bahkan Sunda.

Walau tidak datang pada sarasehan, untungnya istri yang hadir atas inisiatip sendiri mengundang Peter Carey untuk makan malam di tempat saya. Tentu saya sangat senang beliau bersedia hadir beserta para penggiat budaya dari Madiun yang berjumlah sekitar lima belas orang. Sekitar jam 20.00 rombongan datang. Baru berkenalan saja rasanya seperti sudah kenal lama. Selain saya penggemar tulisannya juga paham akan riwayat hidupnya. Apalagi sama-sama penggemar buku dan menulis. Tak terasa ngobrol dan juga diskusi seputar Diponegoro dan penulisan buku menjadi topik yang menarik. Waktu menunjukkan pukul 23.00 dan kemudian saya harus mengakhiri pertemuan itu.

Tak lupa kami tukar menukar buku karya masing-masing. Saya diberi hadiah buku-buku karya beliau yang belum saya punyai. Tentu disertai tanda tangan dan kalimat singkat. Demikian juga saya hadiahkan kepada beliau buku saya Dalane Uripku (bahasa Jawa) dan Government Public Relations-Perkembangan dan Praktik di Indonesia. Pertemuan singkat tersebut memberikan suntikan semangat sekaligus pertanyaan mengapa bukan kita yang menulis tentang segala hal tentang Indonesia?

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close