Magetan

Bertaruh Keselamatan Speedboat di Telaga Sarangan

Enggan Gantian Jaket Takut Droplet

Rasanya kurang lengkap jika pelesir ke Telaga Sarangan tidak sekalian naik speedboat. Betapa indahnya menjelajahi keindahan alam langsung dari atas telaga. Namun, tanpa mengenakan jaket pelampung tentu berbahaya jika sampai terjadi apa-apa.

FATIHAH IBNU FIQRI, Plaosan

HANI Ruqoyah, 45, menolak tawaran Suyanto, 56. Penyedia jasa speedboat itu lantas meletakkan kembali jaket pelampung di bibir telaga dekat speedboat yang dinakhodainya. ‘’Sudah biasa ditolak. Kalau pelanggan tidak minta pelampung, jarang kami tawarkan,’’ kata Suyanto.

Merujuk Permenhub 25/2015 tentang Standar Keselamatan Transportasi Sungai, Danau, dan Penyeberangan, pelampung menjadi sarana wajib dalam transportasi air. Sayangnya, larangan itu sampai kini tak pernah tertulis di Telaga Sarangan. Para penyedia jasa percaya kondisi Telaga Sarangan cukup tenang sehingga jarang terjadi kecelakaan. ‘’Dulu pernah ada orang celaka di telaga, tapi bukan karena terjatuh dari speedboat. Tapi terpeleset sendiri saat jalan kaki,’’ ungkapnya.

Hani Ruqoyah punya alasan kuat menolak mengenakan jaket pelampung. Menurutnya, alat penyelamat berkelir merah itu jarang disterilisasi. ‘’Takut droplet,’’ katanya.

Paguyuban penyedia jasa perahu mafhum pentingnya fungsi sarana pengaman. Jaket pelampung seyogianya dikenakan penumpang speedboat. Namun, penyedia jasa tak ingin merusak mood penumpang jika dipaksa tetap mengenakan. ‘’Kalau kami tetap ngeyel, penumpangnya malah tidak jadi naik perahu,’’ imbuh Wagimin, pengurus paguyuban penyedia jasa perahu Sarangan.

Di Telaga Sarangan terdapat 53 armada. Sekali jalan, bisa mengelilingkan tiga hingga enam wisatawan. Sudah lama penyedia speedboat ini mendapat bantuan jaket pelampung dari pemprov. Untuk pengadaan sendiri, butuh kocek tinggi. Satu unit pelampung seharga Rp 180 ribu. Idealnya pelampung diganti enam bulan sekali. Pendapatan sepekan rata-rata Rp 2,7 juta. Untuk beli bahan bakar habis Rp 600 ribu sepekan. Belum biaya perawatan mesin. Kami juga keberatan jika harus iuran,’’ tuturnya. (fat/c1/fin)

PR Disparbud Belum Tuntas

DUA speedboat rescue yang disiapkan nganggur. Belakangan, dua unit itu hanya tersandar di bibir telaga. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Magetan sempat memberikan edukasi, namun belum mampu menumbuhkan kesadaran wisatawan.

Di Telaga Sarangan, setiap hari berganti orang dan sampai kini belum ada papan imbauan. Regulasi dan sanksi juga tidak dijelaskan gamblang. ‘’Padahal keselamatan setiap orang menjadi tanggung jawab bersama,’’ kata Kepala Pelaksana BPBD Magetan Ari Budi Santosa.

Ari menyerahkan urusan sosialisasi kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Magetan. BPBD bersedia memfasilitasi jaket pelampung lama yang masih layak pakai. ‘’Kami punya ratusan jaket pelampung yang biasa digunakan untuk penyelamatan. Tinggal paguyuban bersedia atau mengandalkan bantuan pemprov yang difasilitasi disparbud seperti dulu,’’ ujarnya.

Jaket keselamatan itu bertuliskan ’’baju penolong’’ dengan huruf tebal. Terdapat saku untuk menyimpan peluit dan lampu penerangan untuk memudahkan penyelamatan. Berbahan stirofoam dan banyak dijual di pasaran. ‘’Spesifikasi jaket keselamatan itu beda-beda. Ada yang khusus misi penyelamatan atau sekadar mencegah agar tidak tenggelam,’’ jelasnya.

Kepala Disparbud Magetan Joko Trihono menyatakan bahwa pihaknya selama ini tak tinggal diam. Selama ini telah mengerahkan sepuluh tenaga lifeguard. Selain mengamankan telaga, mereka ditugasi mengedukasi wisatawan. ‘’Setidaknya turut memberikan contoh bagaimana semestinya mengenakan jaket pelampung yang benar,’’ ujarnya.

Disparbud masih menanggung urusan menata pedagang kaki lima (PKL) dan parkir di Telaga Sarangan. Dua hal itu menjadi pekerjaan rumah (PR) yang harus segera dituntaskan. Pengunjung kerap mengeluhkan panorama telaga tertutupi. ‘’Ada 300-an PKL yang mulai kami tata secara bertahap. Seiring pembangunan kios untuk pemusatan dagangan. Enam kios untuk PKL dan sepuluh pedagang cenderamata,’’ tuturnya menjelaskan proyek Rp 1,7 miliar itu.

Untuk penataan parkir, bakal ada penambahan kantong kendaraan. Persisnya dekat loket masuk di perempatan Mandoran. Lahan sudah dibebaskan tahun lalu. Pekerjaan fisiknya dimulai tahun depan. Selama ini, kantong parkir di sebelah timur Hotel Rejeki, barat Hotel Sanur, dan lapangan kelurahan. (fat/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close
               
         
close