PeristiwaPonorogo

Bersihkan Lahan Pinggir Hutan, Nenek Terbakar

PONOROGO – Kebakaran hutan dan lahan di Ponorogo terus terjadi. Tidak saja menghanguskan hutan dan lahan, teranyar kebakaran menghanguskan manusia. Diketahui kejadian di petak RPH Sooko BKPH Wilis Selatan 164 G 1, tepatnya di Desa Ngadirojo, Kecamatan Sooko, Ponorogo. Nahas yang terjadi Minggu pagi (26/8) itu menewaskan satu warga setempat.

Yatinem, 52, bermaksud membersihkan lahan miliknya. Dia membakar ranting dan daun kering di lahan yang berjarak kira-kira satu kilometer dengan tempat tinggalnya. Itu dimaksudkan untuk menyiapkan lahan siap olah saat musim penghujan tiba.

Tidak dinyana, api dengan ganasnya berkobar menyambar semak belukar yang ada di lokasi. Merasa takut merambat ke lahan milik Perhutani, Yatinem berusaha memadamkan api. Kobaran api yang ada di perbukitan itu terlihat oleh warga setempat. Semburat warga langsung mendatangi lokasi untuk menaklukkan si jago merah.

Selang beberapa menit, polisi hutan dibantu warga setempat berhasil memadamkan api. Saat hendak turun dari lokasi tersebut, salah seorang warga dikejutkan adanya penampakan seperti boneka di balik semak belukar yang terbakar. Merasa penasaran, Pamuji, 48, warga setempat, itu mendatanginya. ‘’Coba dibuka dari ranting terbakar yang menutupinya, dia (Pamuji, Red) langsung teriak,’’ kata Kapolsek Sooko AKP Suyanto.

Alangkah terkejutnya Pamuji saat mendapati barang yang semula dikira boneka itu ternyata manusia. Seketika dia berteriak lantang hingga mengakibatkan warga berkerumun di lokasi. ‘’Warga yang sudah turun sampai kembali naik setelah mendengar teriakan Pamuji,’’ lanjut kapolsek.

Setelah diperiksa, ternyata mayat tersebut adalah Yatinem yang tidak lain pemilik lahan terbakar. Berdasarkan hasil otopsi tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan di tubuhnya. ‘’Petugas langsung datang dan mengadakan penyelidikan di lokasi. Kemudian diadakan pemeriksaan ke tubuh orang tersebut,’’ jelasnya.

Suyanto menjelaskan kejadian itu murni kecelakaan. Dia mengatakan pemilik lahan sempat terjatuh saat hendak memadamkan api. Lantaran angin bertiup kencang, api semakin berkobar. ‘’Sehingga dia (Yatinem, Red) tidak berdaya untuk keluar dari kobaran api. Langsung meninggal di lokasi kejadian,’’ ungkapnya.

Kejadian karhutla yang menewaskan nyawa manusia sepanjang tahun ini bukanlah kali pertama. Sebelumnya, Wagimin, 76, warga Desa Ngendut, Kecamatan Balong, mengalami nasib serupa. Bedanya, Wagimin selamat dan sempat dirawat dua hari sebelumnya akhirnya mengembuskan napas terakhir.

Atas kejadian itu, pihaknya mengimbau warga agar tidak bermain-bermain dengan api. Terutama pada musim kemarau seperti saat ini. Sebab, api tidak saja menghabiskan seisi hutan, tapi juga bisa menewaskan nyawa seseorang. ‘’Kalau ingin membersihkan api, jangan coba-coba sengaja membakarnya. Karena risikonya berbahaya. Pesan saya, jangan main-main dengan api,’’ tegasnya. (mg7/c1/rif)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button