Opini

Bersama Lawan Korona

PENAMBAHAN kasus Covid-19 di Kota Madiun cukup mengkhawatirkan belakangan ini. Pernah sampai 164 kasus sehari. Sejak awal Juli ini memang tren kasus meningkat. Mulai belasan, puluhan, hingga ratusan kasus dalam sehari. Tak heran, ruang perawatan Covid-19 di rumah sakit penuh. Bed occupancy ratio (BOR) empat rumah sakit di Kota Madiun berkisar 90 persen. Bahkan, di RSUD dr Soedono sempat menggunakan area drop zone IGD untuk perawatan. Tetapi infonya sudah teratasi. Dengan membuka ruang baru.

Ratusan lainnya menjalani isolasi di rumah. Ini yang butuh perhatian. Kriteria isolasi mandiri di rumah sejatinya hanya saat tidak ada gejala. Tetapi, kondisi seseorang siapa yang bisa menentukan. Bagaimana kalau yang tanpa gejala itu tiba-tiba ngedrop? Sedang, di tempat isoman tidak tersedia peralatan medis yang memadai. Kondisi semakin mengkhawatirkan bila ruang perawatan di rumah sakit penuh. Lalu yang isoman tetapi butuh penanganan medis ini mesti bagaimana?

Ini tidak bisa dibiarkan. Harus ada langkah antisipasi. Kita persiapkan ruang perawatan baru. Asrama Haji yang dulunya hanya sebagai tempat isolasi, statusnya kita tingkatkan. Asrama Haji sudah menjadi rumah sakit lapangan (RSL) kini. Peresmiannya Sabtu kemarin (24/7). Di sana terdapat 182 tempat tidur. Menggunakan beberapa ruang. Persiapan sudah sejak seminggu sebelumnya. Fasilitas pendukungnya kita lengkapi. Mulai kamar mandi, tempat tidur, ambulans, oksigen, sampai tenaga kesehatannya.

Memang masih ada kekurangan. Kita lengkapi sambil berjalan. Salah satunya, kita masih kekurangan dua dokter. Sebelumnya, kita sudah menambah 20 tenaga kesehatan. Jumlah nakes akan disesuaikan pasien yang dirawat. Selain itu, rusunawa II juga kita jadikan rumah sakit lapangan. Di sana ada 44 hunian dengan masing-masing hunian dua tempat tidur. Artinya, bisa untuk 88 orang. Akses dari dan ke rusunawa II kita batasi. Sudah kita pasang pagar melingkar. Hal itu penting karena bersebelahan dengan rusunawa I yang sudah berpenghuni.

Biarpun kita siap, saya berharap RSL Asrama Haji dan rusunawa II tidak sampai berpenghuni. Artinya, warga kita sehat-sehat semua. Artinya, yang saat ini isoman segera pulih. Tidak perlu sampai perawatan di RSL apalagi ke rumah sakit rujukan Covid-19. Karenanya, juga perlu langkah agar yang isoman ini segera pulih. Ada yang bilang, obat Covid-19 itu makan yang enak. Artinya, kebutuhan gizi harus terpenuhi. Tidak masalah, kita penuhi kebutuhan makannya.

Karenanya, saya siapkan satu RT satu dapur umum. Program ini dengan memberdayakan PKL atau UMKM lokal. Bisa juga dasawisma PKK. Pokoknya dari yang sudah biasa berjualan makanan. Pintar urusan masak-memasak. Bahan kebutuhannya pemerintah yang menyuplai. Jumlahnya sesuai dengan jumlah RT. Ada 1.025 RT. PKL atau pelaku usaha tadi tetap bisa berjualan seperti biasa. Tetapi punya kewajiban untuk menyediakan makanan bagi yang isoman tadi. Saya sudah menginstruksikan ketua RT untuk mendata berapa warganya yang tengah menjalani isoman. Juga yang sekiranya membutuhkan bantuan makan. Seperti tukang becak, penarik gerobak sampah, dan lainnya.

Paket bantuan kita sesuaikan dengan kebutuhan. Jika ada isoman baru, ketua RT wajib lapor. Paket bantuan kita tambah. Yang isoman juga kita beri bantuan sembako. Kalau bosan dengan makanan kiriman, bisa masak sendiri. Pokoknya, jangan sampai ada yang kesulitan makan. Saya penjaminnya. Selain itu, vitamin dan masker kita drop ke tempat ketua RT. Itu diberikan kepada yang isoman, juga warga yang membutuhkan. Artinya, yang sehat juga jangan sampai sakit. Paket akan terus kita kirim.

Bagaimana dengan yang terdampak? Bantuan kepada warga yang terdampak sudah dan akan disalurkan. Setidaknya, ada sebanyak 2.528 kelompok penerima manfaat (KPM) untuk BPNT daerah dan sebanyak 5.731 untuk penerima BPNT pusat. Baik BPNT pusat maupun daerah sudah mulai dicairkan sebelum PPKM darurat diberlakukan. Juga terdapat bantuan sosial terpadu (BST) yang akan dicairkan selama dua bulan langsung. Penerima akan mendapatkan Rp 600 ribu. Jumlah penerima BST di Kota Madiun sebanyak 9.203 orang. Pencairan BST ini dimulai 29 Juli mendatang. Selain itu, terdapat 3 ribu penerima bantuan berupa beras 5 kilogram di luar data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS). Beberapa waktu lalu juga ada 139 ton beras PPKM untuk 13.952 penerima.

Itu belum bantuan dari organisasi, instansi, atau perusahaan. Seperti Baznas, Korpri, PDAM, dan lain sebagainya. Intinya, ada banyak bantuan. Ada banyak kepedulian. Ini memang yang sedang kita butuhkan. Tanpa soliditas kita bersama, pandemi Covid-19 akan sulit terlewati. Kita harus saling menjaga dan peduli. Seperti PKL menyiapkan makanan untuk yang isoman tadi. Dengan begitu, yang sedang isoman juga terurus. Merasa dipedulikan. Dorongan moril ini juga tak kalah penting. Partisipasi dari masyarakat ini juga akan menambah kerukunan ke depannya. Artinya, warga yang sakit segera sehat, setelahnya kerukunan akan meningkat. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button