Madiun

Bernardi S. Dangin Memperjuangkan Gunungsari sebagai Desa Wisata

MADIUN – Tiada bentang alam indah bukan halangan menjadikan Desa Gunungsari, Madiun sebagai desa wisata. Rutinitas warga menjadi branding menarik di mata para wisatawan asing. Di antaranya menggoreng tempe dan menyeduh kopi.

Nada suara Bernardi S. Dangin lantang. Ujung jari telunjuk kanannya menyentuh masing-masing jari tangan kiri tatkala menjabarkan satu persatu potensi warga Desa Gunungsari, Kecamatan/Kabupaten Madiun, tempat tinggalnya. Meski secara geografis, tidak ada bentang alam indah yang bisa dijual kepada wisatawan domestik, bahkan luar negeri. ‘’Kebiasaan sehari-hari lah yang dijual. Karena kami menyadari yang dipunya desa ini hanya persawahan,’’ kata Bernard, sapaannya, merendah.

Bernard merupakan ketua kelompok sadar wisata (pokdarwis) Gunungsari yang lahir 2015 silam. Kelompok itu terdiri sembilan anak muda yang tinggal dalam satu RT. Didirikan dengan semangat mengenalkan ke khalayak bahwa tanah kelahirannya sanggup menjadi desa wisata. Walhasil. sepanjang tahun lalu tercatat 38 wisatawan asing berduyun-duyun datang. Puluhan turis dari Prancis, Belanda, Italia, Belanda, hingga Amerika Serikat, itu malah bersedia menginap berminggu-minggu. ‘’Target tahun ini 100 wisatawan asing berkunjung ke Gunungsari,’’ ujarnya.

Tidak hanya desa jadi jujugan turis, pokdarwis sukses menggelar dua event anti-mainstream. Yakni, Festival 17 Agustusan tahun lalu yang mempopulerkan kembali permainan tradisional khas lomba kemerdekaan Indonesia. Sejumlah wisatawan asing pun tertarik ikut memeriahkan festival tersebut. Delapan bulan berselang, Bernard dkk membuat event Festival Aksara Jawa Lontar. Banyak pengajar dari luar Kabupaten Madiun datang dalam acara mempopulerkan lagi aksara tradisional nusantara yang nyaris punah tersebut. ‘’Dulu, ide-ide kami dipandang remeh dan ditolak,’’ ungkapnya.

Apa rahasianya? Kebiasaan sehari-hari lah yang dijadikan citra dan branding oleh Bernard dkk. Pola pikir yang dipakai rutinitas dan kebiasaan warga sangat asing di mata para turis. Beberapa contohnya, menyeduh kopi tubruk, menggoreng tempe, mendatangi hajatan pernikahan, dan menggarap sawah. Kegiatan tersebut tidak ada di tempat tinggal mereka. ‘’Jimpitan iuran RT itu bisa menjadi narasi bagus untuk mereka (wisatawan asing, Red). Indonesia ini kaya kebudayaan bahkan dari hal-hal kecil,’’ urai Bernard.

Percaya diri dan bangga atas apa yang dimiliki harus dimiliki warga Gunungsari. Dengan prinsip tersebut, mereka telah menjalankan dua hal. Yakni, melestarikan tradisi dan memudahkan pengenalan budaya. Konsep tersebut coba ditularkan ke desa-desa lainnya. ‘’Kami juga menginformasikan potensi milik desa lain Kabupaten Madiun ke para wisatawan yang datang ke sini,’’ ucapnya.  

Pokdarwis tidak ingin menyiakan kecanggihan teknologi sebagai media menarik perhatian. Kelompok tersebut berpromosi dan membangun imej desa wisata untuk menarik perhatian wisatawan domestik dan mancanegara lewat media sosial (medsos). Magnet penarik itu adalah materi-materi variatif yang terus diunggah setiap harinya. ‘’Ada Pasar Pundensari yang hanya buka Minggu. Pasar yang menjual jajanan khas Kabupaten Madiun ini salah satu media promosi kami,’’ bebernya.

Buntut kegiatan pokdarwis adalah kunjungan wisatawan meningkat dan ekonomi warga ikut terdongkrak. AKan tetapi, perjalanan hampir lima tahun sejak berdiri dipandang masih belum cukup. ‘’Terus kami kembangkan sedikit demi sedikit,’’ tandasnya. ***(cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button