Madiun

Berkah di Balik Musibah

SEBENARNYA saya ingin melanjutkan cerita Senin lalu. Cerita tentang Los Angeles-nya Kota Pendekar itu. Yaitu, pembangunan trotoar di Jalan Pahlawan yang sudah mulai terlihat hasilnya saat ini. Tetapi saya urungkan. Mungkin bisa untuk bahan lain waktu.

Saya malah teringat musibah banjir di Kabupaten Madiun, Maret lalu. Mungkin karena sekarang mulai musim hujan. Jadi teringat itu. Apalagi, di kota kita juga sedang gencar pembangunan saluran untuk penanganan masalah air berlebih itu.

Tetapi, cerita kali ini bukan sepenuhnya tentang banjir. Tetapi ada kaitannya. Kali ini lebih tentang rencana pembangunan ring road timur. Ya, kota kita akan punya ring road satu lagi. Anggarannya sudah disetujui pemerintah pusat. Rp 600 miliar. Mulai untuk pembangunan hingga pembebasan lahannya.

Pembangunannya mulai 2020 nanti. Mungkin memakan waktu sampai empat tahun. Tapi itu tidak masalah. Toh, itu proyek pemerintah pusat. Kita hanya dapat manfaatnya nanti kalau sudah jadi. Rencananya, mulai terminal ke timur melewati Kelurahan Tawangrejo, Kelun, Manisrejo, hingga Kelurahan Demangan. Nanti tembus ke Jalan Madiun-Ponorogo.

Kendaraan besar yang ingin ke arah Ponorogo dari Surabaya bisa lewat situ. Tidak lagi lewat Jalan Basuki Rahmad yang sering macet dekat perlintasaan kereta api daerah Sukosari itu. Apalagi, sekarang ada double track. Akan lebih banyak kereta yang lewat. Macetnya bisa makin sering.

Keberadaan ring road sepanjang lima kilometer lebih itu juga bisa mengurangi kepadatan kendaraan di tengah kota. Pengendara jarak jauh bisa memilih jalur tepi. Bisa lewat tepi barat maupun timur. Ini tentu akan sangat membantu. Juga bisa meramaikan daerah pinggiran. Banyak manfaatnya nanti.

Hadirnya bantuan pemerintah pusat ratusan miliar rupiah itu tentu tidak datang begitu saja. Seperti yang saya sebut di awal, ada kaitannya dengan musibah banjir di Kabupaten Madiun awal tahun lalu. Saya masih ingat saat turut memberikan bantuan ke sana tatkala banjir melanda. Kebetulan bersamaan dengan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa yang datang meninjau.

Dialog kecil mengemuka di atas perahu karet. Obrolan itu diawali protes Bupati Madiun Ahmad Dawami terkait penanganan banjir di wilayah kota. Akibatnya, aliran air dari wilayah kabupaten yang biasanya masuk ke kota jadi terhalang. Air kembali ke wilayah kabupaten.

Saya juga tidak mau kalah. Saya usul adanya jalan baru di wilayah timur. Hal itu juga untuk mendukung rencana jalur lingkar wilis. Ibu gubernur memang juga tengah mengupayakan jalur tersebut. Dari situ, saya dan Bupati Madiun diminta membuat proposal kepada pemerintah pusat.

Satu untuk pembenahan sungai wilayah Kabupaten Madiun mulai dari sebelah utara Tawangrejo. Kedua, untuk pembangunan ring road timur. Alhamdulillah, kabar baik datang. Keduanya disetujui. Kota dan Kabupaten Madiun dapat proyek dengan total anggaran Rp 1 triliun. Rp 600 miliar di antaranya untuk pembangunan ring road timur. Sisanya, pembenahan sungai itu.

Biarpun pembenahan sungai untuk Kabupaten Madiun, manfaatnya juga akan dinikmati masyarakat kota. Aliran sungai akan lancar. Selama ini, upaya pengerukan dan peninggian plengsengan wilayah kota memang belum bisa maksimal mengurangi genangan.

Sebab, aliran sungai kembali seret begitu masuk wilayah kabupaten. Sendimen sungainya sudah cukup tebal. Aliran jadi kurang lancar. Akibatnya, air kembali menumpuk di wilayah kota. Bahkan, meluber hingga jalan dan permukiman. Pengerukan tidak mungkin dilakukan karena masuk wilayah tetangga.

Beruntung muncul obrolan di atas perahu waktu itu. Kota Madiun tidak hanya mendapat proyek ring road timur. Ada tiga proyek lain yang bersumber APBN. Kota kita juga mendapat proyek flyover senilai Rp 150 miliar. Soal lokasinya masih dalam kajian. Apakah di Jalan Yos Sudarso yang depan Polres Madiun Kota itu, Jalan Basuki Rahmad daerah Sukosari, atau di ring road timur yang akan dibangun itu.

Tetapi yang terpenting program itu sudah masuk dalam RPJMN 2019-2024. Kita juga kembali dapat proyek Rusunawa. Seperti janji pemerintah pusat sebelumnya, Rusunawa memang akan berlanjut dua gedung lagi. Kita mendapat tambahan pembangunan satu gedung di 2021 sebesar Rp 15 miliar dan dilanjutkan 2023 juga sebesar Rp 15 miliar.

Terakhir, kota kita mendapat bantuan Instalasi Pengolahan Limbah Terpadu (IPLT). Pembangunan pengolahan limbah khusus tinja itu rencananya di dekat TPA Winongo. Dimulai 2020 dengan anggaran Rp 8,7 miliar. Wilayah perkotaan memang harus memiliki pengolahan limbah tinja seperti itu.

Tinja dari rumah tangga yang diambil dari penyedia jasa langsung akan diolah. Tidak boleh dibuang di sungai atau dikubur dalam tanah. Seperti yang saya katakan tadi, beruntung muncul obrolan di atas perahu karet saat banjir lalu. Obrolan saat musibah waktu itu membawa berkah saat ini. Berkah dibalik musibah. (*)

Penulis adalah Walikota Madiun Drs. H. Maidi, SH, MM, MPd

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close