Madiun

Belum Izin Wali Kota, Logo Disbudparpora Banjir Kritikan

Posting-an Ramaikan Jagat Maya

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Baru redam polemik netizen menyoal speed table di Jalan Pahlawan, jagat maya kembali memanas. Pembuatan logo Hari Jadi Kota Madiun ke-102 dinilai asal-asalan.

Logo itu mulai di-posting di akun Facebook (FB) dan Instagram (IG) Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Madiun, Rabu lalu (17/6). Dalam posting-an itu menyebut, bagi warga yang ingin mengunduh logo dapat mengakses laman Disbudparpora Kota Madiun. Posting-an itu juga dilengkapi gambar logo disertai penjelasan detail tentang arti dan makna logo hari jadi Kota Madiun.

Belum genap 24 jam, sekitar pukul 22.24, posting-an tersebut telah dibagikan sebanyak 121 kali. Pun dibanjiri 256 komentar. Isi komentar pedas netizen berisi tanggapan yang menyatakan ketidakpuasan atas logo tersebut.

Salah satu komentar dilontarkan akun @MuhammadFadhlullahNadhif. ‘’Min elek banget sumpah, kene bayar aku tak garape.’’ Terjemahan bebasnya, ‘’Min, sumpah jelek banget. Sini bayar ke saya nanti saya kerjakan.’’ Akun @FaldhanR turut mengomentari. ‘’Ini lima ribuan? Tolonglah, teman-teman desainer Madiun banyak yang pro (profesional, Red).’’ Akun @MatinAhmad menyebut posting-an itu viral hingga Jawa Barat. Dia berkomentar menggunakan bahasa campuran Jawa dan Sunda. ‘’Wih, logone viral tekan Jawa Barat. Kumaha ieu teh desainer grafis na?’’ Terjemahan bebasnya, ‘’Wih, logonya viral sampai Jawa Barat. Gimana sih ini desainer grafisnya?’’

Komentar bernada sarkasme dari para netizen itu bukan tanpa alasan. Sebab, logo 102 tahun itu terkesan membingungkan. Tidak heran jika pemilik akun @galihprasss_ menanyakan maksud dari logo tersebut. ‘’Min ijin masukan, itu yang dimaksud ulang tahun ke 02 apa gimana? Banyak lo min designer muda Madiun yang bisa buat itu lebih keren,’’ tulisnya.

Kepala Disbudparpora Kota Madiun Agoes Poerwowidagdo saat diklarifikasi Jawa Pos Radar Madiun Kamis (18/6) mengungkapkan bahwa logo tersebut dibuat oleh tim disbudparpora. Dia menjelaskan bahwa logo tersebut mencerminkan usia Kota Madiun, ikon Kota Pendekar, serta unsur heritage yang dimiliki Kota Madiun. ‘’Semua dipadukan dari unsur itu. Kami sendiri yang desain,’’ kata Agoes.

Dia mengakui bahwa logo itu belum mendapat restu dari wali kota. Namun, dia telah menggelar rapat internal sebelum me-launching logo tersebut di media sosial. Tidak heran jika kemudian dinyinyiri netizen. ‘’Kami rapatkan internal, belum minta izin ke Pak Wali (Maidi, Red),’’ ujarnya.

Posting-an itu telah dihapus Kamis (18/6). Sebab, Diskominfo Kota Madiun segera merevisi logo yang menjadi perbincangan hangat tersebut. Terkait dengan logo baru itu, Agus menyatakan bahwa nantinya yang digunakan adalah logo versi revisian tersebut. ‘’Nanti kami pakai yang baru dari diskominfo,’’ ucapnya. (kid/her/c1/fin)

Gambar Baru Lebih Futuristis dan Ekspresif 
SECEPAT kilat. Logo hari jadi Kota Madiun buatan disbudparpora langsung direvisi diskominfo. Produk baru itu telah mendapat persetujuan dari wali kota. Logo baru yang dibuat dengan lebih futuristis serta kaya makna itu menjadi logo resmi yang digunakan untuk Hari Jadi Kota Madiun ke-102 tahun.

Kabid Pengelolaan TIK Diskominfo Kota Madiun Noor Aflah menegaskan, pembuatan logo baru sejatinya tidak ada kaitannya dengan komentar miring tentang logo sebelumnya yang dibuat disbudparpora. ‘’Logo (lama) itu sebenarnya untuk internal disbudparpora, seharusnya masih dikaji tim hari jadi di level kota,’’ kata Aflah.

Aflah pun mengaku terkejut begitu tahu logo lama itu tiba-tiba diunggah ke media sosial. Tanpa izin dari wali kota dan kajian dari tim hari jadi Kota Madiun. Informasi yang dia terima, disbudparpora mendapat permintaan logo hari jadi Kota Madiun dari berbagai pihak. Atas banyaknya permintaan itu, akhirnya meluncurkan logo yang menjadi kontroversial di jagat maya. ‘’Kemarin infonya mereka (disbudparpora, Red) banyak dimintai logo, kemudian diunggah di medsos,’’ terangnya.

Menurut dia, seharusnya seluruh produk baru dipublikasikan di media sosial setelah resmi dimuat di website Pemkot Madiun. Aflah berharap, ke depan persoalan semacam ini tidak terulang. Sekaligus menjadi koreksi bagi diskominfo dalam menjalankan kewenangan terkait publikasi. ‘’Ini bentuk koreksi dari kami sebagai peng-handle publikasi,’’ ungkapnya.

Logo baru yang digunakan terlihat lebih ekspresif dan berwarna. Konsepnya dibuat menyesuaikan tema hari jadi Kota Madiun tahun ini. Melecut dan menumbuhkan semangat Kota Madiun untuk membangun dan bersatu serta bersiap menghadapi tantangan baru. ‘’Dari tema ini kita tuangkan dalam logo,’’ kata Aflah.

Semangat untuk membangun itu diwujudkan dengan warna merah di tulisan Kota Madiun. Angka 102 diberi warna kuning emas bermakna harapan bahwa tahun ini merupakan tahun emas yang akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Warna hijau pada background bermakna harapan agar Kota Madiun senantiasa dilingkupi kedamaian, kenyamanan, dan aman. Adapun gambar pendekar menyiratkan ikon Kota Pendekar. Gambar itu mengenakan masker sebagai penanda bahwa masyarakat Kota Madiun siap menghadapi tatanan hidup baru. ‘’Ini sudah disetujui Pak Wali dan sesuai dengan tema yang diangkat,’’ ucapnya. (kid/c1/fin) 

Terlalu Banyak Muatan, Pesan Tak Tersampaikan
HABIB, desainer grafis dan tata artistik Jawa Pos Radar Madiun, menilai logo lama yang sempat meramaikan jagat maya tidak memenuhi unsur estetika. Terlalu banyak yang ingin disampaikan dan justru hal itu mengaburkan makna. Alias gagal fokus. ‘’Intinya semrawut,’’ kata graphic designer yang jebolan sekolah desain Jawa Pos 2012 ini.

Paling mencolok dilihat dari pemilihan warna yang kurang nyaman untuk ditampilkan. Bentuk angka satu yang menggunakan Tugu Patung Pendekar justru tidak melambangkan angka satu. Angka dua juga seolah kabur dengan pilihan bentuk yang dipilih. Sehingga dari angka 102 yang hendak ditampilkan justru yang terlihat hanya angka 0. ‘’Dapat dipastikan itu yang membuat bukan desainer grafis. Kalaupun desainer grafis, mungkin masih belajar,’’ ujarnya.

Secara prinsip, logo tersebut tidak memenuhi kaidah pembuatan logo. Bagaimanapun, ada kaidah yang patut diperhatikan. Habib membeberkan, logo yang baik itu sederhana dan mudah dimengerti. Pun, mudah diaplikasikan ke berbagai media. ‘’Membuat logo itu ada aturannya. Pemilihan warna itu juga penting,’’ jelasnya.

Logo yang baik, lanjut Habib, maksimal mengaplikasikan pemilihan tiga warna dan tiga jenis font. Pemilihan keduanya harus menyesuaikan maksud dan tujuan yang hendak disampaikan. Imajinasi juga tak kalah penting agar nilai estetika tertuang dalam logo. ‘’Harus diperhatikan sampai detail terkecil,’’ tuturnya.

Untuk logo baru yang direvisi diskominfo dianggap sudah memenuhi kaidah pembuatan logo. Namun, bagi Habib, logo baru itu masih terlalu banyak warna. Bentuknya pun kurang sederhana. Terutama pada tulisan 102. Dalam logo itu yang ditonjolkan justru gambar pendekar yang mengenakan masker. ‘’Sudah lumayan logo yang baru ini. Ada sedikit masukan, seharusnya semuanya ditonjolkan. Tulisan 102 dan gambar pendekar yang menjadi ikon logo semestinya lebih dieksplorasi,’’ beber desainer grafis yang tiap pekan juga menerima pesanan dari Yunani, Australia, Jepang, dan Amerika Serikat ini. (kid/c1/fin) 

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button