Ngawi

Belasan Siswa Terpaksa Belajar di Gudang Dekat Septic Tank

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Belasan siswa SDN 3 Gemarang, Kedunggalar, saban hari terpaksa mengikuti kegiatan belajar-mengajar (KBM) di gudang sekolah. Itu terjadi lantaran kelas yang seharusnya mereka tempati ’’tergusur’’ untuk ruang guru.

‘’Karena sampai sekarang kami tidak memiliki ruang guru,’’ kata Kepala SDN 3 Gemarang Sumarni Jumat (13/3). ‘’Sejak kapan siswa menempati gudang, saya tidak tahu. Karena sejak bertugas di sini kondisinya sudah seperti itu,’’ imbuhnya.

Sebenarnya, pihaknya sudah berupaya mengembalikan ruang kelas yang ’’tergusur’’ itu untuk kegiatan belajar-mengajar siswa. Salah satunya dengan mengajukan bantuan pengadaan gedung perpustakaan pada 2018 lalu. ‘’Rencana saya, nanti separo ruangannya bisa digunakan untuk ruang guru,’’ ujarnya.

Sayang, upayanya masih belum membuahkan hasil. Usulan pengadaan gedung perpustakaan yang diajukan melalui data pokok pendidikan (dapodik) itu ditolak. Padahal, pihaknya sangat membutuhkan prasarana tersebut. Selain untuk ruang guru, bisa digunakan untuk membuka bantuan seribu buku dari pemerintah. ‘’Tapi, kami ajukan lagi. Akhirnya tahun ini (bantuan gedung perpustakaan) disetujui,’’ ungkapnya.

Pihaknya juga mengajukan pengadaan ruang guru. Namun, hingga kini belum disetujui. Padahal, Sumarni mengaku sudah menemui langsung koordinator bantuan dana alokasi khusus (DAK) di Dinas Pendidikan (Dindik) Ngawi agar usulannya dikabulkan. ‘’Paling tidak untuk perpustakaan sudah disetujui dan akan direalisasikan tahun ini,’’ tuturnya.

Sumarni mengaku, tahun depan bakal mengusulkan lagi rehab bangunan ruang kelas I-III lantaran kondisinya sudah tidak layak. Bahkan, sebagian plafonnya roboh akibat dimakan usia. ‘’Kami khawatir kalau tidak segera direhab nanti bisa mencelakai anak-anak,’’ ucapnya.

Sekadar diketahui, SDN 3 Gemarang saat ini memiliki 84 siswa. Dari jumlah itu, 18 di antaranya terpaksa belajar di gudang berukuran sekitar 4×4 meter. Pun, lokasinya berada di dekat septic tank.

Minimnya siswa itu pula disebut menjadi kendala pengajuan bantuan rehab ruang kelas. Sebab, sesuai ketentuan, sekolah yang bisa mendapat bantuan rehab dari dana DAK harus memiliki minimal 90 siswa. ‘’Kami sudah sampaikan langsung ke dinas pendidikan, selain mengusulkan melalui dapodik. Tapi, sampai sekarang belum ada realisasi,’’ keluhnya.

Kepala Dinas Pendidikan Ngawi M. Taufiq Agus Susanto mengaku sudah mendapat laporan terkait kondisi SDN 3 Gemarang. Namun, pihaknya belum bisa menjanjikan kapan perbaikan dilakukan. ‘’Karena belum masuk di anggaran, baik DAK maupun APBD,’’ sebutnya.

Meski begitu, pihaknya bakal mencarikan solusi. Salah satunya melakukan perubahan anggaran perbaikan sekolah pada APBD perubahan. ‘’Mana yang lebih memungkinkan lah. Yang jelas, dinas akan berupaya menangani kondisi sekolah yang sudah rusak parah seperti itu,’’ ujarnya. (tif/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button