Ponorogo

Belajar Perjuangan Hidup dari Kuli Angkut Pasar Songgolangit

Jauh Lebih Baik ketimbang Mengemis di Jalanan

Tubuh renta tidak menurunkan semangat Jeminem mengangkut belanjaan para pembeli. Puluhan tahun kerja kasar itu dilakoni. Belum berhenti memasuki kepala delapan.

=========================== 

DILA RAHMATIKA, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

TERTATIH kaki telanjang Jeminem menyusuri lorong Pasar Songgolangit, Ponorogo. Tubuhnya yang mungil membopong sebuah karung berisi puluhan kelapa dan barang belanjaan lainnya. Langkah kakinya terhenti di deretan tukang becak yang parkir di halaman depan pasar rakyat itu. Satu per satu barang bawaan diletakkan di atas kursi kendaraan roda tiga tersebut. ‘’Bawa barang belanjaan dari langganan,’’ katanya.

Jeminem satu di antara ratusan kuli angkut Pasar Legi, nama lain Pasar Songgolangit. Puluhan tahun pekerjaan itu dilakoni. Mulai remaja hingga kini berusia 77 tahun. Meski tidak lagi muda, punggung warga Desa Gandukepuh, Sukorejo, itu masih kuat mengangkut beban barang belanja hingga setengah kuintal. ‘’Tapi tidak sekuat ketika masih muda,’’ ujarnya.

Pekerjaan kasar itu mulai dilakoni ketika kerap berkumpul dengan teman-temannya di kompleks Pasar Legi. Hingga akhirnya datang ajakan menjadi kuli angkut. Setiap kali melihat pembeli membawa banyak barang belanja, dia menawarkan diri membawakannya sukarela. Kalaupun diberi upah, ya seikhlasnya. ‘’Dibayar dua rupiah,’’ kenangnya.

Kuli angkut akhirnya menjadi tumpuan hidup. Setiap hari berangkat pagi pulang sore bawa uang tak seberapa. Pulang larut malam sudah biasa ketika butuh uang banyak. Tetap semangat demi menghidupi lima orang anak. ‘’Yang penting cukup untuk makan setiap hari,’’ ucap Jeminem.

Kebakaran Pasar Legi dua tahun lalu menyimpan kenangan pahit bagi Jeminem. Pendapatannya turun karena ribuan pedagang direlokasi di lahan bekas rumah sakit di Jalan dr Cipto Mangunkusumo. Saat ini, uang yang dikantongi rata-rata Rp 25 ribu–Rp 30 ribu per hari. Kalau sedang ramai bisa Rp 35 ribu. Itu belum termasuk ongkos becak Rp 15 ribu untuk pulang ke rumah. Selain uang, Jeminem kadang kala pulang membawa beberapa kantong sayuran dan makanan ringan pemberian orang pasar. ‘’Berangkat diantar anak, tapi kalau pulang kadang-kadang saja,’’ terangnya.

Tidak pernah tebersit di benak Jeminem mencari pekerjaan lain. Baginya, pekerjaan kasarnya itu lebih mulia ketimbang harus mengemis di jalanan. Selama tubuhnya sehat dan kuat, dia akan tetap bekerja. Tidak ingin merepotkan keluarga. ‘’Libur kerja hanya kalau ada tetangga sedang punya hajat,’’ katanya.

Menjaga kerukunan dengan sesama kuli angkut adalah keharusan. Tidak boleh saling serobot pelanggan. ***(cor/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button