PacitanPendidikan

Belajar Daring, Peran Orang Tua Penting

Perkembangan Siswa dan Tugas Di-Share via WA

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Pandemi Covid-19 membuat aktivitas di sekolah harus menyesuaikan keadaan. Seperti pembelajaran dalam jaringan (daring) bakal diterapkan kembali di tahun ajaran baru kali ini.

Sejumlah sekolah sudah mulai menerapkan konsep tersebut saat masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS). Guru mengirimkan tugas dan profil sekolah ke siswa secara online. ‘’Kami share video via YouTube,’’ kata Wali Kelas VII SMPN 2 Pacitan Fika Agustinmardika Rabu (15/7).

Dia menerangkan, proses pembelajaran bakal dilakukan secara dua arah selepas MPLS dan melibatkan peran orang tua. Seperti tugas sekolah akan dikirim ke grup WhatsApp (WA) wali murid untuk kemudian disampaikan ke anak mereka. ‘’Orang tua murid juga kami minta datang ke sekolah untuk mengambil buku pelajaran secara bertahap supaya tidak terjadi penumpukan orang,’’ terangnya.

Fika mengaku upaya ini tidak mudah. Proses pembelajaran yang dulunya dilakukan secara tatap muka sekarang berganti jarak jauh. Diperlukan penyesuaian baik siswa maupun guru. Sebab, dia tak menampik masih ada siswa yang kesulitan jaringan untuk menerima tugas dari rumah. ‘’Satu-dua ada yang masih nebeng HP (handphone, Red) temannya. Kami maklumi hal tersebut,’’ ujarnya.

Fika berharap pandemi cepat berlalu. Sehingga, proses pembelajaran tatap muka bisa kembali digelar. ‘’Untuk sementara peran orang tua sangat berpengaruh, membimbing anak mereka ketika belajar dari rumah,’’ ungkapnya. (gen/c1/her)

Di Sekolah Pelosok, Guru Keliling Rumah Siswa

METODE pembelajaran daring menghadirkan dilema bagi orang tua murid. Sebagian di antara mereka mengeluh karena harus membagi waktu antara kerja dan mendampingi anaknya belajar di rumah. ‘’Pakai daring semakin membuat pusing. Seharusnya ada terobosan baru,’’ kata Nur Hidayati, warga Lingkungan Kwarasan, Kelurahan Baleharjo, itu Rabu (15/7).

Akhirnya, beban orang tua bertambah. Baik dari sisi tenaga maupun materi. Belum lagi pengeluaran semakin membengkak. Karena harus mengeluarkan uang lebih untuk membeli paket data internet. ‘’Seperti saya yang mempunyai anak SD, tentu tidak efektif. Soalnya masih perlu pendampingan,’’ ujarnya.

Menurut Hidayati, seharusnya guru sesekali melakukan home visit. Sehingga materi pembelajaran dapat ditangkap secara penuh oleh siswa. ‘’Setidaknya harus ada cara lain agar pendidikan anak tidak terbengkalai,’’ tuturnya.

Saran dari wali murid itu akan diterapkan oleh SDN 1 Pucangombo. Lokasi sekolah yang berada di wilayah minim sinyal memaksa guru harus mengatur pembelajaran tatap muka. ‘’Pembelajaran tatap muka tidak di sekolah. Tapi, guru yang keliling ke rumah siswa,’’ kata Herlina Safitri, guru SDN 1 Pucangombo.

Pihaknya juga mempertimbangkan pembelajaran secara berkelompok. Namun, pesertanya dibatasi. Semisal satu kelas dibagi menjadi dua gelombang. ‘’Satu minggu bisa dua kali. Sehingga pemberian tugas dapat terstruktur,’’ terang Herlina. (mg2/c1/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close