Bupati Menulis

Belajar dari Sejarah

KETIKA Covid-19 masuk Indonesia pada Maret 2020, muncul banyak ramalan. Kapan berakhir. Ada yang mengatakan musim kemarau akan hilang. Karena virus mati ketika musim panas. Banyak yang meramalkan melalui perspektif yang berbeda. Belum informasi hoaks bertebaran tiada henti. Namun, para ilmuwan berkeyakinan Covid-19 akan mereda bila sudah tercipta herd immunity (kekebalan kelompok). Kemudian kita dapat hidup normal dengan tatanan kehidupan baru.

Belajar dari Flu Spanyol 1918, kondisinya hampir mirip dengan saat ini. Di negara seperti Amerika, Australia, dan lainnya, ketika gelombang Flu Spanyol masuk ke negaranya, berbagai upaya dilakukan. Salah satunya, menutup pelabuhan sebagai upaya menekan persebaran virus. Pelabuhan menjadi sarana utama mobilitas waktu itu.

Australia dianggap paling berhasil mengendalikan Flu Spanyol. Kebijakan yang mereka ambil adalah menutup semua pelabuhan. Setiap penumpang kapal yang datang dikarantina sepekan. Mobilitas penduduk dibatasi. Sekolah ditutup. Penduduk juga diminta menjauhi kerumunan.

Gelombang pertama tidak terlalu mematikan. Namun, ketika muncul gelombang kedua dan virus bermutasi, kondisi lebih ganas. Apalagi yang komorbid. Seperti jantung, hipertensi, atau diabetes. Banyak yang jadi korban.

Menurut catatan Ravando, virus tersebut juga menyebar sampai Hindia Belanda. Di Fakfak, Papua, yang ketika itu jumlah penduduknya hanya 900 jiwa, meninggal 194 orang atau 21,6 persen. Bahkan, angka mortalitas di Merauke mencapai 50 persen. Betapa ganasnya virus ini pada gelombang kedua.

Di Jawa dan Madura, angka mortalitas mencapai sekitar 4,37 juta jiwa. Madura menjadi wilayah dengan persentase tertinggi yaitu 23,71 persen. Disusul Banten 21,13 persen, Kediri 20,62 persen, dan Surabaya 17,54 persen. Sementara Madiun 7,31 persen. Bila diperkirakan angka mortalitas terendah dunia sekitar 50 juta, maka Hindia Belanda menyumbang sekitar 5 persen.

Melihat kondisi tersebut, gubernur jenderal mengambil kebijakan lockdown. Namun, ditentang banyak pengusaha. Mengingat Hindia Belanda maju karena sumbangan pengusaha. Sempat terjadi perdebatan ketika mereka menyusun rancangan undang-undang Enfluenza Ordonnantie. Penentang utamanya Koninklijk Paketvaart Maatschappij (perusahaan pelayaran kerajaan). Undang-undang akhirnya dijalankan dengan beberapa penyesuaian.

Selain menghadapi penyakit, pemerintah juga menghadapi kekeringan panjang. Banyak warga terpapar virus. Sawah dan ladang terbengkalai. Ancaman kelaparan melanda negeri. Jutaan orang menjadi peminta-minta di kota.

Di Selandia Baru, yang wilayahnya relatif terpencil dengan penduduk yang sedikit, korbannya lebih dari 8.500 jiwa. Untuk mengenang pengorbanan para dokter, suster, relawan, dan penduduk, pada 25 September 1988 dibangun monumen di Auckland. Memperingati 100 tahun pandemi Flu Spanyol, yang menurut mereka paling ganas di muka bumi.

Setelah 1919 korban Flu Spanyol berkurang. Salah satunya karena herd immunity. Dan, karena waktu itu di Hindia Belanda tidak ada vaksinasi, herd immunity terbentuk lebih karena seleksi alam. Namun, membawa korban begitu banyak.

Kita perlu belajar dari Flu Spanyol. Saat ini kita lebih diuntungkan karena ilmu kesehatan semakin maju. Dalam waktu relatif singkat sudah ditemukan vaksin untuk Covid-19. Berjuta-juta vaksin diproduksi. Namun, karena permintaan begitu tinggi, butuh waktu tidak sebentar untuk memberikan vaksin kepada 70 persen penduduk. Demi tercipta herd immunity.

Magetan berpenduduk 670.000 jiwa. Target vaksinasi sekitar 80.000 jiwa. Sampai saat ini baru tercapai sekitar 55 persen. Tentu bila terpenuhi 100 persen dari target, baru mencapai sekitar 15 persen dari total penduduk. Jauh dari ideal hingga herd immunity terbentuk lewat vaksinasi.

Pengadaan vaksin oleh pemerintah perlu didukung penuh. Perintah Presiden Joko Widodo untuk langsung memberikan vaksin ke penerima tanpa disimpan, sangat masuk akal. Sebab, sebelumnya vaksin yang diterima disisihkan separo untuk vaksin kedua. Harus menunggu sekitar empat pekan untuk vaksinasi selanjutnya. Lebih baik langsung dihabiskan, karena pemerintah menjamin ketersediaan vaksin berikutnya.

Sebelum target vaksinasi terpenuhi, hidup dengan protokol kesehatan harus menjadi cara hidup kita. Kita tidak ingin herd immunity terbentuk karena seleksi alam. Berapa banyak nanti korbannya. Saat ini korban di seluruh dunia tidak lebih banyak dari korban di seluruh Hindia Belanda waktu Flu Spanyol.

Masyarakat dunia saat ini saling menyorot. Negara mana yang dianggap kurang baik melindungi masyarakatnya. Jangan sampai kita alami. Kita dapat belajar dari kesalahan sejarah. Ketika Flu Spanyol melanda negeri ini. Keledai saja tidak akan pernah jatuh dua kali pada lubang yang sama. (*/naz/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button