Bupati Menulis

Belajar dari Pak Surat

KETIKA saya menjadi bupati Magetan, sudah sering mendengar yang namanya Pak Surat dari Desa Jabung, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan. Seorang pengabdi lingkungan, peraih Kalpataru 2006, yang patut menjadi sumber inspirasi untuk mencitai lingkungan. Tidak hanya itu, sosok yang menurut saya pantas menjadi guru kita dalam mengabdi guna kelestarian lingkungan. Namun sayangnya, beberapa waktu lamanya saya belum sempat berkunjung ke kediaman beliau. Berbagai sebab yang menyebabkan saya tidak bisa langsung berkunjung. Akan tetapi, waktu itu akhirnya tiba.

Hari Rabu kemarin, sengaja saya agendakan silaturahmi ke rumah. Tanpa memberi tahu beliau agar tidak merepotkan. Saya sengaja memberi tahu kepada sekretaris pribadi saya, ketika mau berangkat. Demikian juga kepala dinas lingkungan hidup saya minta untuk menyusul ketika saya sudah dalam perjalanan ke rumah beliau.

Desa Jabung merupakan desa paling atas di Kecamatan Panekan di lereng Gunung Lawu. Berbatasan persis dengan Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi. Desa tepian hutan ini wajar kalau kontur lahannya di kemiringan. Demikian jalannya, penuh dengan tanjakan.

Desa ini sebelum tahun 1990 masuk dalam desa yang masih sulit air bersih. Hutan yang berbatasan dengan Desa Jabung sering menjadi harapan satu-satunya masyarakat, mengingat persoalan lingkungan yang tidak pernah selesai. Penebangan kayu oleh masyarakat menjadi hal biasa, karena lahan pertanian yang tidak menghasilkan maksimal karena adanya berbagai sebab.

Salah satu sebabnya, bila musim kemarau, ketika hutan langka akan sumber makanan bagi hewan, sasaran utamanya adalah tanaman petani. Seperti kawanan kera, akan menyerbu tanaman petani, seperti jagung, ketela, dan tanaman lainnya. Hampir setiap tahun pada masa tertentu petani menderita kerugian yang sangat besar. Sedang pertanian adalah harapan satu-satunya untuk penghidupannya.

Menjadi hal yang biasa, kemudian masyarakat akhirnya banyak berurusan dengan aparat penegak hukum. Hutan yang mestinya harus dijaga untuk kelangsungan ekosistem menjadi sasaran masyarakat untuk ditebang kayunya. Tentu yang dilakukan masyarakat adalah karena tuntutan akan kelangsungan hidupnya dalam jangka pendek. Yaitu perut. Tidak terpikir akan akibatnya.

Melihat kenyataan dan kondisi yang demikian, pada tahun 1980-an muncul gagasan dari Pak Surat  yang tentunya waktu itu masih muda, untuk berpikir jauh ke depan. Bagaimana kemudian memecahkan persoalan air bersih bagi warga, dan sekaligus menanggulangi hama tanaman seperti kawanan kera yang setiap tahun menghancurkan sumber penghidupan petani di Desa Jabung khususnya.

Dari gagasan tersebut kemudian dikomunikasikan dengan sebagian warga. Baik ketika bertemu perorangan maupun dalam kelompok. Dari berbagai diskusi itulah kemudian disepakati untuk menghutankan tanah rakyat dengan berbagai tanaman. Yang pertama adalah tanaman sengon yang umurnya relatif pendek namun mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi. Karena kebetulan di Kabupaten Magetan ada pabrik tripleks, walau tidak besar namun dapat mengolah hasil hutan rakyat tersebut. Tentu tidak hanya hasil hutan rakyat dari Desa Jabung atau Kabupaten Magetan, tapi juga hasil kayu hutan rakyat dari kabupaten sekitar Magetan.

Tentu saja yang ditanam kemudian tidak hanya tanaman sengon. Selain tanaman sengon, juga ditanam tanaman buah yang bisa menjadi sumber penghidupan binatang seperti kera yang selama ini selalu mengganggu tanaman petani. Selain itu, tak kalah pentingnya dengan adanya hutan rakyat, maka diharapkan akan muncul sumber-sumber air yang selama ini menjadi masalah bagi warga Desa Jabung.

Yang menjadi sangat luar biasa, gagasan tersebut mendapat sambutan antusias sebagian besar warga. Tentu sebuah gagasan jangka panjang, sudah tentu memerlukan usaha dan keyakinan kolektif yang luar biasa. Namun hasilnya sungguh sangat nyata. Semua gagasan yang mulanya hanya mimpi, betul-betul menjadi sebuah kenyataan yang sangat membanggakan.

Tanaman hutan rakyat yang ditanam pada tahun 1980-an seluas kurang lebih 100 hektare, sepuluh tahun kemudian akhirnya mulai memperlihatkan hasilnya. Selain tanaman hutan rakyat yang mulai hijau, juga pada tahun 1990-an mulai muncul sumber air. Awalnya baru satu sumber air yang muncul. Hasil itu tentu sangat menggembirakan seluruh warga.

Seiring berjalannya waktu, sampai dengan saat ini sudah muncul empat sumber air di Desa Jabung bagian atas dan sudah bisa mencukupi kebutuhan warga. Dari setiap sumber air saat ini dialirkan pipa-pipa ke rumah warga. Dan tidak ada batasan air yang dipakai warga atau tidak ada penjatahan pemakaian warga. Ini artinya, betapa potensinya sumber air di desa setelah lingkungannya dipelihara dengan baik.

Kelompok Tani “Murakapi,” yang kemudian menaungi semua aktivitas kelompok tani di Desa jabung, saat ini sudah mengembangkan bidang lain. Dari hutan rakyat yang telah terbukti memberikan arti bagi kehidupan masyarakat, juga ada usaha lain yang kemudian berkembang yaitu beternak lebah madu. Saat ini telah berkembang lebah madu di Desa Jabung yang terkenal madu lokal aslinya.

Dipimpin oleh Pak Surat, saat ini kelompok tani Murakapi telah memiliki total lebah madu lokal sebanyak kurang lebih 300 kotak. Jangan heran kalau para pembaca berkunjung di Desa Jabung, Kecamatan Panekan, menjumpai kotak-kotak sebagai sarang lebah madu lokal diletakkan di samping rumah. Digantung di beranda depan rumah. Atau digantung di dahan-dahan pohon depan, samping, atau belakang rumah. Dan bahkan sarang lebah masih juga ada yang masih bentuknya glodhog atau sarang lebah yang terbuat dari gelugu. Sarang lebah yang biasa kita jumpai ketika kita semua masih kecil dulu sering menjumpai di rumah-rumah penduduk.

Kotak-kotak lebah semua tampak sangat sederhana. Begitu sangat sedehananya, kayu-kayu yang dipakai sarang lebah terkesan usang. Bahkan terkesan seperti lapuk. Justru kotak-kotak model demikian sangat disukai oleh lebah lokal. Lebah lokal ternyata tidak begitu menyukai rumah dari kayu mahal. Apalagi yang bergetah.

Hasil madu dari para anggota kelompok tani dikumpulkan. Di rumah Pak Surat ada tempat penjualan dan persediaan hasil madu lokal. Permintaan akan madu sungguh sampai saat ini masih tinggi. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 yang mengharuskan stamina setiap orang terjaga agar tidak mudah terpapar virus.

Malahan, menurut cerita Pak Surat, banyak invididu yang sengaja pesan jauh hari sebelumnya bila persediaan madu habis terjual. Tentu permintaan yang tinggi ini menyadarkan kita semua, bahwa ada peluang besar beternak lebah madu. Apalagi beternak lebah madu tidak memerlukan tenaga terlalu besar. Kawanan lebah mencari makan sendiri.

Saya punya pengalaman yang cukup menarik tentang lebah ini. Tidak sengaja, di rumah dinas oleh istri saya ditanami bunga Yolanda. Bunga yang sangat mudah tumbuh, namun bunganya sungguh indah. Bunga ini berbunga setiap hari tanpa henti. Sayangnya satu, bunganya mekar hanya lebih kurang dua setengah jam. Mekar mulai jam 07.30 sampai dengan kira-kira jam 10.00.

Setiap akan mekar bunganya, ribuan lebah madu datang terbang dan hinggap pada bunga yang akan mekar. Dari situlah kemudian saya terpikir untuk minta nasihat Pak Surat, bagaimana kalau di rumah dinas diberikan koloni lebah madu lokal. Akhirnya saat ini ditempatkan dua kotak lebah madu, yang sampai saat ini sudah sekitar dua bulan tetap kerasan. Dan tidak pergi karena kemungkinan besar ada sumber makanan yang cukup setiap harinya.

Apa yang dilakukan dan dicontohkan oleh Pak Surat kepada masyarakat dan diajarkan kepada saya, sungguh luar biasa. Seandainya ada sepuluh Pak Surat di Magetan, yang mendedikasikan hidupnya untuk kemaslahatan masyarakat, betapa mulianya. Tidak salah kalau kita harus belajar dari Pak Surat. Tidak salah kalau kita juga harus belajar dari lebah: selalu memberikan yang terbaik (madu), namun tidak menuntut tempat terbaik baginya (kotak lebah sangat sederhana). Barang langka di negeri yang kita cintai saat ini.

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close
               
         
close