Opini

Belajar dari Lebah

JUMAT lalu (21/5) saya berkunjung lagi ke Desa Banjarsari Wetan. Ke mana lagi kalau bukan ke tempat budi daya lebah madu milik Kiai Sunardi itu. Mungkin sudah lebih dari tiga kali saya main ke sana. Tempat budi daya lebah madu milik Kiai Sunardi memang saya jadikan media pembelajaran. Kepala OPD sudah pernah ke sana. Nah, yang Jumat kemarin itu gantian kepala SD dan SMP yang saya ajak. Itu sengaja karena saya ingin sekolah menjadi pilot project pembudidayaan lebah madu. Juga sebagai media pembelajaran tentunya.

Saya ingin setiap sekolah memiliki budi daya lebah madu. Kondisinya memungkinkan. Semua sekolah di Kota Madiun sudah adiwiyata. Bahkan, beberapa di antaranya sudah adiwiyata mandiri. Sudah berwawasan lingkungan dengan tingkatan paling tinggi. Tidak hanya sudah berbasis lingkungan. Tapi sudah mampu membina sekolah lain untuk juga berpredikat adiwiyata. Namanya adiwiyata tentu memiliki banyak tanaman. Bahkan, di sekolah adiwiyata harus memiliki kebun dan hutan di lingkungannya. Itu bisa menjadi vegetasi untuk lebah.

Sering saya katakan, satu pembangunan harus memiliki lebih dari satu manfaat. Kebun dan hutan di lingkungan sekolah memang untuk penghijauan. Selain itu, fungsi keindahan dan juga suplai oksigen. Namun, tentunya tidak cukup sampai di situ. Harus ada fungsi lain. Budi daya lebah saya rasa tepat. Lingkungan sekolah berbasis adiwiyata tentu sejalan dengan konsep budi daya lebah ini. Ada banyak suplai makanan alami untuk lebah tadi. Karenanya, saya ingin sekolah menjadi pilot project budi daya ini.

Hasilnya tidak harus banyak. Toh bukan untuk dijual. Madu yang dihasilkan bisa untuk konsumsi warga sekolah. Khususnya anak-anak. Siapa sih yang tak kenal manfaat baik madu. Yang buatan alam memang tidak perlu diragukan khasiatnya. Bahkan, tren kesehatan sekarang ini lebih ke yang alami. Kerennya, back to nature. Kalau dikaitkan dengan pandemi Covid-19, madu bisa menjadi penambah imun. Pembelajaran tatap muka mungkin akan kembali digelar dalam waktu dekat. Anak-anak bisa minum madu dulu sebelum masuk kelas. Tidak harus beli. Kita produksi sendiri.

Budi daya ini juga bisa sebagai media pembelajaran. Ada banyak pembelajaran karakter di sana. Untuk yang di tingkat dasar bisa mengambil pelajaran karakter gotong royong, kerja sama, kerja keras, organisasi, dan lain sebagainya. Kita tahu lebah merupakan hewan berkoloni. Dalam satu sarang ada ratusan ribu lebah dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Koloni lebah secara garis besar terbagi dalam dua jenis. Yakni, ratu dan prajurit. Nah, jenis prajurit ini terbagi lagi dalam beberapa job desk. Yakni, penjaga, pekerja, perawat telur, dan perawat anakan lebah.

Penjaga biasanya lebah jantan. Lebah jenis ini tak jauh dari sarang. Sesuai tugasnya, lebah ini cenderung berada di pintu masuk sarang. Lebah penjaga akan langsung keluar ketika ada yang mengusik sarang dan berupaya menggangu sang pengusik. Baik itu dari musuh alami maupun manusia. Jadi, kalau ada yang menyengat, besar kemungkinan itu lebah penjaga. Karena lebah penjaga adalah jantan, dia juga bertugas untuk membuahi ratu.

Kemudian ada lebah pekerja yang merupakan anggota terbesar dalam satu koloni. Mereka bertugas mencari sari bunga untuk kemudian dijadikan madu. Lebah pekerja juga bertugas membuat propolis sebagai tempat madu tersebut. Lebah pekerja ini bisa menjangkau radius ratusan meter untuk mencari makanan. Sedangkan lebah perawat telur maupun anakan memiliki tugas seperti namanya.

Ratu lebah bertugas untuk meregenerasi anggota koloni. Termasuk dirinya sendiri. Hanya ada satu ratu dalam koloni. Ratu lebah akan menghasilkan satu telur calon ratu tiap satu atau dua tahun sekali. Telur ratu setelah menetas akan mencari sarang baru dan diikuti beberapa anggota koloni. Mereka membentuk koloni baru. Ratu lebah yang masih muda memang bisa terbang. Namun, setelah bertelur, ratu lebah tidak bisa terbang lagi dan menetap dalam sarang. Ratu lebah muda bisa jadi tak mencari sarang baru karena akan menggantikan ratu lama dalam koloni tersebut. Artinya, regenerasi terus berjalan dan akan terus produktif selagi vegetasi juga terjaga.

Beginilah harusnya satu sistem organisasi. Mereka disiplin sesuai tugas masing-masing. Lebah juga teamwork yang solid serta pekerja keras. Anak-anak bisa dikenalkan karakter-karakter itu dari sebuah budi daya lebah. Untuk anak SMP juga bisa ditambahkan karakter wirausaha. Kita tahu kalau lebah ini banyak peminatnya dan mahal. Anak-anak bisa dikenalkan berbisnis dari ini sejak dini. Bayangkan ada berapa banyak pelajaran yang dapat kita petik. Generasi masa depan kita ini juga bisa belajar bagaimana sebuah ekosistem alam bekerja. Dengan begitu, mereka akan mencintai alamnya. Mencintai lingkungannya. Belajar tidak perlu susah. Kita bisa belajar dari lebah. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button