Bupati Menulis

Bekerja Baik di Bulan Puasa

Oleh: Suprawoto

Bupati Magetan

BIASANYA kita menjadi maklum, bila ada ASN/PNS terlambat ke kantor karena menjalankan ibadah puasa. Demikian juga pulang lebih awal karena akan menyiapkan hidangan untuk berbuka puasa bersama keluarga di rumah.

Demikian juga pelayanan publik menjadi lebih lamban karena pegawainya menjalankan ibadah puasa. Meskipun ASN sebenarnya sudah mendapat korting masuk lebih siang dan pulang lebih awal (di Magetan, hari Senin samapai dengan Kamis masuk jam 07.30 sampai dengan jam 14.30, hari Jumat jam 06.30 sampai dengan jam 11.30). Tanpa istirahat.

Mungkin karena kita memiliki kebiasaan menunda sesuatu, dengan berlindung kepada subuah peristiwa yang mungkin bisa dimaklumi. Dalam negosiasi masalah bisnis misalnya, kita menunggu setelah pilihan presiden (pilpres). Mungkin bisa dimaklumi bila menyangkut bisnis besar dan perusahaan yang akan didirikan sangat rentan terhadap sebuah kebijakan pemerintah atau rezim.

Jika negoisasi bisnis besar ditunda masih bisa diterima. Namun bila ditundanya sebuah pertemuan arisan atau reuni gara-gara pilpres ini betul-betul mengherankan. Apakah mungkin demikian ketakutannya terhadap pengkotak-kotakan dukungan menyebabkan tertundanya acara arisan atau reuni tersebut.

Demikian juga kita sering menunda sesuatu keputusan misal setelah Lebaran. Atau melegitimasi sebuah perbuatan tidak terpuji untuk lebaran. Kita sering dengar pembicaraan di kalangan pegawai, “Gimana ada tidak untuk lebarannya.”

Malah mungkin masih ada anggapan di kalangan ASN sebuah penilaian yang namanya pimpinan baik itu, bila bisa menyediakan tambahan untuk berlebaran. Tidak pernah berpikir, bahwa pimpinan tidak mungkin menyediakan sesuatu apalagi menyangkut uang negara yang tidak masuk program, atau sebelumnya sudah dianggarkan. Kalau itu dilakukan patut diduga, pasti awal sebuah pelanggaran.

Bukankah selama ini pegawai ASN sudah mendapat tunjangan hari raya (THR). Demikian juga ketika anak sekolah mendapat gaji ke-13. Namun, untuk menghilangkan sebuah kebiasaan itu perlu waktu. Dan, perlu kemauan keras dari semua pihak. Baik pimpinan maupun masyarakat itu sendiri.

Yang menyangkut masyarakat itu, biasanya bersangkut paut dengan pelayanan publik. Di pelayanan publik, suka tidak suka masih ada saja upaya-upaya dari kedua belah pihak baik itu birokrasi pelayanan dan masyarakat itu sendiri untuk melakukan hal yang diluar prosedur. Dalihnya kemudian malah untuk memenuhi hari raya nanti. Untuk mudik atau keperluan hari raya yang lain.

Yang justru kita sesalkan, bila ada bentuk penyimpangan, atau bekerja tidak sungguh bila dilakukan pada bulan puasa. Bukankah Allah SWT telah menjanjikan amalan-amalan di bulan Ramadan pahalanya akan dilipatgandakan. Apakah kemudian kita tidak masuk dalam golongan orang yang rugi jika tidak berlomba melaksanakan kebaikan dibulan suci ini.

Dalam firmanNya, surat Al Ashr,” Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3). Salah satu agar kita tidak masuk dalam golongan orang yang rugi yaitu selalu mengerjakan amal soleh dan saling menasehati atau mengingatkan tentang kebaikan.

Apalagi di bulan Ramadan, sudah selayaknya ASN berkesempatan memperbanyak amal soleh dengan bekerja sebaik-baiknya. Yang bertugas di pelayanan seperti perijinan, pelayanan kesehatan baik di puskesmas maupun rumah sakit melakukan pelayanan yang sebaik-baiknya.

Demikian pula bagi masyarakat untuk mengingatkan ASN bekerja dengan baik bukan sebaliknya justru didorong untuk berbuat salah, hanya karena ingin untung sesaat. Tentu kita semua berharap semakin sering kita melewati bulan Ramadhan kita mestinya akan semakin baik. Semakin bertambah masa kerja kita, tentu akan semakin sering kita melalui bulan Ramadhan dan harapannya bekerja semakin baik.

Sebagaimana HR Ahmad, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” Mengapa kita tidak melakukan yang terbaik. Agar kita tidak masuk dalam golongan orang yang rugi. Apalagi kita semua khususnya ASN, lahir di Magetan, sekolah di Magetan, bekerja di Magetan, menikah dapat orang Magetan. Dan Insya Allah kalau suatu saat dipanggil Allah akan dikuburkan di Magetan.

Coba berikan, alasan untuk siapapun, apa yang kemudian menjadi kita maklum kalau tidak berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan. Oleh sebab itu, di bulan penuh berkah dan ampunan ini mari kita berlomba-lomba beramal soleh dengan cara bekerja yang baik. Agar kita tidak termasuk orang yang rugi. Aamiin. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button